Tuesday, August 19, 2008



Sempurna....


Malam bulan berpayung jingga….
P
ersiapan pernikahanku telah menghampiri 90%, tinggal melengkapinya pada puncak acara nanti, aku bernapas lega, kerja kerasku selama hampir tiga bulan akan terbayar dengan ‘’kesempurnaan’’ pestaku nanti. Aku seorang perencana, pemikiranku matang dalam membuat rencana ke depan, bagaimana mungkin aku tidak menerapkan keahlianku itu dalam menghadapi pernikahanku sendiri, pernikahan yang telah lama kuidamkan. Setelah ini tidak akan ada lagi pertanyaan seputar “mengapa melajang’’ yang biasanya ditujukan abadi untukku. Sebentar lagi aku akan menjadi -wanita menikah; nyonya- Aku menutup mata, sekali lagi membayangkan indahnya perhelatan pestaku. Terbayang komentar mereka ketika pertama kali undangan pernikahanku berada ditangan mereka…. terbayang decak kagum para tamu yang akan memuji angel-angel dari setiap sudut foto pra-wedding-ku… aku tersenyum puas…puas sekali…

Jam berdentang 12 kali… sebelum mimpi membawaku terbang, aku mengingat lagi secara detail apa yang belum ada untuk melengkapi semua itu, ku list satu per satu dengan perlahan dalam virtual memory di kepalaku dalam bentuk tabel matriks, item yang telah rampung ku tandai dengan mengkode kata ‘’oke’’. Undangan… 1000 undangan tinggal disebar, toh aku sudah menghitung secara matang bahwa undangan itu akan tiba pada saat yang tepat, tidak kepagian juga tidak terlambat. Gedung… aku sudah meminta mama membayar DP 50%, walaupun persyaratan pemilik gedung boleh membayar DP 30%. Gedung itu, terbayang kemewahannya dikepalaku, untuk menyewanya sebagian besar orang masih harus memikirkannya, tapi toh dengan kekuatan mama aku bisa. Catering … kupesan secara buffet dengan berbagai macam menu, mulai makanan khas tradisional sampai menu makanan dari luar seperti Italia, Jepang dan Cina. Sejak dulu aku mengimpikan akan memanjakan lidah tamu pada pesta pernikahanku, dan ini saatnya. Aku juga menyediakan menu bagi mereka yang sedang berdiet, yang ku pesan secara khusus.

Bagi para tamu kecilku??? tak sedikit tamu yang kuperkirakan membawa anak kecil mereka dalam pestaku, tak mengapa, toh mereka adalah anak-anak dari teman-teman dekatku juga anak-anak kerabat dan keluarga besar. Don’t worry baby, dan aku memang termasuk kategori penyayang anak-anak. Untuk mereka, aku menyediakan space dilantai dasar gedung, walau tak besar, namun dapat menampung papan luncuran mini, rumah-rumahan mobil, juga ayunan mungil. Ya… anak-anak itu tak kan sempat merecoki pestaku, karena mereka akan sibuk sendiri dengan fasilitas yang kusediakan termasuk sekotak permen yang akan diberikan pada mereka…mm…. perfect.

Penataan ruang , sebagai perencana, aku menerapkan “Ruang Terbuka Hijau” pada ruang gedung. Dipestaku aku ingin mensukeseskan program pemerintah tentang RTH. Pelaminan tempatku berdiri nanti didesain dengan konsep minimalis, dimana dilatar belakangi oleh bunga-bunga mawar hidup. Sedang di depan pelamainan, sebuah air mancur mungil tertata apik, dilengkapi dengan bunga teratai dan beberapa tumbuhan hijau.. cantik sekali. Di sudut kiri gedung ku sulap menjadi semacam cafĂ© kecil untuk para tamu lelaki yang ingin menikmati kopi sambil berkeliling mengitari kolam ikan kecil yang memanjang sepanjang hall menuju pelaminan…

Para pagar betis dan penari??? It’s oke… atas kekuatan mama, aku telah meminta disediakan 24 pagar betis 12 laki-laki dan 12 wanita yang semuanya berusia belasan, tugas mereka sangat mudah, setelah mengiringku ke pelaminan mengikuti tarian penjemput tamu, mereka akan berbaris rapi menanti kehadiran para tamu dengan senyum simetris yang ramah. Souvenir… sebuah kardus besar telah tiba sebulan lalu yang kupesan khusus dari Bali, nantinya setiap tamu akan menerima sekotak suvenir yang didalamnya berisi ragam pernik mungil; kipas, tempat lilin, bingkai foto mungil, sabun, gantungan kunci dan aroma terapi dan semuanya tertulis nama dan tanggal pernikahanku.
Tak sia-sia, mereka mengelariku dengan si "Nona Perfect", tak apa, karena itulah aku. Ku buat semantap mungkin perhelatan pestaku, ku rancang se-unik mungkin, di mana orang-orang hanya akan mendapatkannya di pestaku, atau setidaknya pestaku menjadi yang pertama. Aku tidak ingin mengecewakan mereka yang telah bersedia menghadiri pestaku. Di sudut kanan dekorasi gedung, aku merancang sebuah perpustakaan mungil yang didepannya terpajang beberapa foto praweddingku dan di dinding belakangnya tertata rapi sejumlah buku bertema mamasuki mahligai rumah tangga, dan bukan hanya itu, sejumlah buku fiksi kategori best seller, kupindahkan dari koleksi pribadiku ke gedung, Novel Ayat-Ayat Cinta, juga kupajang disana. Ada sepasang kursi sofa, untuk para tamu yang menyempatkan diri membaca.

Aku kembali memantapkan prosesi pestaku, para tamu akan dijemput oleh para panitia dan para pagar betis, tentu dengan senyum ramah. Remaja putri akan menyodorkan sekotak suvenir pada setiap tamu yang datang begitu mereka mendaftarkan namanya sebagai tamu undangan, ups… itu sudah sangat biasa dan hampir ada pada setiap pesta pernikahan. Pembedanya, di pestaku, setiap tamu yang telah menerima sekotak souvenir, akan disematkan pada busana mereka setangkai bunga rose imitasi mungil, berwarna pink muda diikat pita merah, cantik sekali. Dan tak mau kalah dengan ajang Academi Award, sebelum memasuki ruangan pesta, setiap tamu dan pasangannya segera akan di foto dengan kamera Polaroid, ide ini kudapat untuk menghindari kebosanan dari tamu ketika sedang mengantri. Hasiln fotonya dapat langsung mereka ambil saat itu juga. Dengan latar belakang canvas bertema laut biru saat matahari akan tenggelam, romantis…, aku yakin tak satupun tamu yang menolak satu service ala pestaku ini. Apalagi…. Apalagi… yang tertinggal… aku menutup mata mencari setitik celah yang dapat merusak kesempurnaan pestaku…..
Malam bulan berpayung jingga….
Langit malam hitam pekat menggantung, membawa angin masuk dalam ruang kamarku, kamar pengantinku. Kamar yang sudah sebulan penuh beraroma wangi melati. Kamar yang telah kudesain dengan warna putih gading memenuhi setiap sudut ruang. Kamar yang disudut kanan telah kusiapkan sebuah sofa empuk yang tepat menghadap taman kecil di beranda kamar. Dan atas kekuatan mama, aku telah mengekspansi luas kamar ke arah belakang, dan menyulapnya menjadi sebuah kolam renang kecil yang cukup untuk berdua. Kamar yang akan menjadi saksi malam-malam hangat pengantinku, ah.. aku tak sabar menantinya.

Malam bulan berpayung jingga...
Aku menutup mata menikmati semilir angin yang bertiup lembut, membisikkan padaku satu hal yang luput dari persiapan pesta sempurnaku…. ya hanya satu hal –kecil-; sang mempelai pria….










Monday, August 18, 2008













Kami, Aku dan Mama




Hari ke 210

Hari ke duaratus sepuluh aku mengikuti pengembaraan Mama. Pengembaraan yang seharusnya tidak perlu aku ikuti. Tapi mama memaksaku untuk ikut. Wajib! Harus!. Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku mengikuti mama. Sebagai anak yang berbakti, akupun mengikuti segala kemauan mama setiap hari, pagi hingga malam, malam hingga pagi kembali. Bayangkan!!! Aku mengikuti semua kehendak mama tanpa pernah bisa mengutarakan apa yang menjadi keinginanku.




Tapi sudahlah, aku hanya ingin melihat mama bahagia. Itu saja. Sekali lagi, dengan rela aku mengikutinya. Seperti pagi ini. Mama memaksaku sarapan dengan jus tomat, “ ... aak.... ihh.... aku tidak tahan dengan baunya”, aku ingin memuntahkannya. Tapi mama meminumnya dengan satu kali tegukan. Glek. Aku mengikuti perbuatan mama, meminum jus tomat. Kata mama tomat mengandung anti oksidan yang baik untuk kesehatan. Kulitku akan bagus bila aku rajin meminumnya. Jadi budget untuk menghaluskan kulit tidak terlalu aku butuhkan. Oke... aku setuju.




Selesai sarapan, mama mengajakku menonton televisi. Mama memilih chanel televisi yang menyiarkan berita. Yes... kalau itu aku juga suka. Untuk pilihan acara, aku dan mama mempunyai kesamaan. Kami lebih memilih berita dibanding acara infotainment yang kata mama tidak menambah khasanah pengetahuan. Untuk apa membuang waktu dengan menonton kegiatan hidup orang yang kawin-cerai-berulang tahun-baru resmi pacaran-putus-selingkuhan-ke panti sosial-bersengketa-tertipu-beli mobil baru, untuk apa??? Toh orang biasa juga banyak melakukan hal serupa. Itu siklus hidup yang dapat dialami oleh semua manusia, alamiah, bukan hanya karena mereka artis. Itu alasan mama. Betul juga, tapi aku mengingatkan mama agar jangan menyebut mereka lagi dengan kata “artis”. Aku berbisik pada mama kalau mereka lebih suka disebut sebagai “pekerja seni”.




Hubungan sebab-akibat berlaku, mama tidak mau aku terpengaruh oleh “kegiatan” pekerja seni itu, jadi mama mengajarku untuk selektif memilih acara televisi. Akhirnya, aku banyak mengetahui info mengenai keadaan ekonomi indonesia; makro-mikro, situasi sosial politik baik di Indonesia maupun mancanegara. Lewat berita di televisi aku mengetahui kalau reshuffle kabinet yang dilakukan Perseiden SBY kemarin ditenggarai oleh kinerja menterinya yang katanya kurang bagus pun ada yang mengatakan karena adanya berbagai tekanan. Mama melarangku juga menonton sinetron, katanya sinetron Indonesia sekarang tidak mendidik. Mama lebih suka mengajakku menonton acara musik. Musik dapat menenangkan pikiran, membangkitkan semangat, kata mama.




Minggu yang lalu, sepulang kantor, mama mewajibkanku untuk mengikuti seminar “Mengatasi Keadaan Darurat: Petunjuk Pertolongan Pertama”. Sebenarnya aku kurang menyukai topik itu. Aku tidak terlalu interest dalam bidang tsb. Tapi demi mama, aku mengikutinya. Untung Cuma seminar setengah hari, tapi tetap “menyiksaku”. Untuk membunuh waktu, aku mencatat beberapa point penting bagaimana memberi pertolongan pertama pada orang yang terkena stroke.




“Tidak sadarkan diri. Pernafasan berat. Kelemahan yang secara nyata pada wajah atau lumpuh sebelah badan. Tidak mampu berbicara. Selimuti korban dengan selimut tipis. Jika muntah, putarlah kepala korban ke samping. Jangan berikan obat perangsang atau makanan dan minuman apapun. Segera bawa ke dokter atau panggil ambulans....”

Aku meletakkan penaku. “Om Wim, adik mama dua tahun yang lalu meninggal karena terserang stroke, dan saat itu tidak ada satupun dari keluarga yang dapat mengambil tindakan darurat yang menolong. Semuanya panik, yang berakhir pada melayangnya nyawa adik mama itu. Jadi kita tidak boleh membuat kesalahan kedua kalinya”, mama memberi penjelasan padaku sebelum aku sempat bertanya apa gunanya aku dipaksa ikut pada seminar itu.




Semalam, masih sepulang kantor, mama mengatakan padaku kalau besok sore aku harus ke dokter. Jus tomat dan dokter... bagiku setali tiga uang. Tidak kusukai. Si dokter yang suka berbaju putih itu pasti akan menuliskan sejumlah resep dan harus kuminum setiba dirumah. Dan lagi-lagi aku mengikuti perintah mama untuk meminum obat berbentuk kapsul itu. Tiga kali sehari. Hu...Menyebalkan!!! Sama menyebalkannya dengan dokter itu. Bajunya, always… selalu putih... tidak adakah baju yang berwarna lain di lemarinya ???. Mungkin dokter itu bukan anak yang berbakti pada mamanya. Harusnya ia mencontoh aku. Pakaianku pun ditentukan oleh Mama, seperti pakaianku waktu akan ke dokter. Mama menyuruhku memakai sweater, baju hangat. Udara dingin. Jadi aku harus membekap tubuhku. Tiba di tempat prakteknya, aku berniat mengerjai dokter itu, aku diam seribu bahasa ketika dia mau memeriksaku. Mama mengambil alih, menyuruhku berbicara. Aku masih malas untuk berbicara padanya, aku hanya bergeser sedikit. Dan aku seperti ingin menonjok mukanya, kalau tidak dilarang mama. Dia menyuntikku. “Auu!!!” aku terpekik. Tapi dia malah bertanya, “Tidak sakit kan ???...” ihhh.... si jelek berbaju putih itu tersenyum. Sepulang dari dokter, aku dan mama kelelahan dan kami tidur hingga keesokan paginya.




Hari ke 217



Aku kembali mengikuti rutinitas mama, sang pekerja keras. Pagi ini mama harus mengikuti meeting di sebuah hotel. Setelah itu mama harus menemani rombongan Mr. Frank, tamu asal Australia yang berkunjung di kantor mama untuk melihat kelayakan perusahaan mama sebagai kantor penghubung mereka. Kali ini aku sangat malas untuk ikut. Aku ingin pergi dan berkumpul dengan teman-temanku sendiri. Setidaknya kami dapat melakukan aktivitas bersama, shopping misalnya. Tapi mama sudah me-warning kalau dana belanja sesuatu yang tidak penting harus ditekan.
“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan” mama berkata seperti seorang dosen. Kuta tau mama pernah mempunyai kekasih seorang dosen, yang akhirnya berakhir karena dosen itu harus menikahi gadis pilihan orang tuanya. ST. Nurbaya sekali... tapi sudahlah... toh masa hubungan mereka juga sudah berakhir.
“Kamu harus rajin menabung, biaya yang akan kamu perlukan tidak sedikit, teman-temanmu juga belum pada datang....” mama melanjutkan.
“Iyalah mama, aku juga mengerti, tapi hari ini aku ingin beraktivitas sendiri, aku ingin menonton konsernya Peterpan. Aku ingin melihat dari dekat si Ariel Peterpan itu. Mama, please.... “ aku merengek.
“Hus.... di sana orang bejibun, panas dan bau. Orang-orang akan saling mendorong, saling sikut. Kamu bisa pingsan di sana”
“Mama sekali ini saja....”
“Tidak!, mama akan menggantinya dengan Konser Titi DJ di Plenary Hall JCC minggu depan”.
Aku terdiam. Yang ditawarkan mama barusan sepertinya lebih menjanjikan. Aku tak mau protes lagi, salah-salah mama bisa menarik kembali kebaikan hatinya. Terbayang Titi DJ salah satu penyanyi favoritku menyanyikan lagu “Bahasa Kalbu”. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya minggu depan.




