Mahligai tak berbentuk..........
Rangga
Sebentar lagi dunia yang sebenarnya akan kugenggam. Akan ku mulai melukis hidup bersamanya dengan cintaku. Mentari pagi akan selalu menyinari hidupku setelah ini dan selamanya, meskipun hari hujan dan mendung menggelayut. Aku akan menjadi lelaki abadi baginya mempertaruhkan segalanya untuknya. Sebelum memilikinya pun aku telah memberikan yang terbaik yang kumiliki, bagaimana mungkin tidak kulanjutkan ketika dia benar-benar telah menjadi milikiku. Akan lahir generasi baru yang akan mewarisi hidup kami. Akan ada sosok mungil yang memanggil kami mam and dad, akan ada kehidupan “kecil” di rumah mungil kami. Tuhan.... putarlah waktumu lebih cepat, ku tak sabar memulai hari bahagiaku....
Lingga
Bagaimana aku mengatakan padanya setelah semuanya tinggal sedepak di depan mata, bagaimana aku memulai kata kalau ragu tiba-tiba hadir untuk hidup bersamanya. Dimana aku mencari kekuatan untuk mulai mengatakan apa yang berkecamuk di dadaku. Aku telah menanyai hatiku dan memohon jawaban yang jujur, dan telah kudapatkan jawabannya... aku tak ingin bersamanya, tak mungkin aku bisa hidup dengan seseorang dimana hatiku tidak bersamanya. Ku tau dunia disekelilingku akan “hancur lebur” karena ulahku ini. Tuhan... tahanlah waktumu berputar agar kutemukan cara untuk “tidak memulai” hari bahagiaku....
“Are you serious honey....? common be the beautiful bride for him... and i i will give you something special ........”
“Dini.... please... aku tidak bermain. Aku ingin mengakhirinya. Aku tidak mencintainya”..... aku tidak mampu lagi melanjutkan kalimat, tetasan air mata telah membuat Dini membelalakkan mata. Dan itu melegakanku, artinya dia telah paham bahwa apa yang barusan kukatakan adalah yang sebenarnya.
“What is going on with you ?, Lingga kau belum gila kan ?”... Dini masih manatapku dan mencoba memegang kepalaku untuk memastikan kalau jarum diotakku masih berskala normal.
“Aku tidak ingin bersamanya... aku tidak akan menikah dengannya...”
“But why ??? apa yang telah terjadi ?, It’s not fair Lingga”
“Akan lebih tidak adil lagi bila aku tetap menikah dengannya”
“Selama tiga tahun kau baru menyadari kalau kau tidak mencintainya ? setelah semua dilakukan untukmu ?” Dini menatapku tak percaya sambil mengibaskan secarik undangan pernikahanku yang berada di ditangannya.
“Jangan gila kamu, pernikahanmu tinggal tiga minggu lagi”
“Dini.... bantu aku.... selama tiga tahun bersamanya aku baru menyadari kalau rasaku terhadapnya bukanlah sebuah cinta, hanya sebuah ketergantungan yang dia ciptakan untukku. Aku mengingatnya bila aku membutuhkan sesuatu, bukan dirinya. Aku memintanya hadir setiap saat dan waktu bukan karena aku ingin bersamanya.....
“Lingga, cukup!!! dengar ! aku kesini untuk memastikan daftar undangan telah tiba ditujuannya masing-masing, bukan untuk mendengar ide gilamu, oke. Don’t make the world will be coming end ....”
Braak.... sebuah bantingan pintu berbunyi keras bersamaan dengan keluarnya Dini dari kamarku, sepupu sekaligus sahabatku, dimana segala rahasia hidupku tersimpan olehnya.
Aku menghapus butiran air mata yang tiba-tiba mengalir, “ada apa ini ?, apa kurangnya seorang Rangga ?”. Orang-orang disekitarku tiada henti-hentinya mensyukuri karena yang memiliki Rangga adalah diriku, betapa patutnya menurut mereka aku yang memiliki kebahagiaan itu. Tanpa sadar aku mengoyak selembar undangan pernikahanku yang tadi dikibaskan Dini padaku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin, dan semakin jelas kutemukan jawaban pasti, aku tidak ingin bersamanya. Aku tidak gila atau setidaknya belum seperti yang dikatakan Dini. Justru kewarasan yang stabil dalam otak dan pikiranku yang mengatakan kalau akau harus mengakhiri rencana hidup bersamanya. Masih tiga minggu lagi..... masih ada 21 hari untuk mengakhirinya......