Mama menepati janjinya. Sebuah tiket Konser Titi DJ yang bertajuk Sang Dewi diperlihatkan padaku. VIP-E2, mama menunjukkan tempat kami menonton. Di tempat konser mama bertemu dengan beberapa orang temannya. Kulihat banyak di antara penonton itu adalah para “pekerja seni”. Beberapa diantaranya menyapa mama. Mereka juga menyapaku... “aduh sudah besar ya...” kata salah satu teman mama sambil mengelus kepalaku. Konser berlangsung. Konsep konser yang ditata apik berkombinasi cantik dengan iringan musik dan tata lampu. Tohpati berhasil menjadi Music Director yang memuaskan malam itu. Setidaknya begitu menurut penilaianku. Aku sangat menikmatinya. Juga mama. Kulihat mama sangat meresapi lagu Sang Dewi.




Hari ke 224



Hari ini aku dan mama memulai hari dengan jogging disekitar kompleks rumah kami. Kami tinggal di sebuah perumahan yang asri, teduh dan bersih. Setiap rumah tidak mempunyai pagar, hanya dibatasi oleh pepohonan dan bunga yang ditata dengan sangat cantik. Walaupun tak berpagar tapi rumah kami tetap aman, karena satpam yang berjaga di pintu barat dan timur di kompleks kami akan “menyaring” setiap tamu yang masuk.
Bumi “Persada Hijau” itu nama tempat tinggal kami. Sebuah perumahan yang nyaman. Bagaimana tidak nyaman bila harga yang harus penghuninya bayar dipatok mulai 1 M ke atas. Dan mamaku mampu membeli satu unit, dengan tipe yang harganya masih di atas harga yang dipatok itu. Mamaku punya banyak uang ???.... he...he... tidak juga. Eh...jangan salah, rumah itu adalah hadiah kakekku, papanya mama. Yang kutau kakekku bukan orang-orang pada umumnya. Orang menyebut kakekku dengan pengusaha sukses, mobilnya lebih dari empat, ku kira. Yang beliau kendarai sekarang adalah keluaran terbaru dari pabrik mobilnya Nissan. Warna merah, warna kesukaanku, kuharap suatu waktu kakek mewarisi mobil itu untukku, bukan untuk mama. But the way, kakekku bukan kakek tua yang sombong dan angkuh. Kakek sangat menyayangi mamaku. Juga aku.....mungkin.




Kata mama, hari ini kami harus menghadiri seminar di Balai Kartini, Sulawesi Expo. Mama menjelaskan kalau Pulau Sulawesi itu kaya dengan hasil bumi. Perusahaan mama tertarik untuk menjadi investor di salah satu Propinsi di Sulawesi, mungkin di Sulawesi Tenggara, di Pulau Buton. Salah satu penghasil aspal di Indonesia. Oleh perusahaannya mama ditugaskan untuk mencari informasi yang lebih mendetail tentang pulau itu. Terutama tentang potensi aspalnya.




Aku agak rewel hari ini. Gubernur Gorontalo, yang kata mama dulu pernah menjadi menteri, masih mempresentasikan komoditi jagung-nya yang menjadi andalan mereka. Tapi aku haus, aku ingin menyantap es cream cokelat bertabur kacang mete. Mama memintaku tenang, tapi aku membandel. Ku tau mama ingin sekali menghardikku, tapi mama pasti malu mengeluarkan suara keras ditengah para peserta seminar. Aku memanfaatkan kesempatan itu. Aku terus merengek dan meminta. Mama mengalah dan keluar dari ruang seminar. Mama duduk di kursi yang empuk. Diteleponnya Kasmir, sopirnya yang menunggu di luar gedung. Kudengar mama menyuruh Kasmir membeli es cream cokelat bertabur kacang mete. “Kasmir, ingat es cream yang cokelat yang ada kacang metenya..... beli dua kotak”. “Sabar... Kasmir baru pergi membelikan es cream-mu” mama menjewer kupingku. Tapi dengan penuh kasih sayang.
Dua hari kemudian, sepulang dari menghadiri sebuah pertemuan, kudapati mama sibuk menekan beberapa nomor di hpnya. Nada sambung terdengar, sebuah suara berat menyusul. Aku kurang bisa menangkap apa yang mereka obrolkan, mama berbicara dengan bahasa spanyol. Aku belum belum begitu tahu bahasa spanyol, karena mama belum mengajariku. Kalau bahasa inggris, ya... aku sudah biasa bercakap-cakap dengan mama dengan menggunakan bahasa yang banyak yes or no-nya itu. Mungkin mama sengaja, mama tidak mau aku menguping pembicaraan mereka. Aku juga tidak ambil pusing. Itu urusan mama dengan orang bersuara berat itu. “Brengsek.....” akhirnya mama “pulang” dari Spanyol, mama mengucapkan kata itu dengan ekspresi marah yang tidak bisa disembunyikan. Aku yang sedari tadi diam menenangkan mama. “Mama..... ada apa ???” tanyaku seolah akulah yang menjadi mama. Mama tidak menjawab, tapi wajah kecut mama membuatku menjadi turut tidak nyaman. Aku tidak bertanya lagi.




Pukul 11.30 malam. Aku mengantuk. Tapi kulihat mama mendandani dirinya di depan meja rias. Parfum keluar Dior terbaru-Dior Addict- berwarna pink yang baru dibelinya kemarin disemprotkan di seluruh badannya. Mmmmm wangi, mengantukku hilang.
“Mama mau kemana ?”
“Mau mencari udara segar, capek mama seharian di kantor”
“Ya... tapi mama....” aku mulai memelas.
“Jangan banyak tingkah, mama perlu menyantaikan diri” mama berkata ketus. Kudengar mama memanggil Kasmir, menyuruhnya menyiapkan mobil. Berarti mama mau menyetir sendiri mobilnya.
“Mama, besok saja mama keluar...” kataku
“Besok, masalah lain yang mama harus hadapi....,” mama menyapukan Dior Addict Gloss pada bibirnya. Dan menyapukan Mascara pada bulu matanya, lalu dijepit. Bulu mata mama menjadi lebih lentik. Mama lalu mengganti bajunya dengan baju terusan berwarna cokelat keluaran Mango. Jaket hitam keluaran Esprit di raihnya juga. Mama berdiri dan mengambil salah satu koleksi tasnya. Tas warna kuning berpadu hijau buatan Celine dipilihnya. Mama kemudian memasang jam tangan Coccinelle yang berwarna senada dengan bajunya, terakhir memakai sepatu model flats, Petty Fit tertukis di alas sepatu itu.




Mama siap berangkat. Aku mengamati penampilan mama. Aku teringat kata-kata mama: “Bedakan antara kebutuhan dan keinginan”. “Kamu harus rajin menabung, biaya yang akan kamu perlukan tidak sedikit...” Mama tidak adil, aku protes namun tak bersuara. Apakah semua barang-barang milik mama itu adalah sebuah kebutuhan ??? bukan keinginan mama yang diwujudkannya sebagai kebutuhan ??? Mama menyuruhku rajin menabung, sementara semua barang yang dimilikinya rata-rata berharga tinggi. “Tidak usah mengomel begitu.... mama mendapat dana cukup dari kakekmu”, mama menebak protesku.
“Aku tak mau ikut” kataku sambil cemberut.
“Rani, aku menjemputmu setengah jam lagi, awas aku tidak mau menunggumu berdandan oke”, mama menelepon Rani, sahabatnya.
“Mama, aku tidak mau ikut” kuulangi lagi protesku. Lalu mama hanya berkata “ayo” tapi dengan tegas. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi.




Malam itu mama membawa mobilnya pada sebuah cafe. Memasuki ruang cafe aku mulai terbatuk-batuk. Banyak asap rokok. Mama dan Rani menyapa dan disapa oleh beberapa orang yang mereka kenal. Dandanannya rata-rata hampir sama. Kami mengambil tempat disudut, kulihat Rani memesan beberapa makanan dan minuman.
Mama mulai mengobrol bersama Rani. Mama tidak menghiraukan aku. Beberapa pasang mata melihatku. Dan... ya ampun, mama merokok.... “Mama !!!!” aku berkata keras. Tapi tidak diacuhkan oleh mama. Suara musik yang keras membuat mama tidak mendengarkan suaraku. Pesanan mereka datang. Aku berteriak histeris..... mama memesan minuman berkadar alkohol tinggi. Percuma mengingatkan mama. Mama tidak akan mendengarnya. “Teganya mama.....” aku berguman sedih.
Malam itu mama pulang dengan keadaan mabuk. Parmi si tukang masak mama memboyong mama ke kamarnya di lantai dua. Aku mengikut pasrah. Mama tertidur pulas dalam mabuknya.




Hari ke 231



Sudah seminggu ini mama seolah tidak menghiraukanku. Makananku tidak diperhatikannya lagi. Semua makanan yang harus dan pantang sesuai pentunjuk dokter si berbaju putih itu dilanggarnya. Tadi malam jam 10 malam, mama malah mandi dibawah air yang sangat dingin. Juga memandikanku. Padahal di luar hujan turun dengan lebatnya, aku semakin kedinginan.




Kebiasaan mama merokok kambuh lagi. Seperti rel kereta api. Putus sambung-putus sambung. Aku sudah terbatuk-batuk karenanya. Tadi pagi, mama sarapan dengan setengah potong roti kering sisa semalam. Dan aku juga ikut memakannya. Cuma itu yang mama berikan untukku sepanjang pagi hingga siang. Di kantor mama memaksaku meminum kopi pahit. Ih..... mulutku jadi cokelat. Jus tomat-dokter-kopi pahit, semakin menambah perbendaharaan barang-barang yang menyebalkanku. Sorenya aku berpikir mama akan membelikan kentang goreng kesukaanku. Ternyata tidak. Mama masih menganggapku kenyang dengan sepotong roti kering itu.




Hingga jam 10 malam, mama masih belum memberiku makanan lagi. Parti pun tidak bergerak bila tidak ada perintah mama, begitu juga dengan Kasmir. Aku lapar.... tapi apa ???? mama justru meraih sebatang rokoknya lagi.




“Haaa......!!!!!!!.” aku berteriak keras. Alkohol, dibiarkan lapar, asap rokok, mandi malam, kurang tidur....semua itu membuatku kepayahan.... Aku sudah tidak tahan. Aku mengutuk orang yang bersuara berat, di mana mama berbahasa spanyol dengannya. Pasti....pasti dia penyebab semua ini. “Siapa gerangan dia????” Aku berontak.... marah.... aku mau keluar !!!!! kutendang perut mama berkali-kali dengan sekuat tenaga. Aku membolak-balikkan badan sambil meninju-ninju perut mama. Mama memekik kesakitan dan memegang perutnya yang semakin membuncit. Tendangan dan tinjuku dari dalam perut mama membuat perut mama berkontraksi. Mama sekuat tenaga menahan sakit dan memanggil Parti. Parti terkejut bukan kepalang, dikiranya mama mau melahirkan. Aduh !!!!! mama berteriak sangat keras, menahan sakitnya yang kutimbulkan dari dalam perutnya. Mama terjerembab di lantai, tapi aku masih baik-baik saja, toh cairan ketuban melindungiku dari goncangan.
Tiba-tiba aku merasa kasihan pada mama, seharusnya aku tidak berbuat seperti itu pada mama. Aku terenyuh.... aku berhenti menendang dan meninju dari dalam perut mama. Mama kini berbaring tenang di tempat tidurnya. Aku memaki diriku sendiri. Sudah tujuh bulan lebih tujuh hari aku berada dalam rahim mama seharusnya aku lebih bersabar menunggu waktu sembilan bulan sepuluh hari, waktuku untuk melihat dunia. Tinggal 49 hari lagi...




Kurasakan mama membelaiku dengan kasih sayang.... lalu aku meminum susu hangat yang dibuatkan Parti untuk mama, lewat tali pusar yang berhubungan dengan “rumah”ku di perut mama tentunya. Aku menjadi lebih segar, apalagi mama melahap sepiring nasi berlauk ikan dan telur ditambah semangkuk sayur hangat. Nyam...nyam....sedap....mamamia....aku langsung mengisap sari-sarinya yang dikirimkan mama padaku. Aku menjadi lebih bersemangat....bersemangat untuk bertahan 49 hari lagi diperut mama. Setelah itu aku dan mama akan menemui lelaki bersuara berat itu di mana mama berbahasa spanyol dengannya. Dan kami: aku dan mama akan meminta pertanggungjawabannya layaknya seorang laki-laki sejati........

Saturday, August 16, 2008


3 rd Anniversary....

Malam belum terlalu larut, gerimis sisa hujan sore masih terdengar dan membasahi bumi di luar rumah. Aku menghela napas panjang, malam ini hati dan pikiranku seolah diperintah untuk tidak tenang........ dan kutau pasti ini bukan karena pekerjaan di kantor yang dikejar deadline. Ada sejumlah laporan yang harus segera diselesaikan akhir minggu ini, karena minggu depan semua laporan akan dipresentasikan di depan para direksi. Bukan... bukan laporan itu yang membuatku seperti ini, kerja tim didivisiku cukup bisa diandalkan, dan mempresentasikan laporan merupakan keahlian tersendiri bagiku.



Untuk kesekian kalinya aku menghela napas panjang, suatu usaha sia-sia untuk meredamkan rasa hatiku yang sedang berkecamuk. Seperti ombak yang salah arah, seperti mentari yang tak jadi bersinar. Akhirnya harus kuakui, sebab ketidaktenangan ini, hanya satu: pertengkaranku dengan si Tuan Raja itu. Ini sudah malam ketiga kami tidak bertegursapa. Ego kami berdua melebihi puncak gunung Himalaya, toh aku tetap membukakannya pintu setiap dia pulang kantor, walaupun setelah itu aku secepat kilat menuju kamar sebelah, yang kujadikan sebagai “ruang” pelarianku dari si Tuan Raja. Dia pun tidak berusaha untuk menegur atau memberi tanda “damai”. Dan aku, sampai detik ini belum mengharapkan “damai” itu. Ramadhan, lelaki yang sebentar lagi memasuki tahun ketiga menjadi suamiku, pasti tau dan mengerti bagaimana keras kepalanya aku. Ternyata benar kata orang, memulai dan menjalani sebuah pernikahan adalah sebuah perjudian besar. Bahagia dan tidak bahagia tersekat selaput maha tipis.



Sebagian besar orang berpendapat bahwa aku, Amanda, adalah wanita yang paling bahagia, lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang cukup berada. Ketika orang lain yang baru saja meraih gelar sarjana kelimpungan mencari pekerjaan, aku, dengan “licinnya” diterima di salah satu perusahaan atas rekomendasi papa. Memang ada juga yang menyibirku dengan KKN, istilah “basi” di negeri Indonesia ini. Tapi tidak sedikit yang percaya dan angkat topi dengan kemampuanku, apalagi memasuki bulan ketiga bekerja pada perusahaan tersebut, aku berhasil menggaet bebepa berusahaan untuk bergabung pada mega proyek perusahaan kami. Aku pandai bernegosiasi.... melobi....



Aku sendiripun menyangsikan istilah KKN yang ditujukan padaku, karena aku merasa mampu dan bisa. Dan sekali lagi, kutunjukkan “kemampuanku” itu dengan melanjutkan studiku. Beberapa teman kantorku menggeleng, bagaimana aku dapat membagi waktu kuliah dengan tugas-tugas kantor yang segudang. Dan gelengan kepala mereka terjawab ketika kutunjukkan sebuah undangan wisuda di depan mata orang-orang itu. Bangga.... puas.... dan lega bersatu padu. Kutunjukkan siapa diriku. Who i’m..... Setelah delapan belas bulan menggeluti jadwal kuliah yang notebene kujalani setiap malam senin hingga malam jumat.



Aku berambisi untuk menjadi yang terbaik.... semangat maju, yang jelas kuwarisi dari papa, yang hingga detik ini menjadi pria paling berpengaruh dalam karier dan hidupku. Termasuk ketika memilih calon suami, kumasukkan kelebihan papa sebagai salah satu kriteria calon suamiku. Ada beberapa lelaki yang hampir memenuhi kriteria itu, tetapi selalu saja mempunyai nilai minus di mataku.



“Manda, nanti para lelaki itu mengambil langkah seribu darimu, no body perfect .....” ucapan Arin, terngiang kembali ketika aku belum memastikan ya atau tidak atas pinangan seorang Ramadhan. Arin, sahabat sejatiku itu memilih menjadi ibu rumah tangga tulen setelah menjadi istri Agung, seorang analis kredit pada salah satu bank pemerintah. Aku tidak habis pikir mengapa Arin “setega” itu mematahkan cita-citanya sendiri. Sebelum berumah tangga, dia telah menjadi dosen tidak tetap pada salah satu Universitas Negeri di Makassar, dan ketika keinginannya untuk menjadi dosen tetap tinggal selangkah dia memutuskan berhenti. Yang kupikirkan saat itu adalah aku tidak akan bertindak sebodoh Arin bila jodoh telah berpihak padaku.



Akhirnya..... Ramadhan menjadi jawaban siapa pasangan hidupku. Kukenal dia karena dia adalah salah satu kolega bisnis papa. Diusianya yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dariku, dia telah menjadi seorang pengusaha muda yang berhasil. Rumus bagi sosok Ramadhan saat itu adalah nice+smart+bright dan bermasa depan equals is …. nyaris sempurna. Wanita mana yang sanggup menolaknya. Dia jatuh cinta padaku.... dan aku tidak mau munafik....aku telah jatuh cinta padanya kali pertama kami bertemu. Kami saling jatuh cinta. Tak berapa lama perhelatan pernikahan kami digelar secara akbar.... meriah.... seperti kisah dari negeri dongeng, pangeran tampan bertemu putri cantik, bahagia everafter....a great couple.



Aku kembali membolak-balikkan badan, percuma membujuk mataku untuk terpejam. Kudengar di kamar sebelah suara televisi dan ac yang baru saja dinyalakan. Dia sudah datang rupanya. Pagi tadi sebelum berangkat ke kantor aku sempat mengatakan agar ia membawa kunci serep rumah, “kunci yang satu kamu bawa saja”, kataku sedatar mungkin. Kata “kamu” kembali kugunakan sebagai tanda bahwa aku sedang tak senang padanya. Perkataanku pagi tadi dibalasnya dengan sebuah tatapan dalam pada mataku. Aku berusaha tidak membalasnya, aku belum mau berdamai, bila membalas tatapannya berarti sejak pagi tadi “perang teluk” diantara kami sudah berhenti. Tiga hari bagi seorang laki-laki tanpa sex adalah sebuah “beban” berat. Aku tidak mau dia mengalah hanya untuk melepaskan hasrat kelakiannya. Bila kuturuti berarti aku telah membiarkan diriku “teraniaya”. Apa arti seminar-seminar wanita yang rajin kuikuti selama ini. Aku kembali membuka UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Bab III Pasal 5 disitu tertulis:



“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara: (a) kekerasan fisik; (b) kekerasan psikis; (c) kekerasan seksual dan (d) penelataran rumah tangga”

Aku mencernanya, point a,b,c, dan d kucocokkan dengan kondisi yang kini kurasakan. Kekerasan fisik, tidak...bukan... Ramadah tak pernah berlaku kasar sedikitpun apalagi menyakitiku secara fisik. Kekerasan seksual, a big NO .... Ramadhan adalah seorang suami romantis.... aku tersenyum... Penelantaran rumah tangga, bukan pula, Ramadhan bertanggungjawab, segalanya terpenuhi, apalagi ??? Point a,c dan d gugur demi hukum.... Kekerasan psikis.... aku mengulanganya kembali…..kekerasan psikis.... ya... sepertinya...that is right... point b....



“ Manda.... bulan depan ulang tahun ke tiga pernikahan kita....” kata suamiku tiga malam yang lalu sesaat kami selasai makan malam.
“ Iya, aku juga mengingatnya” balasku.
“ Rumah kita sudah saatnya mempunyai penghuni mungil....”
Aku menuju kearahnya, memeluknya..... “ I’m not ready... tahun depan... please... setahun lagi”
“Kamu terlalu terobesisi dengan karirmu, toh sekolahmu sudah kelar apalagi” katanya datar. Kepalaku dielusnya.
“Aku tidak terobsesi, tapi saatnya belum tepat bagiku, ingat komitmen kita sebelum menikah, posisi itu kuimpikan jauh sebelum kita bertemu” aku melepaskan diri dari peluknya.
“Tapi tidak berdosa bila impianmu itu kau ganti....”
“Daeng, aku tidak mau bertengkar...”
“Siapa yang mengajakmu bertengkar?” nada suaranya mulai agak meninggi.
“Kalau Daeng mulai mengungkit masalah itu sama saja artinya dengan ajakan bertengkar Daengkan kan tau rupa jawabanku”, ku balas dengan ketus.
“After that, setelah itu apalagi yang ingin kau wujudkan.... carilah alasanmu malam ini, untuk menunda kehamilanmu di tahun keempat pernikahan kita tahun depan !” katanya berlalu.
“Daeng....” panggilanku tidak terjawab. Kulihat dia beranjak ke teras depan. Aku mendesah panjang, aku malas memulai pertengkaran malam ini, bila menjawab ucapannya tadi. Malam itu kupilih “menginap” di kamar sebelah hingga malam ini. Benar... point b yang terjadi padaku kini. Apakah bukan penyiksaan secara psikis bila mataku tidak bisa terpejam hanya karena memikirkan keinginannya untuk segera mempunyai anak. Aku tertekan.... secara psiskis kuterganggu.
Dua bulan lagi, aku akan dipromosikan sebagai head di divisiku, menggantikan Pa Kuncoro yang menjadi kepala di cabang lain. Tantangannya adalah tupoksi di divisiku mengharuskan aku untuk lebih bekerja ekstra, pikiran tenaga dan waktu jelas lebih banyak harus kucurahkan bila nantinya aku diposisi itu. Menggaet buyer dari mancanegara bukan pekerjaan mudah. Apalagi aku harus memenuhi target. Aku mesti banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Aku sudah memperhitungkan, bila aku hamil, perhatianku akan pecah, antara jabatanku dan bayi yang kukandung. Aku harus memilih. Bila posisi itu kulepas berarti kulepas cita-cita yang kuinginkan. Kusayangkan.... bersusah payah aku meniti karirku dari bawah dan ketika apa yang kuinginkan sudah di depan mataku, semudah itu kulepas ? tak mungkin... tak akan.... Aku mengingat janjiku untuk tidak mengambil keputusan sebodoh Arin. Meskipun sebenarnya aku bisa menjadi wanita yang tidak bekerja, suamiku masih mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun bukan itu yang menjadi alasan. Kepuasaan. Bagiku, bukan saatnya lagi memposisikan diri sebagai the second gender. Suami-istri, laki-laki-perempuan setara. Aku merasa menjadi salah satu pendukung Qasim Amin. Bapak feminis Arab yang melahirkan buku kontroversial, Tahriru al-Mar’ah (Kairo, 1899) dan al-Mar’ah al-Jadidah (Kairo, 1900). Wanita berhak dalam pengembangan dirinya, itu intinya. Mengapa harus “membingkai” diri hanya karena telah berumah tangga. Mematikan potensi diri namanya. Dan aku telah menjatuhkan pilihanku…… jabatan itu. Berarti keinginan suamiku untuk memiliki anak kutunda sampai tahun depan, tidak lama, hanya 12 bulan berjalan, bukankah saat ini waktu berjalan secepat kilat ? waktunya pasti akan datang, hingga aku dapat menyesuaikan diri. Toh aku tidak asal memilih, tak mungkin aku memilih keduanya, aku bukan tipe spekulan…. Bila kujalani bersamaan, bayi dalam kandunganku akan “turut” merasakan beban kerja mamanya. Dan itu akan menyiksanya…. mengganggu proses berkembangnya sebagai manusia. Dan aku tak mau itu terjadi. Anakku harus mendapat perhatian penuh, bukan parsial. Jadi ini belum saatnya. Itulah argumenku…. logis dan masuk akal…. untuk menjawab pertanyaan orang tuaku, mertuaku, saudaraku, keluargaku, teman-temanku dan yang pasti Ramadhan, suamiku. Jawabanku harus sama terhadap mereka. Aku harus konsisten.



Hujan turun lagi, aku menguap. Akhirnya aku mengantuk, kudengar penghuni di kamar sebelah masih beraktivitas, ku tau yang suamiku lalukan. Dia mengaduk gelas kopinya. “Selamat malam tetangga kamar….. “ aku berguman dalam hati, tersenyum.
Aku terlambat bangun, jam 8 kurang 15 menit. Masih tersisa hujan semalam. Namun aku tak perlu bergegas, lounching produk baru dimulai jam 10 nanti. Jarak rumahku ke kantor paling lambat 40 menit, bila macet bisa sampai 50 menit. Macet di Makassar masih jauh lebih “ramah” dibanding Jakarta. I have any time…. Yang jelas suamiku pasti sudah berangkat. Pagi ini dia harus memimpin rapat di kantornya. Tiba-tiba aku merindukannya. Sarapan apa dia ??? kupanggil Salma, pembantuku.



“Salma.…Puang Ramadhan sarapan apa sebelum ke kantor ?”
“Nasi goreng Puang”
“Tidak pedis ji ?” aku baru teringat kalau suamiku harus menghindari makanan yang pedis-pedis, lambungnya bisa terganggu.
“Tidak puang, tadi puang laki-laki minta di gorengkan telur” jawab Salma dengan akses daerah asalnya yang masih kental.
“Ya sudah, tolong buatkan roti isi, tomatnya dua iris” kataku mengingatkan.
“Iye puang…..”
Telepon berdering, “Hallo….” sapaku, “Assalamu alaikum Nak Manda, belum ki ke kantor Nak ?” suara Petta Ria, mertua perempuanku terdengar halus. Suara lembut mertua perempuanku itu sangat menggambarkan ciri khasnya, halus dan lembut.


“Baru mau berangkat Petta” balasku.
“Pulang kantor sebentar singgahki di rumah Nak, ada yang mau saya tanyakan”
“Iye… apa itu Petta ? mungkin saya pulang agak malam Petta … “
“Di rumah saja kita bicarakan Nak, ndak apa-apa ji kita datang malam, nanti Daengmu suruh jemput, hati-hati ki ke kantor Nak. Assalamu Alaikum” Mertuaku mengakhiri pembicaraan, sebelum aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut. Apalagi ini ???
Hujan turun lagi, aku terpaksa memarkir mobil di depan pagar rumah mertuaku, karena di garasi kulihat mobil suamiku sudah terparkir lebih dulu. Sudah di sini pula dia rupanya. Dan aku baru mengingat smsnya siang tadi yang tidak kubalas, kalau dia akan ke sana lebih dulu. Pukul 8 malam tepat. Aku hanya terlambat dua puluh menit dari waktu yang kujanjikan. “Assalamu alalaikum….” aku menyapa dan segera masuk. “Alaikum salam…” mertuaku menyambut, aku mencium tangannya kebiasaan yang ditularkan mama padaku. “Itu salah satu bentuk bakti kepada orang tua”, pesan mama yang tersimpan rapi dalam hatiku.
Petta Arsya, mertua laki-lakiku, Daeng Bahar lagoku, suami dari Intan, adik perempuan suamiku dan suamiku sedang makan bersama. Aroma bumbu ikan bakar bolu yang kuyakin buatan mertuaku membuatku berselera untuk makan. “Makan ki Ka Manda….” Intan memberiku sebuah piring sambil tetap melahap ikan bakar yang terhidang didepannya. “Mari bergabung…..” balasku sambil mengambil tempat disamping suamiku. “Makan ki Daeng…. jangki malu-malu…..” aku mengelus punggung suamiku yang sedari tadi menatapku. Di rumah mertua, lagi makan pula, aku harus “berdamai” pada suamiku. Dan memang sudah menjadi kesepakatan kami kalau masalah rumah tangga tak perlu “se-Indonesia raya” mengetahuinya.
Acara makan malam semalam menjadi dewa menyelamat “perang” kali ini meskipun tanpa kata sepakat: suamiku menyetujui pilihanku atau aku mengalah untuknya. Tergantung ! namun hal ini relatif lebih aman. Kami membicarakan hal-hal lain. Tapi tunggu…. Aku baru tersadar dan teringat, kedatanganku semalam di rumah mertuaku adalah karena mertua perempuanku itu mengatakan kalau akan menanyakan sesuatu padaku, tapi sampai aku dan suamiku berpamitan, mertuaku tak mengatakan apapun. Beliau lupa barangkali. Aku hanya berdoa agar apa yang sebenarnya ingin ditanyakan itu tidak berhubungan dengan wilayah “domestik” rumah tanggaku. Aku kurang suka bila diinterverensi.



Pagi ini, aku berangkat ke kantor bersama suamiku, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, kami baru berbaikan …. dan sekalian menghemat BBM. Diperjalanan suamiku banyak menggodaku, seperti kebiasaannya. Sesekali kulihat dia membalas sms yang masuk. Raut wajahnya kulihat sempat berkerut membaca sebuah pesan pendek yang masuk. Dibalasnya. Hp suamiku berbunyi dua kali, tanda pesan baru diterima sebanyak dua kali. Aku masih mengamati suamiku, pesan pendek yang baru masuk dibalas kembali. “Siapa ?” kataku akhirnya. “Orang kantor” jawabnya pendek. “Kita isi bensin dulu” katanya seraya membelokkan mobil pada SPBU di didaerah kota, sekitar lima menit dari kantorku. Hpnya di tinggal ketika ia keluar dari mobil untuk memastikan jumlah liter bensin yang masuk. Hari gini…. bensin mahal, sepertinya kita mesti ekstra teliti. Entah mengapa tiba-tiba terbersit di hatiku untuk mengecek sms yang masuk tadi. Apa salahnya ? toh aku dapat membacanya dengan cepat. Tapi niatku menjadi urung, manakala aku teringat kalau aku tidak mau bila suamiku membaca atau mengutak-atik hpku tanpa seizinku. Aku pun tak boleh demikian terhadapnya. Dan itu sudah kami lakukan sejak masih pacaran dulu. Dompet, hp dan e-mail adalah barang privacy, tak tergugat….. tanpa seizin pemiliknya, meskipun kepunyaan pasangan masing-masing. Untuk urusan yang seperti itu kami adalah pasangan yang sangat demokratis. So long so far, kami merasa baik-baik saja.
Aku tiba di kantorku. Sebelum turun aku mengelus lembut punggung suamiku. Kupraktekkan artikel bagaimana membuat “salam perpisahan” yang berkesan bagi pasangan yang kubaca pada sebuah majalah wanita.