Lingga
The world coming end out of the schedule..... dunia kiamat sebelum waktunya, setidaknya itulah yang terjadi di rumahku sekarang. Entah keberanian dari mana, kuutarakan yang mengganjal di hatiku pada mama setelah makan siang. Mama menamparku untuk yang pertama sepanjang hidupku, perih tamparan mama terganti oleh rasa lega karena telah kuutarakan maksud hatiku. Seribu pertanyaan dari puluhan mata orang-orang sekitarku memaksaku untuk memberi jawaban. Sejuta komentar menyakitkan keluar dari mulut-mulut mereka, memaksa telingaku untuk mendengar dan mencernanya. Papa “mendeklarasikan” diriku sebagai pembuat malu keluarga dengan tambahan akan melupakan kalau aku pernah menjadi anaknya bila aku membatalkan pernikahanku. Dan memang itu pantas mereka lakukan atas diriku, tapi apakah aku salah untuk tidak memulai kesalahan besar dalam hidupku?. Hatiku menangis darah, tidak seorang pun di pihakku. I’m the only one accuser ............
Dini
Crazy Lingga. What are you thingking about ? Pernikahanmu sudah lama dinantikan oleh orang tua dan keluarga besar. Apa artinya selama ini dia selalu meminta advice dariku tentang relationship antara suami istri dan anak dalam sebuah rumah tangga. Aku mengelus kepala Alyssa putri keduaku yang tertidur lelap dipelukanku. Crazy Lingga.... kamu hanya belum merasakan nikmatnya ketika ada satu nyawa yang terlelap nyaman dalam pelukmu. Aku mendesah, kepalaku dibuat panik oleh Crazy Lingga. Aku akan tetap menyebutnya seperti itu sampai kewarasannya kembali. Seandainya bisa aku hanya ingin menyambak rambutnya seperti yang biasa kulakukan ketika kami masih anak-anak, ketika aroma perkelahian telah mendominasi permainan kami. Now... sekarang aku ingin menjambaknya lagi meskipun ku tau dia tidak mungkin mendiamkan, tapi kami bukanlah anak-anak belasan tahun silam yang menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Sejumlah peristiwa terkilas balik dalam pikiranku, seperti slide yang diputar ulang, jelas dan nyata, peristiwa-peristiwa tentang seorang Lingga yang ku kenal selama ini. Tidak.... gerakan dan teriakanku nyaris membangunkan Alyssa. Crazy Lingga, kamu tidak gila, aku ada dipihakmu......
Lingga
“May i....” ku lihat kepala Dini disela pintu kamarku. Tanpa menunggu jawabanku Dini masuk dan mengunci kamar. Aku hanya mampu melihat apa yang selanjutnya akan dibuat dan dikatakan wanita satu ini. Pikiranku penuh, sesak. Mataku sembab.
“Lingga ? kamu ...?” dengan perlahan Dini mengepalkan tangan kanannya, membuka satu persatu jarinya hingga kepalan tanggannya terbuka, dan mengarahkan jempolnya ke bawah diikuti tatapan matanya padaku.
“Ya... ya... “ Dini akhirnya mengingatnya, suatu gerakan yang kami ciptakan kalau sesuatu akan atau tidak kami lakukakan. Dini mengarahkan jempolnya ke bawah bukan sebaliknya. Berarti dia mengerti kalau itu adalah keputusan final yang tak tergugat. Tangisku pecah dalam pelukan Dini, akhirnya ada satu nyawa yang mendukungku.
Lingga
Lelaki itu hadir kembali tanpa ku minta, lelaki yang di hari kemarin mengajarkan makna cinta sekaligus mematikanku dalam nyawa dan raga yang masih hidup. Lelaki itu hadir kembali di detik terakhir aroma pernikahanku. Pertemuan tak sengaja namun kuimpikan sepanjang hidupku.
Pelatihan antara cabang perusahaan mengharuskanku mewakili Pa Jayadi, kepala divisiku yang mendadak mengajukan cuti. Kutangkap peluang itu dengan senang hati, adalah kesempatan yang sayang dilewatkan untuk bertemu dengan orang-orang perusahaan yang berasal dari daerah lain. Mba Linda dari cabang Medan telah meng-sms-ku memastikan bahwa akulah yang akan menghadiri pelatihan itu. Keseringan mewakili perusahaan membuatku dan Mba Linda bisa melalanglang buana dan yang pasti menyalurkan “jadwal rutin” kami, apalagi kalau bukan kata yang berbunyi SHOPPING..... uang perjalanan dinas akan mengalir tanpa sisa bila telah bersama Mba Linda. “Kami patut mendapatkan barang-barang yang kami inginkan....” itu semboyan Mba Linda yang kubenarkan untuk menghapuskan rasa bersalah. Toh di lain pihak i’m a single, aku bebas memanfaatkan dana yang kumiliki sesukaku. Beda dengan Marin, teman satu divisiku yang harus menutupi semua kebutuhan keluarganya walaupun masih berstatus sama denganku. Satu yang ku syukuri, sejak kecil hingga mempunyai penghasilan sendiri, aku masih bisa mengandalkan papa sebagai “penyelamatku”, papa adalah IMF bagiku namun tidak pernah mengharapkan pengembalian apalagi bunga. I have two income every moon. I’m a great happy single in the world.