“Buatlah tindakan-tindakan kecil namun berarti bagi pasangan anda ketika akan berpisah atau mengantarnya berangkat kerja. Anda dapat memberinya kecupan, mengelus punggung, memeluknya atau tindakan-tindakan lain yang dapat anda ciptakan sendiri. Gerakan penuh kasih sayang ini akan membuat suami atau pasangan anda tidak betah berlama-lama untuk segera berjumpa dengan anda…”

Begitu saran singkat dari artikel itu. Apa salahnya dipraktekkan. Aku membenarkan artikel itu. Suamiku membalas dengan tambahan mengelus dan mengecup pipiku. Dia memang termasuk suami romantis, dan tidak perlu terkena poin c dalam pasal 5 itu…. ha….ha…. aku berguman dan tersenyum melambaikan tangan kepadanya. Suamiku membalas dan masih sempat kulihat dia melakukan satu aktivitas: ber-sms.



Jam 12 siang. Aku sengaja mengambil waktu makan siang lebih awal, suamiku akan menjemput sebentar lagi. Dia ingin makan konro kesukaannya. Lima menit aku membereskan dandanan menunggu kabar darinya. Hpku berdering, my lovely husband, terpampang di layar hpku. “Iya Daeng, di manaki sekarang?”,
“Manda, kita tidak bisa makan siang bersama, rapatku hanya di break untuk makan siang, setelah itu langsung dilanjutkan , tamu dari pusat harus pulang sore ini, laporan harus segera dimasukkan ” katanya.
“Harusnya si Budiman itu mewakiliku dari kemarin”, ucapnya lagi setengah menggerutu.
Aku agak kecewa tapi kerjaan suamiku harus kuutamakan. “Jadi Daeng makan di mana?”
“Makan di kantor, bersama mereka, tamu dari Jakarta”
“Ya, sudah…. saya makan di kantin kantor saja”
“Oke…. “
“Eh Daeng, jangan makan yang berminyak” aku mengingatkan.
“Iye puang….” balasnya.
Jam 12 lebih sepuluh menit, aku urung untuk makan siang lebih awal. Jam satu siang saja, sekalian makan bersama teman-teman yang lain, lebih rame. Aku memutuskan untuk kembali membrowsing internet, masih ada data yang harus kucari, barusan aku membaca di koran kalau satu perusahaan property besar di Jakarta milik salah satu warga keturunan terkenal berencana membangun property yang sama di Makassar. Berarti yang pertama di kota angin mamiri ini. Prospek yang cerah bagi perusahaanku. Aku harus mencari informasi sebanyak-banyaknya agar perusahaanku bisa terjaring menjadi mitranya. Saat ini perusahaan kami juga sudah melebarkan sayapnya pada bisnis property.



Mesin pencari google kugunakan untuk membantuku. Property. Kuketik kata itu. Searching… mencari, dan dalam hitungan detik kuperoleh bermacam informasi yang berhubungan dengan property. Aku men-save beberapa informasi yang kuanggap penting. Cukup, aku masih dapat melanjutkan setelah makan siang. Ku lihat Dinar, melambaikan tangannya kearahku. “ten minute again….”, katanya. Kulihat dia masih sibuk menyusun laporan pertanggungjawaban keuangan untuk bulan ini. “Oke, aku menunggu” balasku.



Sepuluh menit menunggu Dinar, sayang kubuang waktu begitu saja. Aku masuk ke yahoo.com, mengecek e-mailku, mungkin ada e-mail baru yang masuk. Sejak dua hari yang lalu aku belum sempat membuka e-mail. Welcome Amanda !, You have 9 unread messages. Inbox (5), Bulk (4). Aku segera membuka kotak inbox. Dua e-mail berupa penawaran program anti virus baru. Aku tidak berminat membacanya, segera kudelete. Satu e-mail dari wedding organizer, ku buka. Berupa undangan menghadiri pameran foto pengantin terbaru di Jakarta minggu depan. Aku tidak antusias lagi. Masa berburu informasi pernikahan sudah berlalu. Ketika aku sibuk mempersiapkan pernikahanku, aku mendaftar di web site wedding organizer, dan web site ini tidak pernah alpa memberi informasi kepada membersnya tentang semua kabar dan kegiatan terbaru. Toh aku sudah menikah, tidak perlu lagi, jadi e-mail ini kudelete. Menyimpan e-mail yang tidak terlalu penting bukan kebiasaanku. Aku baru akan membuka dua e-mail terakhir ketika Dinar sudah berada di depanku. Disamping itu “alarm” dari perutku juga sudah berbunyi.


Dinar, teman yang cukup dekat denganku, kami seumuran, tapi masih lajang. Orang tuanya masih menginginkan dia mendapat suami yang masih berdarah biru. Agar anak-anak Dinar kelak tetap bisa mempertahankan gelar kebangsawanannya. Aku menghormatinya, pun aku mensyukuri kedua orang tuaku masih memberikan kebebasan padaku untuk memilih pendamping, walaupun pada akhirnya suamiku juga masih sama denganku. Tapi dari dalam lubuk hati yang dalam kuterima Ramadhan menjadi suamiku bukan karena kriteria itu. Masih banyak value yang dimiliki Ramadhan untuk menjadi suamiku. Pun demikian halnya pada Dinar, yang kutau bukan pula karena alasan itu, hingga saat ini dia masih menikmati hidup melajangnya, “bebas merdeka, I can fly like a butterfly, wherever I go and whatever I want….” katanya. “Itu bukan prasyarat untuk masuk surga”, kata Dinar suatu waktu. Itu pilihan hidupnya, dan patut dihargai.



Usai makan siang, dimejaku tergeletak surat dari perusahaan Jepang yang harus dibalas yang merupakan disposisi dari Pa’ Kuncoro. Kata “segera” dari petunjuk disposisi surat itu membuatku tidak berlama-lama untuk segera membuat surat balasan. Sebenarnya aku bisa menunjuk Ami, stafku untuk membalas surat itu. Tapi aku berpikir bahwa itu surat dari perusahaan asing. Perlu ketelitian untuk membalasnya. Otakku mulai merangkai kata. Aku memusatkan perhatian pada layar komputer di depanku dan mulai menulis Dear Mr. Yanagi Matzuko, bla…..bla….. bla….. Thanks you for attention…. Sincerely yours, kuketik nama Amran Muhidah, SE. MA, Direktur utama perusahaan kami. Selesai. Kubaca sekali lagi surat tersebut, ku yakinkan substansinya sudah memuat kesediaan perusahaan kami menyediakan stok komoditi yang mereka inginkan dan kesediaan kami menyediakan lahan sekian hektar untuk mereka gunakan. Kupastikan tidak ada kesalahan pengetikan atau kesalahan grammer pada tata bahasanya. Si direktur itu orang yang sangat teliti. Di samping itu aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah kandidat yang tepat untuk dipromosikan, ku mulai dari hal-hal yang kecil yang kadang luput dari perhatian. Lampu hpku berkedap-kedip, sebuah sms masuk. “Rapatku masih berlanjut hingga malam, aku tidak bisa menjemput” sms dari suamiku. Aku menghela napas panjang, berarti aku harus pulang dengan taksi. Kubalas dengan kata “oke”.



Selesai membalas surat, aku baru teringat pada dua e-mail yang belum sempat kubaca. Yahoo. com kembali kubuka. Subject: Hallo apa kabar, Sender: Mayafdh, ku klik dua kali.


Hallo Manda, selamat siang…
“Apa kabar. Lama aku tidak mendapat kabar tentangmu. Yang kudengar hidupmu kian bersinar. Terang, seperti matahari pagi. Karir dan keluarga telah kau miliki. Selamat !!! Alangkah baiknya Tuhan padamu, segala inginmu diwujudkan-Nya dalam kenyataan. Semoga harimu senantiasa diliputi senyum dan kedamaian. See you…. “

Keningku berkerut, who’s the one??? batinku. Kalau menanyakan kabar, jelas orang yang sudah lama tidak bertemu. Aku mulai mendata nama-nama orang berjudul MAYA yang pernah kukenal dan lama tidak saling bertukar kabar. Yang tersisa dalam ingatanku ada empat Maya, mungkin salah satu dari mereka. Kubuka lagi e-mail yang tersisa. Dengan subject dan pengirim serta isi e-mail yang sama, dikirimkan kemarin, selang satu hari dari e-mail yang pertama. Agak penasaran, aku mengklik “reply” ku balas. Re: Hallo apa kabar juga.
“Kabar baik, terima kasih atas ingatanmu padaku. Semoga hidupmu lebih bersinar pula. Tapi maaf aku lupa, ini Maya Hamid (teman SMP dulu) ? Maya Kembar (teman satu kelompok tari di SMP)? Maya Ibrahim (anak kelas 3 Biologi waktu SMA)? atau Maya Hermawan (anak ekonomi) ? btw senang mendapat kabar darimu. See you to…” .

Ku klik Sent. Terkirim. Aku tidak memasukkan Mba Maya, staf di divisiku, toh meja kerjanya tepat berada di depan meja kerjaku. Dia tidak mungkin merindukanku, setiap hari kami bertemu. Dan aku berharap si Mayafdh itu adalah salah satu dari mereka, Maya-Maya itu.
Setelah itu aku kembali membuat laporan penjualan tiga bulan terakhir, harus kubuat sempurna laporan kali ini karena aku akan langsung mempresentasikannya. Kucek kembali kebenaran angka-angka penjualan yang kuinput dalam tabel sebelum kubuat dalam bentuk grafik dengan berbagai skala.


Pukul 6.30 malam, taksi yang kutumpangi tiba di rumah. Aku sengaja pulang lebih awal. Setiap hari bila menjelang sore, hujan pasti turun, dan aku tidak mau terjebak hujan. Pintu pagar terkunci rapat. Lampu teras belum dinyalakan. Dari luar sekilas kulihat rumahku tampak tak berpenghuni, sunyi. “ Rumah kita sudah saatnya mempunyai penghuni mungil....” kata-kata suamiku berbisik pelan ditelingaku. Aku membuang jauh sebuah rasa yang tiba-tiba hadir, ku tekan bel, kulihat Salma bergegas keluar.
“Kenapa lampu teras belum dinyalakan ?” tanyaku agak kesal.
“Eh.. baru ka selesai sholat puang…?”
“ Makanya lampunya di nyalakan sebelum maghrib”, aku mengingatkan kealpaan si Salma yang sudah sering dia lakukan.
Selesai shalat maghrib, aku merebahkan diri di tempat tidur. Dan terbangun oleh dering hpku. Pukul 9.30 malam.
“Manda….hallo….”
“Ya haloo.. Daeng dimana ?”
“Manda, aku pulang telat, peserta rapat masih menarik ulur keputusan, makan saja duluan, oke” suara suamiku kudengar.
“Ya, tapi Daeng di mana sekarang ?” ulangku lagi. Terdengar suara kendaraan yang melaju.
“Masih-masih di kantor, oke bye…” balasnya.
Aku mengatur nyawaku yang baru kembali, aku baru menyadari sepenuhnya kalau aku sempat tertidur. Aku bangun dan bergegas ke kamar mandi, kulewati cermin besar yang memantulkan bayanganku. Yang kulihat adalah aku masih berpakaian kantor lengkap sebagaimana waktu akan berangkat kantor tadi pagi. Aku bergidik, rasa bosan entah muncul darimana, besok aku memulai hari dengan kegiatan yang sama, rumah – kantor – kerjaan – kantor. Tiba-tiba aku mengingat umur, September nanti usiaku genap 30 tahun, sedang suamiku telah genap 32 tahun di Maret yang lalu….


Hari selasa, berarti baru hari kedua di minggu ini, mestinya semangat kerjaku sedang tinggi-tingginya seperti biasa, tapi saat ini kurasakan moodku sedang tidak bagus. Aku mencek biorhythm graphs-ku hari ini lewat salah satu fasilitas di hpku. Graphs for today… aku menekan tombol. Sebuah grafik tergambar. Energi dengan symbol warna merah masih bergerak naik, IQ disimbolkan warna ungu juga masih cenderung naik meskipun bergerak lambat, dan Mood dengan symbol warna biru berada pada titik 0 dan tidak bergerak naik. Fasilitas satu ini walaupun lebih sering bias dengan keadaan yang sebenarnya, tapi untuk kali ini aku agak sedikit percaya dengan hasilnya. Benar aku sedang moody. Aku bosan…. jenuh…. dan merasa serba tidak nyaman. Aku meraih tas kantorku dan mencari pemutar flash yang baru kubeli. Head set walkman berukuran korek api itu kumasukkan ditelingaku. Untung semalam aku sempat mentrasfer sejumlah lagu dari salah satu koleksi MP-3ku. Fixing a broken heart-nya Indecent obsession mengalun:



“ There is nothing to say the day she leave…. just feel a suitcase full of regrets… I hear a taxi in the rain…. looking for some place to easy the pain……”

Meski lagu lama tapi masih enak didengar, dan cukup membantuku saat ini, mencoba lebih santai, aku memejamkan mata. Agak terhibur, untung ada orang yang menemukan “musik….” batinku.
“…. Like an answers pray … I turn around and find you there…… you really know where are the start … fixing a broken heart…….” aku turut bersenandung kecil.

Jam makan siang tiba. Sejak pagi tadi kudengar kalau Bim2 cowok kacamata di bagian administrasi hari ini berulang tahun. Sebuah tradisi di kantorku kalau hari ulang tahun patut dirayakan bersama di mana tempatnya disesuaikan dengan permintaan suara terbanyak, dan itu berarti yang berulang tahun harus siap sedia dengan sejumlah dana segar untuk mentraktir. Kudengar suara Dinar berteriak horeee….!!! seperti anak kecil yang mendapat cokelat. Dia memang paling antusias kalau ada yang berulang tahun. Kebiasaan jailnya akan muncul. Dan Bim2.….hari ini harus siap-siap menerima “kerjaan” Dinar.


“Nusantara penuh, antri…..”, Dinar memberi tahu, kalau rombongan kami yang berjumlah tiga mobil berisi penuh sesak penumpang tidak jadi makan di Nusantara, tempat makan favorit kami. Dan iring-iringan memutar haluan ke Restoran Ikang yang juga terkenal dengan seafood-nya.
Sambil menunggu pesanan makanan, beberapa teman mulai sibuk meminta lagu untuk berkaroke. Dinar mengambil alih acara, dia mengajak orang-orang berdoa, “ Sebelum makan kita berdoa dulu buat si Bim2, semoga dia cepat diberi jodoh. Tapi jangan denganku karena aku akan terlalu berlebihan untuknya….” Dinar memulai aksinya. Kudengar teman-teman mulai tertawa.



Aku beranjak dari tempat dudukku. Panggilan kebelakang, mau pipis. Menuju ke kamar kecil yang ada di sudut kanan, aku mesti melewat ruang VIP yang diperuntukkan untuk dua orang. Sejenak langkahku terhenti, samar kudengar orang tertawa, dan sepertinya aku mengenali suara orang yang sedang tertawa itu. Aku mencoba mengenali sosok orang yang di dalam ruang itu dari kaca yang agak gelap, meskipun cuma punggungnya, tapi aku juga mengenalinya. Itu Ramadhan, suamiku. Aku istrinya. Tak mungkin aku salah.



Aku merogoh kantung bajuku untuk meneleponnya, aduh… hpku dalam tas kantorku, ada di tempat dudukku. Aku segera menemui pelayan yang bediri di depan pintu ruang VIP itu, cowok dengan gaya yang agak kemayu, bences… ku tau tugasnya untuk memastikan agar pengunjung VIP mereka tidak terganggu ketika sedang bersantap. Aku membisikkan sesuatu padanya, dan dia mengangguk. Tanpa menunggu lama aku langsung membuka pintu. Ku lihat dua orang didalamnya tersentak begitu pintu tiba-tiba di buka, secara agak kasar pula. Tapi aku lebih tersentak lagi tak kalah sosok yang diruangan itu memang Ramadhan, suamiku bersama seorang ….. wanita.


Sebenarnya pemandangan ini biasa karena suamiku memang mempunyai banyak relasi bisnis, dan rata-rata ku kenal. Tapi kali ini pemandangan menjadi tidak biasa karena sebagian dari tangan wanita itu berada di bahu suamiku, mendekap. Kepalanya tepat di dada suamiku. My God…..!!! What kind of business? What kind of launch …??? Menu makan siang apa ini… ??? Suamiku ternyata melakukan hal yang sama, sambil satu tangannya membelai lembut kepala wanita itu. Refleks karena kaget, mereka serentak berdiri. Aku seperti tersengat listrik bertegangan tinggi, kakiku gemetar, “Daeng…. !!!!“ aku berteriak keras dan mendekat ke arah suamiku. Aku menarik keras bajunya. Satu kancingnya terlepas.
“Kita bikin apa ….?” suaraku masih meninggi sambil menatap tajam wanita itu yang berdiri mematung.
“Manda, tenang…. dia….” Suamiku mencoba menenangkanku.
“Daeng… kita bikin malu” Aku mengibaskan tangannya dengan kasar.
Sepertinya aku ingin membunuhnya saat itu juga, dan wanita itu ??? aku membutuhkan sambal pedis yang baru diulek, aku ingin menyapukan di muka wanita itu. Aku tak mampu menguasai diri. Aku berteriak-teriak keras…. memaki….dalam sekejep segenap perhatian pengunjung tertuju pada ruang VIP di mana kami berada. Ribut, ramai….. Dinar dan teman-teman kantorku yang lain berdatangan. Mereka baru menyadari kalau akulah biang keladi keributan itu. Dinar menarikku dari kerumunan orang, aku masih berteriak, kulihat wanita itu berjalan diikuti pandangan mata orang-orang, dia turun lewat tangga belakang. “Perempuan sial….” aku kembali berteriak. Pengunjung semakin ramai, memang karena pas jam makan siang. Apalagi beberapa meja yang sudah di-reserved- telah di isi oleh orang-orang yang memesannya.
Dinar “mengamankanku” di tempat yang relatif sepi. Diikuti suamiku. “Ayo kita pulang Manda”, katanya. Mukanya memerah. Aku menghempas tangannya, sedikit aku mulai tersadar kalau itu tempat umum. Aku berjalan cepat diikuti Dinar ke tempat parkir. Teman-temanku yang lain termasuk Bim2 sudah berada di mobil masing-masing. Mereka tidak jadi makan, look at them….betapa tolerannya. Acara ulang tahun Bim2 menjadi kacau balau karena ulahku.
Rombongan kami, terutama diriku, ditonton seperti sirkus oleh pengunjung yang lain, mereka tidak perlu penjelasan “what happened ?”… Karena sudah sangat jelas mereka akan bercerita seperti ini: Suami wanita yang bersyal biru itu (dan pasti sambil menunjuk ke arahku) kedapatan sedang bermesraan ….dst…..dst…..dst… dan memang bagi sebagian orang adalah sebuah “penghargaan” bisa menjadi saksi hidup sebuah perselingkuhan…. bisa menjadi nara sumber rumpian. Layaknya menteri komunikasi dan informasi yang harus menyebar berita ke orang-orang. Selamat dan sukses…. Congratulation… !!! Aku menjadi “headline” siang ini. Dan yang pasti aku telah menjadi SANGAT MALU….. AMAT!!!!!!


Dalam perjalanan pulang Dinar menenangkanku, yang lain hanya terdiam…..membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku menangis. Kuminta Dinar mengantarku pulang, rasanya aku tidak perlu lagi pamit pada Pa’ Kuncoro untuk izin setengah hari, mulut-mulut teman kantorku dengan sendirinya akan berbicara mengenai kejadian tadi. Bukan salah mereka. Film baru, new release dipertontonkan di depan mereka tanpa perlu membeli tiket. Free…. Aku hanya ingin pulang dan menyelesaikannya dengan suamiku. Kulihat mobil suamiku telah terparkir di garasi rumah kami. Dentang perang dunia ketiga berbunyi nyaring….. tak terhindarkan !!!!!


Salma kuperintahkan naik ke lantai dua, di kamarnya. Kulihat wajahnya pucat pasi. Perang dunia ketiga terjadi..…. seperti dalam Film Troy, banyak serdadu yang berguguran. Kalau dalam film yang banyak terlihat adalah ceceran darah pejuang perang, maka dirumahku yang terlihat adalah pecahan-pecahan kaca vas bunga dan asbak yang tersebar di lantai. Pernik-pernik dan pigura foto yang selama ini tertata rapi diatas sebuah meja kecil juga sudah bersatu pada di lantai, pecah…. menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, tapi bukan guru.



Isi kamarku setali tiga uang, tak jauh beda, kacau balau …. berantakan… Ramadhan, suamiku itu terhempas di sofa menatap langit-langit. Tangan kanannya berdarah akibat lemparan asbak dariku yang ditangkisnya. Aku di kamar menangis, hatiku luka berdarah, tapi aku tak mau berteriak-teriak lagi. Suaraku telah parau. Aku duduk dilantai menenangkan diri. Ku teringat mama di rumahnya. Kondisi genting, “penjahat” di depan mata, seperti dalam film, seharusnya aku segera mencari bala bantuan. Namun 911 belum ada di Makassar, dan pasukan SWAT hanya ada di Amerika. Fasilitas SOS (save our soul) mestinya kugunakan. Aku bisa menelepon mama atau Ka Nanda untuk menjemputku. Tapi kuurungkan niatku. Ini masalah rumah tanggaku. That is my problem. 911, SWAT, SOS kuabaikan….. Aku tak mau orang luar turun tangan, pun oleh Mama dan kakakku sendiri.


Aku menangis lagi. Ternyata aku tidak jauh beda dengan kisah-kisah para istri pada umumnya: “teraniaya” oleh suami. Selingkuh bisa dikatakan lawan kata dari kata setia, dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai penghianatan terhadap pasangan resmi. Aku belum sempat membaca arti katanya dalam kamus bahasa Indonesia. Yang ku tau, tak pernah atau setidaknya belum terbersit sekalipun kecurigaan kalau suamiku akan melakukan tindakan seperti yang dimaksud pada arti kata selingkuh itu.



Satu yang pasti kini adalah catatan putih perkawinanku telah tercoreng pena merah oleh suamiku. Dengan paksa, ku minta suamiku bersumpah dengan kitab suci di atas kepalanya kalau ia akan berkata jujur. Dan kejujurannya itu menyakitkanku, menghempaskan aku dalam kehinaan. Seperti ditusuk dari belakang. Aku dikhianati. Tiga tahun hidup bersama dengannya tapi dia telah menggunakan empat bulan dalam paruh waktu itu untuk menjalin perselingkuhan ….. (lagi-lagi kata ini yang harus kugunakan) dengan wanita itu. Hubungan yang berawal dari urusan bisnis. Wanita yang bernama Maya itu seperti pengakuan suamiku di atas sumpahnya, mengejar suamiku. Pun dia tau kalau laki-laki yang dipujanya itu telah beristri. Ingatanku kembali….. namanya Maya, kemarin aku mendapat dua e-mail dari seseorang bernama Maya. Mayafdh. Tidak salah lagi, pasti wanita itu orangnya.



Faktanya sekarang adalah suamiku menjalin hubungan dengan wanita lain. Secara logika tentu ada satu nilai lebih dari wanita itu yang tidak kumiliki. Anak. The right answer. Itu yang diinginkan suamiku. Sakit…. Dalam kejujurannya suamiku mengatakan kalau wanita itu mendukungnya untuk segera punya anak. Jelas saja, toh dia menginginkan suamiku, jelas dia rela memenuhi harapan suamiku untuk mempunyai anak. Sakit… berarti suamiku tidak mencintaiku sepenuhnya, yang dia inginkan hanya anak sebagai penerus generasinya, bukan dari siapa dia dapat memperoleh anak. Aku tidak diperhitungkannya lagi. Suamiku lupa bahwa aku bukan tidak bisa memberinya anak. Tapi belum saatnya bagiku. Tapi apapun alasannya, suamiku telah melakukannya. Aku nelangsa…. perih.



Dalam sumpah suamiku tadi, aku belum sempat atau tepatnya tidak sanggup mengorek kejujurannya tentang apa yang telah mereka lakukan. Aku tidak sanggup membayangkan wanita lain terlelap dalam pelukan suamiku setelah….. setelah…. “Wanita jalang…..” aku memakinya. Terbayang raut mukanya. Aku memperkirakan umurnya tidak jauh beda denganku. Masih dalam kejujuran suamiku, wanita brengsek itu adalah seorang janda bercerai dari suaminya karena perkawinan mereka adalah hasil perjodohan. Astaga…. sudah sejauh itukah suamiku melibatkan diri dalam kisah hidup wanita itu. Berarti suamiku telah pula menceritakan romantika perkawinan kami. Mengapa suamiku bersedia percaya begitu saja. Sementara mereka berhubungan baru empat bulan. Mungkin saja sampai saat ini dia masih berstatus istri orang…. dan kalau seperti itu berarti suamiku juga telah termasuk kategori merusak rumah tangga orang, sama dengan wanita itu telah merusak rumah tanggaku. Perempuan murahan…. tidak taukah dia efek yang ditimbulkan atas hidupku ????



Peristiwa siang tadi di restoran itu sekaligus memblack listku dari daftar orang-orang yang berbahagia dalam perkawinannya. Segudang ide cemerlangku, kecerdasanku, kemahiranku dalam bernegosiasi, ketelitianku dan kepantasanku untuk dipromosikan sebagai manifestasi dari hidupku yang bahagia dan nyaris sempurna hilang ditelan bumi tak membekas. Aku dihempaskan ke ruang hampa yang hanya patut dihuni oleh orang-orang tak bernilai. Yang kurasakan orang-orang menertawakanku. Aku yang selama ini dijuluki sebagai Miss. Perfect atas sikap keprofesionalanku ter- drop out - terdepak. Aku dititik nol dalam urusan rumah tangga. Reputasi seketika tercoreng.



Aku memejamkan mata, kusandarkan badanku di pinggir tempat tidur. Masih ada efek yang ditimbullkan oleh pengkhianatan suamiku. Cepat atau lambat, like or dislike… orang tuaku, mertuaku, saudaraku, saudara iparku dan segenap keluarga besar akan mengetahuinya. Aku tak sanggup membayangkan apa yang selanjutnya terjadi. Apa pendapat mereka. Akankah seratus persen suamiku dipersalahkan atau juga salah dilimpahkan padaku karena kekerasan kepalaku yang bertahan untuk menunda anak sehingga suamiku bertindak tolol??? Entahlah… yang jelas kini perkawinanku berada di sebuah gerbang. Gerbang kehancuran.



Di lain pihak aku sangat mengagungkan kesetiaan. Pengkhianatan bagiku tidak termaafkan. Unforgiven. Ramadhan tau itu. Tapi mungkin dia lupa kalau di awal perkawinan, aku sudah mulai belajar untuk setia, termasuk ketika aku harus meminta izin untuk menerima ucapan selamat dari Iman, orang yang pernah menjadi bagian hidupku sebelum dia. Dan aku menurutinya kala itu. Kutunjukkan pada Iman bahwa aku bisa mendapat yang terbaik untuk hidupku.



Rasa sakit kembali menyergap perasaanku…. aku ingin pergi ke tempat yang belum terjamah manusia, hingga tak perlu bertemu dengan orang-orang. Mars….. di planet itu, tapi aku belum mengetahui perkembangan terakhirnya apakah penduduk bumi sudah diperbolehkan berimigrasi di sana atau belum. Yang ku tau ada planet terbaru yang ditemukan setelah Pluto. Jadi Pluto bukan lagi “anak bungsu”, meskipun masih kontraversi apakah termasuk planet atau hanya sebuah komet biasa. Terserah masuk kategori mana, aku ingin ke sana. Aku ingin menyendiri…. tak terganggu. Harus kulakukan!!! Ku raih koper yang biasa kugunakan ketika melakukan tugas luar, kumasukkan pakaian yang kuperlukan. Tak banyak. Sepertinya aku tidak jauh beda dengan lagu Fixing of broken heart-nya Indecent Obsession, pergi dengan tas yang berisi penyesalan… tapi bagiku bukan hanya itu, tasku juga berisikan rasa malu dan kecewa….



Akhirnya dengan sedikit usaha…..aku menemukan juga “planet terbaru” itu, adiknya planet Pluto. Untuk sementara aku aman disini. Aku menelepon mama dengan pemberitahuaan singkat, pun ternyata beliau telah mengetahui apa yang menimpaku. Aku mengatakan pada mama kalau aku dapat menyelesaikan masalahku sendiri. Aku menjawab telepon mertuaku dengan mengatakan kalau kami baik-baik saja. Aku bukan menantu cengeng yang akan datang ke pelukan mertua dengan meratap. Tidak. Aku tidak dilahirkan untuk meratap dan tak berdaya seperti itu.



Babak kedua kehancuranku dimulai. Siang tadi suamiku menjumpaiku di rumah mama, setelah seminggu peristiwa itu. Dia menangis berlutut padaku. Ini kali kedua ku lihat suamiku mengeluarkan airmata. Pertama, ketika akad perkawinan kami, dia menitikkan airmata… airmata bahagia…. Yang kedua adalah saat ini, dia menangis, meratap memohon maafku. Aku teringat dengan penjaga ruang VIP yang kemayu itu, kulihat suamiku tidak jauh beda.
Dalam tangisnya, suamiku kembali berkata jujur. Dan kejujurannya sekali lagi menyakitkanku, memaksaku untuk berhenti bernapas. Kekasihnya, perempuan murahan itu hamil….. mengandung anak mereka. Anak suamiku. Wanita itu dan keluarga besarnya meminta suamiku bertanggungjawab. Hubungan selingkuh itu membuahkan “siri” pada keluarga kami. Dunia bagai terbelah dua dan aku terjerembab masuk kedalamnya….. kiamat telah terjadi dalam rumah tanggaku.



Aku menangis…. berontak…. pertahananku ambruk, goyah…. aku pingsan dalam pelukan mama. Ternyata aku belum cukup kuat untuk menjadi wanita mandiri tanpa campur tangan orang lain. Aku masih dan sangat memerlukan mama. Kuteringat kebiasaan mama dimasa kecilku, setiap malam mama membaluri tubuhku dengan bedak dingin, dan memastikan aku tertidur nyaman, kuteringat ketika sudah tidak ada pembelaan atas kenakalan yang kulakukan aku masih dapat berlari dan berlindung padanya. Kuteringat ketika demam tinggi menyerangku. Kurasakan jemari mama tiada pernah berpindah dari tubuhku, memastikan aku dapat tertidur lelap dalam sakitku, meskipun ku tau saat itu mama tidak sekalipun memejamkan matanya. Kurasakan mataku menghangat, saat ini kudatangi lagi pelukan hangat itu, kutumpahkan tangisku disana….



Aku siuman, mama disampingku. Mertua dan iparku datang kemudian, memelukku. Untuk pertama kalinya kudengar mertuaku berbicara dengan nada suara yang keras. Mertuaku pun menangis. Intan, adik suamiku sibuk menelepon menggunakan hp suamiku, dia berbicara dengan seseorang, mungkin wanita itu, kudengar sesekali dia memaki, menghardik, mencerca. Kucari papaku, kulihat beliau sedang membicarakan sesuatu dengan mertua laki-lakikku. Entah apa yang mereka bicarakan, yang dapat kutangkap adalah guratan aura wajah papa yang mengeras. Papa marah, putrinya teraniaya. Ka Nanda berbicara dengan Puang Bulan, adik papaku sambil memangku Mutia, anak keduanya. Kulihat aura marah juga terpancar dari wajahnya, suaminya menenangkannya. Tapi aku tidak melihat suamiku, dan mungkin itu lebih baik.



Aku terpekur…. pikiranku menerawang, dalam hitungan detik cerita hidupku berubah arah 360 derajat. Ke mana aku akan membawa biduk rumah tanggaku. Kemungkinan terburuk telah pula terbersit dalam pikiranku, cerai… aku bergidik ketika mengatakannya, pun hanya dalam hati.
Gerimis masih tersisa di akhir musim penghujan kali ini. Aku berusaha untuk berpikir tenang…. satu keputusan harus kuambil, keputusan jangka panjang. Seperti dalam ilmu perencanaan, dalam mengambil sebuah keputusan bukan hanya untuk jangka pendek, tapi juga untuk jangka panjang, jadi aku harus berhati-hati. Dan hari ini aku telah memutuskannya, keputusanku final, bulat dan tak tergugat. Aku memilih berpisah darinya….dari Ramadhan, suamiku. Mataku kembali menghangat. Hari ini adalah hari ulang tahun ketiga perkawinan kami…..
“ Setiap orang pasti akan dicoba ketika dia memutuskan untuk berumah tangga, tapi cobaannya berbeda-beda” kata Ka Nanda dengan hati-hati.
“Sabar, Dek…. pasti ada hikmahnya, kamu masih sangat muda…..” lanjutnya.
“Wanita itu telah mengandung anak mereka”
“Tapi wanita itu telah pergi, dia memilih meninggalkan Makassar” Ka Nanda mengelus rambutku.
“Maafkan suamimu …..”
“Aku tak mau melihat Ramadhan lagi, siapa yang mau dimadu ??? aku lebih memilih hidup sendiri daripada hidup bersamanya!!! nada bicaraku mulai meninggi.
“Tenang Dek…. tenang….”
“Rasa percayaku sudah tidak akan ada untuknya” kataku melemah.
Aku berada di taman, sore ini cuacanya cukup menenangkan. Aku duduk pada sebuah kursi panjang, sinar matahari sudah tidak menyengat lagi. Beberapa bahan bacaan yang sedari tadi kubaca kuletakkan disampingku. Sebuah studi tentang dampak kenaikan BBM barusan kupelajari. Kasian orang-orang miskin itu….. Kupejamkan mata dan menghela napas panjang. Aku ingin membuang jauh lukaku….. terbang jauh…..


Samar-samar aku mendengar sekelompok orang berbicara. Mungkin tiga atau empat orang. Mereka berbicara dengan perlahan, tapi masih jelas kudengar setiap kata yang mereka ucapkan. Aku masih memejamkan mata, pasti hanya sekelompok ibu-ibu yang pulang dari arisan dan meluangkan waktunya untuk bergossip, ngerumpi… satu “keahlian” yang rata-rata dimiliki oleh wanita. Aku tidak berniat mendengar apa yang mereka obrolkan, aku menutup kedua kupingku, tak mau terlibat dengan topik bahasan mereka.



“Dia dulu seangkatan denganku waktu SMP. Hampir satu sekolah mengenalnya, murid teladan ” ucap sebuah suara.
“Dia pandai sekali menari, aku sekelompok tari dengannya ketika SMA, baru sekali-dua kali latihan, dia sudah dengan mudah mengikuti gerak tarian, dia anak emas Pa’ Yanwar, guru tari kami…..” suara kedua bertutur.
“ Dia pandai dalam pelajaran biologi, ilmu genetika manusia dihapalnya di luar kepala….” timpal suara ketiga.
“ Begitu juga waktu kuliah dulu, aku beda fakultas dengannya, tapi sepertinya tidak ada orang di fakultasku yang tidak mengenalnya, dia sempat menjadi kandidat ketua senat…” ujar suara keempat.
“Asal tau saja, dia selalu menjadi icon mode di kampus… yang dimilikinya selalu yang terbaru….” lanjutnya lagi.
“Sepertinya keberuntungan hidup selalu ada padanya……” suara kedua terdengar kembali.
Siapa yang sedang mereka obrolkan ??? Apakah teman mereka yang telah menjadi artis atau teman mereka yang mendadak menjadi jutawan karena menang undian??? Entahlah yang jelas sepertinya mereka sedang iri dengan keberuntungan sesorang. “KDL=kacian deh loe …..” aku mengucapkan kata-kata itu dalam hati untuk mereka. Tak mungkin aku mengucapkannya langsung, bisa-bisa aku dikeroyok oleh mereka. Aku tak mau mencari masalah baru. Jadi kuteruskan saja menguping pembicaraan mereka dengan tetap memejamkan mata.
“ Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, sejak suamiku dipindahkan ke Medan, aku kehilangan kontak dengannya, tapi aku tidak heran bila dia mendapatkan semua itu, otaknya memang cerdas, wajahnya termasuk dalam kategori enak dilihat, keluarganya berada….” satu suara yang sedari tadi diam sedikit membela.
“….. tapi aku pernah sakit hati dibuatnya, Wawan pacarku waktu kuliah dulu sempat naksir padanya…. namun akhirnya aku salut padanya, karena dia datang padaku dan mengatakan kalau dia tidak punya perasaan apapun terhadap Wawan…” suara yang keempat berkomentar lagi.
“….. dan dia diterima bekerja di perusahaan besar itu hanya dengan sekali melamar, sedang aku ??? tiga kali aku memasukkan surat lamaran, tiga kali dites dan tiga kali pula aku dinyatakan tidak lulus…menyedihkan….” suara keempat melanjutkan.
“Aku pernah sekali mengirim e-mail padanya, dia membalas e-mailku, tapi dia lupa padaku, dia pikir aku salah satu dari kalian, dalam e-mail balasannya dia menyebut nama kalian satu-satu, tapi tidak menulis namaku Maya Fadilah, temannya semasa ospek dulu. Tapi sudahlah….. kita tidak bisa menebak nasib manusia, Tuhan selalu memainkan skenario-Nya dengan alur yang sama sekali tidak bisa kita duga. Aku bersimpati atas apa yang terjadi padanya. Dia di luar kendali ketika mengarahkan pisau kearah suaminya yang menyebabkan suaminya meninggal seketika….. tepat di hari ulang tahun perkawinan mereka yang ke tiga. Tapi aku tidak menyalahkannya…. karena adakah wanita yang rela bila ternyata suaminya berselingkuh dengan wanita lain hingga hamil ??? Saat datang ke sini ternyata dia telah mengandung satu bulan. Anaknya, orang tuanya serta saudaranya secara rutin mengunjunginya setiap dua minggu sekali. “Lihat bocah laki-laki itu”, itu anaknya. Setelah melahirkan, anaknya diambil dan diasuh oleh orang tuanya. Dalam kondisinya sekarang tak mungkin ia dapat membesarkan anaknya……” suara yang tadi membela berbicara panjang lebar.
“ Betul katamu…. Tuhan selalu memainkan scenario-Nya dengan alur yang sama sekali tidak bisa kita duga. Seperti kita ini, kita berlima mempunyai nama depan yang sama MAYA, dan kita dipertemukan pada tempat yang sama karena suami kita masing-masing bertugas sebagai dokter di sini… di rumah sakit rehabilitasi jiwa ini….ha…ha….ha…” derai tawa kudengar dari bibir-bibir mereka. Para istri dokter rupanya…



Tapi tunggu dulu….. aku mulai tertarik dengan obrolan mereka. Dari tadi mereka bercerita dengan menggunakan kata “dia” berarti kata ganti orang ketiga tunggal. Ada orang lain di luar mereka yang menjadi topik pembicaraan…. tapi kenapa mereka menyebut “planet terbaruku” sebagai tempat rehabilitasi jiwa….??? Aku juga melihat bocah laki-laki berusia tiga tahunan yang mereka maksud, sedang bermain bola di ujung taman, tidak jauh dari tempatku duduk. Wajah bocah itu sepintas mengingatkanku pada seseorang yang sepertinya kukekanali…. namun entah siapa…



Angin senja tiba-tiba bertiup agak kencang, aku tersentak dan refleks membuka mataku, sebuah kesadaran hadir dalam hati dan pikiranku……. d-i-a..….dia, orang ketiga yang mereka maksud dan menjadi topik pembicaraan adalah……. AKU……….


































Thursday, June 26, 2008

Mahligai tak berbentuk..........

Rangga
Sebentar lagi dunia yang sebenarnya akan kugenggam. Akan ku mulai melukis hidup bersamanya dengan cintaku. Mentari pagi akan selalu menyinari hidupku setelah ini dan selamanya, meskipun hari hujan dan mendung menggelayut. Aku akan menjadi lelaki abadi baginya mempertaruhkan segalanya untuknya. Sebelum memilikinya pun aku telah memberikan yang terbaik yang kumiliki, bagaimana mungkin tidak kulanjutkan ketika dia benar-benar telah menjadi milikiku. Akan lahir generasi baru yang akan mewarisi hidup kami. Akan ada sosok mungil yang memanggil kami mam and dad, akan ada kehidupan “kecil” di rumah mungil kami. Tuhan.... putarlah waktumu lebih cepat, ku tak sabar memulai hari bahagiaku....

Lingga
Bagaimana aku mengatakan padanya setelah semuanya tinggal sedepak di depan mata, bagaimana aku memulai kata kalau ragu tiba-tiba hadir untuk hidup bersamanya. Dimana aku mencari kekuatan untuk mulai mengatakan apa yang berkecamuk di dadaku. Aku telah menanyai hatiku dan memohon jawaban yang jujur, dan telah kudapatkan jawabannya... aku tak ingin bersamanya, tak mungkin aku bisa hidup dengan seseorang dimana hatiku tidak bersamanya. Ku tau dunia disekelilingku akan “hancur lebur” karena ulahku ini. Tuhan... tahanlah waktumu berputar agar kutemukan cara untuk “tidak memulai” hari bahagiaku....
“Are you serious honey....? common be the beautiful bride for him... and i i will give you something special ........”
“Dini.... please... aku tidak bermain. Aku ingin mengakhirinya. Aku tidak mencintainya”..... aku tidak mampu lagi melanjutkan kalimat, tetasan air mata telah membuat Dini membelalakkan mata. Dan itu melegakanku, artinya dia telah paham bahwa apa yang barusan kukatakan adalah yang sebenarnya.
“What is going on with you ?, Lingga kau belum gila kan ?”... Dini masih manatapku dan mencoba memegang kepalaku untuk memastikan kalau jarum diotakku masih berskala normal.
“Aku tidak ingin bersamanya... aku tidak akan menikah dengannya...”
“But why ??? apa yang telah terjadi ?, It’s not fair Lingga”
“Akan lebih tidak adil lagi bila aku tetap menikah dengannya”
“Selama tiga tahun kau baru menyadari kalau kau tidak mencintainya ? setelah semua dilakukan untukmu ?” Dini menatapku tak percaya sambil mengibaskan secarik undangan pernikahanku yang berada di ditangannya.
“Jangan gila kamu, pernikahanmu tinggal tiga minggu lagi”
“Dini.... bantu aku.... selama tiga tahun bersamanya aku baru menyadari kalau rasaku terhadapnya bukanlah sebuah cinta, hanya sebuah ketergantungan yang dia ciptakan untukku. Aku mengingatnya bila aku membutuhkan sesuatu, bukan dirinya. Aku memintanya hadir setiap saat dan waktu bukan karena aku ingin bersamanya.....
“Lingga, cukup!!! dengar ! aku kesini untuk memastikan daftar undangan telah tiba ditujuannya masing-masing, bukan untuk mendengar ide gilamu, oke. Don’t make the world will be coming end ....”
Braak.... sebuah bantingan pintu berbunyi keras bersamaan dengan keluarnya Dini dari kamarku, sepupu sekaligus sahabatku, dimana segala rahasia hidupku tersimpan olehnya.
Aku menghapus butiran air mata yang tiba-tiba mengalir, “ada apa ini ?, apa kurangnya seorang Rangga ?”. Orang-orang disekitarku tiada henti-hentinya mensyukuri karena yang memiliki Rangga adalah diriku, betapa patutnya menurut mereka aku yang memiliki kebahagiaan itu. Tanpa sadar aku mengoyak selembar undangan pernikahanku yang tadi dikibaskan Dini padaku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin, dan semakin jelas kutemukan jawaban pasti, aku tidak ingin bersamanya. Aku tidak gila atau setidaknya belum seperti yang dikatakan Dini. Justru kewarasan yang stabil dalam otak dan pikiranku yang mengatakan kalau akau harus mengakhiri rencana hidup bersamanya. Masih tiga minggu lagi..... masih ada 21 hari untuk mengakhirinya......

Lingga
The world coming end out of the schedule..... dunia kiamat sebelum waktunya, setidaknya itulah yang terjadi di rumahku sekarang. Entah keberanian dari mana, kuutarakan yang mengganjal di hatiku pada mama setelah makan siang. Mama menamparku untuk yang pertama sepanjang hidupku, perih tamparan mama terganti oleh rasa lega karena telah kuutarakan maksud hatiku. Seribu pertanyaan dari puluhan mata orang-orang sekitarku memaksaku untuk memberi jawaban. Sejuta komentar menyakitkan keluar dari mulut-mulut mereka, memaksa telingaku untuk mendengar dan mencernanya. Papa “mendeklarasikan” diriku sebagai pembuat malu keluarga dengan tambahan akan melupakan kalau aku pernah menjadi anaknya bila aku membatalkan pernikahanku. Dan memang itu pantas mereka lakukan atas diriku, tapi apakah aku salah untuk tidak memulai kesalahan besar dalam hidupku?. Hatiku menangis darah, tidak seorang pun di pihakku. I’m the only one accuser ............

Dini
Crazy Lingga. What are you thingking about ? Pernikahanmu sudah lama dinantikan oleh orang tua dan keluarga besar. Apa artinya selama ini dia selalu meminta advice dariku tentang relationship antara suami istri dan anak dalam sebuah rumah tangga. Aku mengelus kepala Alyssa putri keduaku yang tertidur lelap dipelukanku. Crazy Lingga.... kamu hanya belum merasakan nikmatnya ketika ada satu nyawa yang terlelap nyaman dalam pelukmu. Aku mendesah, kepalaku dibuat panik oleh Crazy Lingga. Aku akan tetap menyebutnya seperti itu sampai kewarasannya kembali. Seandainya bisa aku hanya ingin menyambak rambutnya seperti yang biasa kulakukan ketika kami masih anak-anak, ketika aroma perkelahian telah mendominasi permainan kami. Now... sekarang aku ingin menjambaknya lagi meskipun ku tau dia tidak mungkin mendiamkan, tapi kami bukanlah anak-anak belasan tahun silam yang menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Sejumlah peristiwa terkilas balik dalam pikiranku, seperti slide yang diputar ulang, jelas dan nyata, peristiwa-peristiwa tentang seorang Lingga yang ku kenal selama ini. Tidak.... gerakan dan teriakanku nyaris membangunkan Alyssa. Crazy Lingga, kamu tidak gila, aku ada dipihakmu......


Lingga
“May i....” ku lihat kepala Dini disela pintu kamarku. Tanpa menunggu jawabanku Dini masuk dan mengunci kamar. Aku hanya mampu melihat apa yang selanjutnya akan dibuat dan dikatakan wanita satu ini. Pikiranku penuh, sesak. Mataku sembab.
“Lingga ? kamu ...?” dengan perlahan Dini mengepalkan tangan kanannya, membuka satu persatu jarinya hingga kepalan tanggannya terbuka, dan mengarahkan jempolnya ke bawah diikuti tatapan matanya padaku.
“Ya... ya... “ Dini akhirnya mengingatnya, suatu gerakan yang kami ciptakan kalau sesuatu akan atau tidak kami lakukakan. Dini mengarahkan jempolnya ke bawah bukan sebaliknya. Berarti dia mengerti kalau itu adalah keputusan final yang tak tergugat. Tangisku pecah dalam pelukan Dini, akhirnya ada satu nyawa yang mendukungku.

Lingga
Lelaki itu hadir kembali tanpa ku minta, lelaki yang di hari kemarin mengajarkan makna cinta sekaligus mematikanku dalam nyawa dan raga yang masih hidup. Lelaki itu hadir kembali di detik terakhir aroma pernikahanku. Pertemuan tak sengaja namun kuimpikan sepanjang hidupku.
Pelatihan antara cabang perusahaan mengharuskanku mewakili Pa Jayadi, kepala divisiku yang mendadak mengajukan cuti. Kutangkap peluang itu dengan senang hati, adalah kesempatan yang sayang dilewatkan untuk bertemu dengan orang-orang perusahaan yang berasal dari daerah lain. Mba Linda dari cabang Medan telah meng-sms-ku memastikan bahwa akulah yang akan menghadiri pelatihan itu. Keseringan mewakili perusahaan membuatku dan Mba Linda bisa melalanglang buana dan yang pasti menyalurkan “jadwal rutin” kami, apalagi kalau bukan kata yang berbunyi SHOPPING..... uang perjalanan dinas akan mengalir tanpa sisa bila telah bersama Mba Linda. “Kami patut mendapatkan barang-barang yang kami inginkan....” itu semboyan Mba Linda yang kubenarkan untuk menghapuskan rasa bersalah. Toh di lain pihak i’m a single, aku bebas memanfaatkan dana yang kumiliki sesukaku. Beda dengan Marin, teman satu divisiku yang harus menutupi semua kebutuhan keluarganya walaupun masih berstatus sama denganku. Satu yang ku syukuri, sejak kecil hingga mempunyai penghasilan sendiri, aku masih bisa mengandalkan papa sebagai “penyelamatku”, papa adalah IMF bagiku namun tidak pernah mengharapkan pengembalian apalagi bunga. I have two income every moon. I’m a great happy single in the world.
Dini si ibu muda itu selalu menggodaku, salah satu alasanku menunda pernikahan adalah bahwa aku takut kehilangan sumber penghasilan keduaku yang notabene bisa lebih besar dari gajiku di perusahaan Si Mister Perfect itu. But the way.... aku mencintai pekerjaanku. Bersusah payah aku menyelesaikan dua gelar sarjana, bekerja adalah eksistensi yang menunjukkan jerih payahku itu tidak sia-sia. Ku buat papa bangga dengan karirku. Tahun ini memasuki tahun ke lima aku bekerja, dan seingatku di bulan ke lima keberadaanku di divisi pemasaran range penjualan bergerak naik, memang bukan atas prestasi kerjaku sendiri. We have a team work, dan aku bangga bisa termasuk dalam team work Pak Jayadi yang selalu mensupportku untuk bekerja dan bekerja lebih baik.
Ah.... sampai di mana tadi ? aku memaksa otak kiriku untuk memback up kembali rentetan peristiwa yang kualami, lelaki itu hadir kembali tanpa ku minta....
Aku nyaris berteriak ketika membaca sebuah nama pada list yang diberikan pegawai front office pada hotel tempatku menginap. Tak mungkin aku melupakan siapa pemilik nama itu. Namanya berada di urutan kesebelas sebagai salah satu peserta pelatihan, namaku berada lima nama dibawahnya, aku tidak sempat lagi melihat nama-nama peserta lain, rasa aneh tiba-tiba menjalar diseluruh tubuhku. Kurasakan kaki dan tanganku bergetar, tak mungkin..... tak mungkin.... nama itu pasti masih dipergunakannya sampai sekarang. Kata depan sebuah nama mempunyai seribu kemungkinan untuk sama, tapi dua kata terakhir nama itu hanya dia yang memilikinya.

Lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta
Finally, i find you again...... ku temukan kembali duniaku. Usahaku tidak tersia-siakan. Pertemuan ini adalah bukan sebuah kebetulan semata, aku yang merancangnya, aku yang meminta Pa Jayadi untuk mengutus Linggaku mewakili perusahaan. Apa gunanya jabatan yang kupegang di perusahaan induk bila tak bisa kugunakan untuk menemukannya. Untuk Linggaku aku akan melakukan segalanya. Akan kubayar luka yang kutorehkan dalam hidupnya sepuluh tahun silam, ketika tanpa alasan yang dapat dia terima aku meninggalkannya, dan memilih menikah dengan wanita lain. Aku telah mematahkan kuncup bunganya yang baru merekah, aku telah menghilangkan wangi bunganya yang baru menyebar.
Linggaku kini didepanku, aku takkan melepaskannya lagi, akan kurengut kembali dunia yang seharusnya kumiliki. Lingga.... Lingga.... aku mengetahui setiap cerita hidupmu sepeninggalku, termasuk rencana pernikahanmu bulan depan dengan lelaki itu. Siapa namanya ?.... ya Randa... bukan...bukan tapi Rangga. Lelaki yang tiga tahun telah “mengabdikan diri” untuk merebut cintamu. Linggaku.... Dengan kekuatan cinta aku meyakini sepenuh hati kalau kau masih dan akan tetap mencintaiku.... pun atas luka yang telah kutorehkan untukmu....

“Lingga.... apa kabar ?” sebuah sapan ringan menyapaku, ringan tapi bagiku perlu berton-ton kubik kekuatan untuk menoleh pada arah suara itu.
“Hai... baik, kamu ?.....” aku akhirnya berhasil menyapanya.
Jabatan tanganku dibawanya untuk berpindah tempat pada sofa empuk di lobi hotel. Tanganku belum dilepaskannya. Hangat gelombangan elektoromagnetik kurasakan mengalir dari tangannya.
“Tak kusangka kita bertemu disini, kamu ikut juga dalam pelatihan ?” sebuah pertanyaan basi nan tolol kuajukan. Namun aku mencoba bersikap profesional layaknya seseorang yang baru bertemu dengan teman lama. Tapi lebih dari itu aku ingin menunjukkan kepada lelaki ini bahwa sekarang aku adalah wanita sempurna dalam segalanya. Karir dan cinta yang kumiliki. Apalagi ??? So what ???
“Aku tidak tau kalau kita bekerja pada perusahaan yang sama ? oh iya kamu dari cabang mana?” kutemukan juga pertanyaan yang cukup masuk di akal.
“Aku baru bergabung dengan perusahaan ini, aku di cabang baru di Ambon ”
“Ya... ya...” aku mengangguk-anggukkan kepala tanda bahwa aku tau kalau perusahaan kami telah melakukan ekspansi di wilayah timur.
“Jadi kamu yang menjadi kepala cabang di sana ?” aku bertanya sekaligus untuk menjatuhkannya karena yang menjadi kepala cabang di sana adalah Mas Widya dari cabang Bengkulu. Paling tidak aku mengetahui kalau posisinya di perusahaan kami tidak lah jauh-jauh beda denganku. Artinya sepuluh tahun berpisah dia belum menjadi siapa-siapa. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu berbicara sesantai dirinya. Kulupakan janjiku sepuluh tahun lalu, bahwa aku akan memakinya pun di mana kami kelak bertemu setelah sepuluh tahun dia meninggalkanku.

Lingga
Acara dinner menyudahi jadwal pelatihan hari pertama. I can’t explain why ??? tapi aku menginginkan jadwal pelatihan selama seminggu ini bisa diperpanjang. Aku masih ingin mendengarkan cerita hidup lelaki yang hadir kembali itu. Waktu sepuluh tahun telah menghadirkan sosok lelaki yang sepenuhnya pada dirinya. Rambut panjang dengan cambang yang tidak beraturan tidak lagi menghias wajahnya. Wajahnya dibiarkan bersih serasi dengan potongan rambut cepaknya. Tapi.... mata itu tak berubah... mata yang dulu banyak menyinariku dengan tatapan cinta.
Lelaki itu mengajakku duduk menjauh dari peserta pelatihan yang lain. Acara bebas. Yang kuinginkan adalah mendengarkan kisahnya. Aku tak ubahnya seorang gadis kecil yang dengan setia mendengarkan dongeng tentang putri raja. Ku lupakan lukaku, ku lupakan dendamku. Aku hanya ingin bersamanya lebih lama lagi. Tanpa pernah terminta kenangan hari-hari yang lampau namun indah kembali bermunculan satu-satu. Aku memejamkan mata ketika putaran masa lalu itu kembali pada .... apa namanya ..... pada....entahlah ..... kata apa yang tepat untuk peritiwa itu ..... ya... mungikin ini.... pada pertama kalinya kami saling “terikat”. Dosa ternikmat yang lagi dan lagi kami ulangi di paruh napas umur belia kami. Dosa yang melanggengkan hubungan kami sampai akhirnya lelaki ini meninggalkanku untuk bersama wanita lain....
Materi pelatihan di hari-hari selanjutnya tidak lagi menarik bagiku. Trik-trik bagaimana memikat konsumen, bagaimana menjadi server yang baik, bagaimana menjadikan pelanggan seumur hidup berlalu tanpa terekam di otakku. Ajakan Mba Linda untuk shopping disela-sela istirahat ku tolak halus. Aku lebih memilih duduk disamping lelaki itu ketika pelatihan berlangsung, kami memilih meja yang sama baik ketika breakfast, launch dan dinner. Tak kusia-siakan waktu cofee break bersamanya. Apalagi waktu istirahat malam, tanda peserta pelatihan bebas menentukan acara masing-masing. Tapi kami tidak kemana-mana. Lelaki itu memilih bungalow hotel untuk menutarkan kisah hidupnya selang sepuluh tahun. Dan aku tak ubahnya gadis kecil yang menunggu lanjutan kisahnya.
“Lingga.... seandainya kamu mengizinkan, aku ingin menjelaskan mengapa aku meninggalkan.....”
“Tidak perlu, waktu kelabu itu telah berlalu, mungkin saat itu kebahagiaan tidak berpihak padaku....”
“Nasib manusia tidak bisa ditebak....” katanya datar. “Istriku meninggal ketika melahirkan putra kedua kami tiga tahun lalu, dia wanita yang patut mendapat surga.....” ku lihat guratan kelam di wajahnya.
“Maaf.... aku tidak bermaksud.....” sela ku
“Aku kini hanya memiliki Alyssa ... putriku dan adiknya, aku memberi nama itu agar tetap mengingatmu, nama yang kita rencanakan buat anak kita terpaksa kuberikan pada putriku, karena aku telah kehilangan kesempatan untuk memilikimu”
Aku membatin, hatiku miris mendengarnya. Nama itu juga kuberikan kepada putri kedua Dini, dengan tujuan yang sama adalah bahwa agar aku tetap mengingatnya.
“Tiga tahun, aku, Allyssa dan adiknya melawan hidup. Figur ibu kuberikan sekaligus pada mereka”
“Mengapa kamu tidak menikah lagi.....???”
“Karena ku yakin akan menemukanmu kembali” .... Aku bergidik sekaligus tersanjung mendengarnya. Kurasakan mataku menjadi hangat. Terbayang beratnya tugas yang diemban lelaki ini menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua anaknya. Peran ganda yang tidak semua orang mampu melakukannya. Sebuah keyakinan baru tiba-tiba muncul bahwa aku bisa memberi cinta seorang ibu bagi Allyssa dan adiknya.
“Lingga.... waktu berpihak padaku, aku akan memintamu untuk menemaniku menghabiskan sisa umur....”
Tanpa sadar aku tersenyum, “Seberapa besar keyakinanmu, bila aku menyetujuinya ?”
“Sebesar keyakinanku kalau cintamu padaku takkan pernah hilang, kamu tidak akan pernah mencinta lelaki manapun seperti kau mencintaiku”
“Besar sekali keyakinanmu”
“Karena kita memiliki cinta yang tidak tergantikan”

Lingga
Apakah arti semua ini ? apakah ini jalan untuk menemukan cintaku kembali. Kini di depanku sesosok lelaki yang kukenal hampir setengah umur hidupku menawarkan harapan yang seharusnya diucapkan sepuluh tahun yang lalu. Luka berdarah yang diberikan padaku entah menguap dimana, yang ada adalah keinginan kuat untuk melanjutkan hidup bersamanya.
Apakah aku salah untuk menyambut uluran cintanya (lagi ???). Ada dua jiwa mungil yang membutuhkanku. Aku telah mencintai anak-anak itu walau belum sekalipun melihat mereka. I love them before i meet .... Rangga ??? how about Rangga ???. Bagaimana dengan dentang pernikahan kami yang sebentar lagi ??? Bagaimana dan bagaimana..... tapi tiba-tiba aku merasa tidak berhak mendampinginya. Aku masih dan lebih mencintai lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta itu. Sejak dulu rasa yang ada terhadap Rangga tak bisa kusebut dengan cinta..... hanya sebuah ketergantungan yang dia ciptakan untukku....

Rangga
Lingga... aku akan mempertahankanmu. Pernikahan kita tinggal separuh napas. Mahligai cinta sebentar lagi kita miliki. Aku tak peduli kau mencintaiku atau tidak, aku akan menunggu hingga kau bersedia belajar untuk mencintaiku. Lingga.... jangan melakukan hal bodoh, dia tidak pantas untukmu. Aku mengenalnya jauh lebih baik dibanding denganmu. Lingga... dunia lelaki adalah dunia yang keras. Kau tidak mengetahui apa-apa pun tentang dirinya....

Lingga
Mata sembabku tak dapat kusembunyikan. Semuanya telah terjadi, dentang pernikahan telah kubatalkan. Ku permalukan orang tuaku, ku kecewakan papa yang selama ini selalu ada untukku. Aib merah telah kutorehkan. Seperti kata Dini dunia telah kiamat sebelum waktunya bagi keluargaku. Di rumah tak seorangpun menegurku. Aroma pernikahan terganti dengan suasana tegang dan kacau yang kuhadirkan. Aroma kematian lebih tepat sepertinya. Mas Abi, abangku satu-satunya mengancam akan mencari dan membunuh laki-laki pembuat onar itu. Kali ini dia tidak lagi menjadi abang yang siap melindungiku. Papa membuktikan kata-katanya dengan mengusirku dari rumah. Mama untuk kesekian kalinya harus dipobong karena pingsan. Rangga ??? kabar yang kudengar dia langsung menghilang sesaat pembatalan kuumumkan. Aku pun tak peduli kemana dia berada kini. Dini ???? mendadak dia menjadi orang asing bagiku.
Aku mengepak barang semampu yang kubawa, dua travelling bag penuh sesak oleh barang bawaan kugantung dikedua pundakku, tangan yang satu kugunakan untuk menyeret koper yang juga berisi penuh sesak. Akan kutinggalkan rumah ini dengan segala yang kuperbuat atasnya, atas mereka, orang-orang yang kucinta. Tapi aku pun tak peduli lagi, di sana lelaki yang hadir kembali itu telah menunggu bersama Allyssa dan adiknya, anak kami. Aku harus membiasakannya demikian. Aku hanya menyisakan sebuah tanya untuk mereka, tidak patutkan aku hidup bahagia dengan orang yang kucintai dan mencintaiku.... Lelakiku.... ini diriku love will lead me back.....
Aku baru akan membuka pintu mobilku, ketika Ima pembantu rumah mama berlari kearahku, “Mba Lingga, papa besar meminta kunci mobil ....”, “keluarlah dari rumah ini dengan dirimu sendiri....” ku dengar teriakan amarah papa. Aku memejamkan mata, sebulir air mengalir keluar. Kuserahkan kunci kontak itu pada Ima selanjutnya aku tau kemana aku harus melangkah....

Lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta...
Kini aku dapat melompat setinggi bintang..... Linggaku is coming back. Ditinggalkannya lelaki yang telah mengabdi untuk cintanya. Lelaki yang telah mengkhianatiku karena menghadirkan plot baru dalam skenario yang kurancang untuk menemukanmu dengan mencintaimu. Lelaki yang akhirnya memutuskan semua perjanjian antara sesama lelaki yang telah kami sepakati. Lingga apakah kau lupa ketika dua bulan lalu lelaki itu tiba-tiba tergolek di rumah sakit, itu bukan karena kecelakaan. Itu sebagian kecil dari akibat pengkhianatan yang dilakukan terhadapku. Melamarmu untuknya tidaklah termasuk dalam plot skenarioku. Dan aku hanya “mampu” memberinya beberapa hari untuk beristirahat total di rumah sakit tanpa perlu menyentuh fisiknya. Lingga...Lingga aku kini lelaki yang berkuasa.... dengan semua yang kumiliki aku dapat melakukan segalanya termasuk memilikimu kembali.
Linggaku is coming back....ditinggalkannya keluarga yang tiada pernah henti memberinya cinta dan segalanya dan semua karenaku ... untukku.... Aku tinggal menyempurnakan mimpiku. Segalanya telah kumiliki. Sepuluh tahun lalu kutinggalkan Lingga yang tidak menjanjikan apa-apa untuk kumiliki. Dan nasib manusia tidak bisa ditebak. I’m the lucky man. Keuntungan berpihak padaku. Putri pengusaha besar itu jatuh cinta padaku secara berlebihan. Kumanfaatkan cintanya untuk merebut sedikit demi sedikit harta orang tuanya. Dan gerakanku semakin cepat dengan menikahinya.

Linggaku.... Selama bersamamu tidak ada harapan besar yang kumiliki, ayahmu dengan pikiran kolot dan kunonya masih menuntut seorang menantu lelaki yang memulai segalanya dari bawah. Aku tak mampu menjawab tantangannya untuk memulai dari bawah. Aku ingin yang lebih cepat. Linggaku, aku bosan hidup dalam peta kemiskinan. Disegala sisi bagiku hanyalah lack of choice, lack of voice, lack of confidance, lack of opportunity dan sejumlah ketidaan dan ketidakberdayaan yang menghadangku di segala penjuru mata angin. Ayahku tak memiliki apa-apa untuk menjamin masa depanku, dalam hidupnya b-e-l-i-a-u hanya mempunyai satu semangat, semangat untuk menikah dan menikah lagi. Ditinggalkannya aku dan dua orang adikku yang masing kecil-kecil. Ibuku mati di pangkuanku ketika bertarung nyawa dengan penyakitnya, bukan karena penyakit yang tidak terobati tapi karena obat yang tak terbeli. Adik-adikku tumbuh di jalan, bau dan kumal, Linggaku..... dan semau itu membuatku gila ..... kutempuh berbagai cara untuk mengenyahkan “setan miskin” dalam hidupku namun aku harus tetap memilikimu. Kulalui hidup ganas yang liar dan keras, hingga waktu mempertemukan kita.
Linggaku.... Bagiku life is gambling.... dan akulah pemenangnya. Ayah mertuaku adalah pemilik perusahaan induk tempatmu bekerja, aku membaca lamaran kerja yang kau ajukan lima tahun silam. Atas memo dariku, kepala cabang perusahaan di kotamu wajib menerimamu. Aku bermain dibalik layar perusahaan ayah mertuaku dan aku tak bodoh, tak pernah sekalipun aku mendeklarasikan namaku di setiap sudut kegiatan perusahaan besar itu, ku tunggu waktu yang tepat. The right time will be coming. Seharusnya satu piala oscar jatuh ketanganku. I’m an actor, wanita yang kunikahi itu adalah satu-satunya pewaris perusahaan itu, dan satu kesalahannya adalah mencintaiku secara berlebihan, hingga apapun yang terjadi segalanya akan jatuh ketangannya. Dan..... lalu ke tangan siapa Lingga...???? Aku tinggal menyempurnakan mimpiku dan selanjutnya melompat setinggi bintang....

Dua hari sebelum pernikahan......

Rangga
Lingga memilih lelaki itu, lelaki yang olehku lebih tepat kusebut dengan “setan”. Tapi tidak.... aku belum kalah, aku tak mau menjadi pecundang, aku harus merebut Lingga dengan cara seorang lelaki. Tak akan kubiarkan lelaki itu merenggut hidupku untuk kedua kalinya.
Aku terbayang peristiwa beberapa tahun lampu... kusumpah serapahi kebiasaan kelamku bermain di meja judi. Kebiasaan yang menjadikanku menjadi sahabat sejati sekaligus lawan yang tangguh bagi lelaki itu. Belitan utang yang dililitkan padaku sedikit demi sedikit dijadikankannya sebagai jaminan agar aku mendekati Lingga namun dengan syarat jangan mencintainya. Namun hati kecilku tak bisa kutolak, membisikkan sebuah cinta. Sebuah cinta untuk Lingga. Ku khianati perjanjian antara sesama lelaki yang kami sepakati. Aku rela melepas saham yang kumiliki dibeberapa perusahaan yang terkait dengannya. Aku terpaksa melepas semua aset-aset penting perusahaan yang kumiliki. Aku melepas peluang untuk mengembangkan karirku di luar negeri, atas perintahnya karena dia memiliki kuasa untuk melakukannya. Dan aku lebih memilih kehilangan segalanya asal tidak dirimu. Kumulai karir dan hidupku dari bawah. Menjadi lelaki yang bersih. Seperti syarat mutlak dari papamu.
Pikiranku penuh sesak oleh sosok Lingga, oleh celoteh suara anak yang akan meramaikan mahligai rumah tangga kami. Oleh tatapan nanar keluargaku, oleh pembatalan pernikahan yang kau lakukan, oleh rasa iba yang lahir dari orang-orang yang bersimpati padaku dan oleh amarah lelakiku yang tersentuh...... aku hanya ingin melihatnya mati didepanku, ditanganku.... Tetapi penglihatanku mendadak samar dan buram...... yang sempat kudengar hanyalah pekikan orang-orang di jalan bersamaan dentuman keras, sebuah mobil truck dumping pengangkut kayu telah meluluh lantakkan sebuah mobil berwarna perak yang melaju kencang di atas rata-rata. Mobil yang tiba-tibanya remnya mendadak tidak berfungsi. Mobil yang seharusnya aku tumpangi bersama pengantinku..... selanjutnya aku hanya diam ...... ku pergi dengan semangat untuk merebut Linggaku kembali......

Aliyah
Apalagi yang tidak kulakukan dan kuberikan untuknya. Seandainya manusia bisa memiliki dua nyawa, maka nyawakulah yang yang menjadi nyawa keduanya. Sepuluh tahun aku berusaha menjadi istri dan ibu yang sempurna baginya dan bagi Allyssa dan Rangga, buah hati kami. Rangga...Rangga... aku tiba-tiba teringat dengan pemilik nama itu yang kemudian kujadikan sebagai nama putra keduaku. Di mana gerangan dia berada ? bagaimana rupanya sekarang ? bagaimana hidupnya kini ? sudahkah ia menikah pula ? Rangga.... sekelumit kisah masa laluku hadir tanpa ku minta. Rangga... satu sosok lelaki dimana dulu aku melabuhkan cintaku. My first love....love at the first sight, ketika kami bersekolah di tempat yang sama. Rangga dan Aliyah as the same as Romie and Juliet versi masa kami. Segalanya indah…. Hingga cintaku berbalik arah…. ketika aku menemukan cinta lain yang kurasakan melebihi segalanya yang pernah kurasakan bersama Rangga. Kutinggalkan Rangga dengan menyisakan luka baginya. Kupilih lelaki itu sebagai pendamping hidupku, yang ku kira untuk selamanya.

Dan kini …. Apa yang kudapat selama hidup bersamanya ? sekian lama mendampinginya tidak cukup bagiku untuk menghilangkan cinta abadi dari hatinya. Tidak cukup bagiku untuk mendapatkan cinta seutuhnya. Cinta abadinya itu terlalu kokoh bertahta dalam jiwanya. Seperti apa pula rupa dan bentuk perempuan itu hingga suamiku tiada henti mendambanya, dan keinginannya itu diutarakan dengan jelas padaku. Adakah sesuatu yang lebih menyakitkan ketika seorang suami mempunyai cinta di luar rumah tangganya sendiri. Baginya diriku hanyalah sebuah jembatan “emas” untuk meraih mimpinya. Satu kesalahanku adalah mencintanya secara berlebihan, hingga apapun yang dilakukan selalu tersedia berjuta maaf untuknya. Semua management perusahaan papaku kini berada dibawah kendalinya. He is a good manager and negasiator. Semua masalah bisnis yang terkait politik di perusaahaan papaku terselesaikan oleh pikirannya yang harus kuakui: cemerlang ….. Namun yang lebih penting adalah aku tidak mau Allyssa dan Rangga kehilangan ayah mereka. Satu nilai emas dari suamiku, dia adalah seorang ayah yang sempurna bagi Alyssa dan Rangga, tapi dia tidak bisa ….bukan …… bukan tidak bisa…. Dia tidak berniat menjadi suami yang baik bagiku.
Sebulan yang lalu…. Ayah dari anak-anakku itu menyatakan dengan lugas padaku bila cinta abadinya telah kembali. My love is coming back…. katanya penuh kemenangan. Dan dia tidak perlu meminta pendapat dariku karena kata ya atau tidak dariku tidak akan mempengaruhi niatnya untuk kembali pada cintanya itu. Aku tidak menangis ….. hatiku telah lama siap menanti datangnya waktu ini. Waktu di mana suamiku menemukan kembali cinta abadinya, namun jiwa dan ragaku telah berjanji untuk tetap mendampinginya apapun yang terjadi….. he still my husband, now and forever……

Dua bulan setelah rencana pernikahan

Lingga
Tuhan... kapankah waktu itu datang ??? putarlah waktu lebih cepat agar aku dan lelakiku segera bisa bersama. Telah kupertaruhkan segalanya. Rangga ??? kecelakaan yang merengut nyawanya hampir seratus persen dituduhkan akibat ulahku. Aku berduka cinta mendalam. Kudatangi makamnya ketika orang-orang telah berlalu. Seribu doa dan permohonan maaf kupanjatkan untuk damainya di alam sana. “Kecelakaan bisa terjadi kapan dan dimana saja, pada siapa saja... toh catatan kepolisian mendapati dia sedang mabuk ketika mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi...” kata-kata lelakiku menentramkan jiwaku, menghalau rasa berdosa yang hadir...

Breaking News di layar tivi memaksaku untuk menyimak beritanya. “Pemirsa pihak kepolisian akhirnya berhasil mengungkap menyebab kematian Rangga Satriakusuma, kecelakaan mobil yang dialaminya diduga kuat bermotif persaingan bisnis. Bukti-bukti telah ditemukan bahwa kematiannya merupakan pembunuhan terencana yang dilakukan oleh..... ...... aku berteriak histeris ketika pembaca berita itu menyebut sebuah nama yang terdiri dari tiga kata bersamaan dengan munculnya wajah lelakiku di layar kaca. Otak dari pembunuhan ini adalah.... sekali lagi pembaca beritu itu menyebut nama lelakiku, disamping di duga sebagai pelakunya juga terkait dengan berbagai masalah pengedaran narkoba....... berikut ini komentar dari tersangka yang senantiasa didampingi oleh Aliyah istrinya yang merupakan putri tunggal Bapak Adam Kartasasmita pemimpin dan pemilik sejumlah perusahaan terbesar di Kota.....Aku tidak mampu lagi mencerna kalimat-kalimat berita itu. Penglihatanku mendadak samar dan buram....... gelap........selintas kulihat Rangga memberiku sebuah mahligai kaca..... dan ketika berhasil kugapai, mahligai kaca itu menjadi hancur berkeping-keping...... mahligai kaca yang tak berbentuk........