Dini si ibu muda itu selalu menggodaku, salah satu alasanku menunda pernikahan adalah bahwa aku takut kehilangan sumber penghasilan keduaku yang notabene bisa lebih besar dari gajiku di perusahaan Si Mister Perfect itu. But the way.... aku mencintai pekerjaanku. Bersusah payah aku menyelesaikan dua gelar sarjana, bekerja adalah eksistensi yang menunjukkan jerih payahku itu tidak sia-sia. Ku buat papa bangga dengan karirku. Tahun ini memasuki tahun ke lima aku bekerja, dan seingatku di bulan ke lima keberadaanku di divisi pemasaran range penjualan bergerak naik, memang bukan atas prestasi kerjaku sendiri. We have a team work, dan aku bangga bisa termasuk dalam team work Pak Jayadi yang selalu mensupportku untuk bekerja dan bekerja lebih baik.
Ah.... sampai di mana tadi ? aku memaksa otak kiriku untuk memback up kembali rentetan peristiwa yang kualami, lelaki itu hadir kembali tanpa ku minta....
Aku nyaris berteriak ketika membaca sebuah nama pada list yang diberikan pegawai front office pada hotel tempatku menginap. Tak mungkin aku melupakan siapa pemilik nama itu. Namanya berada di urutan kesebelas sebagai salah satu peserta pelatihan, namaku berada lima nama dibawahnya, aku tidak sempat lagi melihat nama-nama peserta lain, rasa aneh tiba-tiba menjalar diseluruh tubuhku. Kurasakan kaki dan tanganku bergetar, tak mungkin..... tak mungkin.... nama itu pasti masih dipergunakannya sampai sekarang. Kata depan sebuah nama mempunyai seribu kemungkinan untuk sama, tapi dua kata terakhir nama itu hanya dia yang memilikinya.
Lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta
Finally, i find you again...... ku temukan kembali duniaku. Usahaku tidak tersia-siakan. Pertemuan ini adalah bukan sebuah kebetulan semata, aku yang merancangnya, aku yang meminta Pa Jayadi untuk mengutus Linggaku mewakili perusahaan. Apa gunanya jabatan yang kupegang di perusahaan induk bila tak bisa kugunakan untuk menemukannya. Untuk Linggaku aku akan melakukan segalanya. Akan kubayar luka yang kutorehkan dalam hidupnya sepuluh tahun silam, ketika tanpa alasan yang dapat dia terima aku meninggalkannya, dan memilih menikah dengan wanita lain. Aku telah mematahkan kuncup bunganya yang baru merekah, aku telah menghilangkan wangi bunganya yang baru menyebar.
Linggaku kini didepanku, aku takkan melepaskannya lagi, akan kurengut kembali dunia yang seharusnya kumiliki. Lingga.... Lingga.... aku mengetahui setiap cerita hidupmu sepeninggalku, termasuk rencana pernikahanmu bulan depan dengan lelaki itu. Siapa namanya ?.... ya Randa... bukan...bukan tapi Rangga. Lelaki yang tiga tahun telah “mengabdikan diri” untuk merebut cintamu. Linggaku.... Dengan kekuatan cinta aku meyakini sepenuh hati kalau kau masih dan akan tetap mencintaiku.... pun atas luka yang telah kutorehkan untukmu....
“Lingga.... apa kabar ?” sebuah sapan ringan menyapaku, ringan tapi bagiku perlu berton-ton kubik kekuatan untuk menoleh pada arah suara itu.
“Hai... baik, kamu ?.....” aku akhirnya berhasil menyapanya.
Jabatan tanganku dibawanya untuk berpindah tempat pada sofa empuk di lobi hotel. Tanganku belum dilepaskannya. Hangat gelombangan elektoromagnetik kurasakan mengalir dari tangannya.
“Tak kusangka kita bertemu disini, kamu ikut juga dalam pelatihan ?” sebuah pertanyaan basi nan tolol kuajukan. Namun aku mencoba bersikap profesional layaknya seseorang yang baru bertemu dengan teman lama. Tapi lebih dari itu aku ingin menunjukkan kepada lelaki ini bahwa sekarang aku adalah wanita sempurna dalam segalanya. Karir dan cinta yang kumiliki. Apalagi ??? So what ???
“Aku tidak tau kalau kita bekerja pada perusahaan yang sama ? oh iya kamu dari cabang mana?” kutemukan juga pertanyaan yang cukup masuk di akal.
“Aku baru bergabung dengan perusahaan ini, aku di cabang baru di Ambon ”
“Ya... ya...” aku mengangguk-anggukkan kepala tanda bahwa aku tau kalau perusahaan kami telah melakukan ekspansi di wilayah timur.
“Jadi kamu yang menjadi kepala cabang di sana ?” aku bertanya sekaligus untuk menjatuhkannya karena yang menjadi kepala cabang di sana adalah Mas Widya dari cabang Bengkulu. Paling tidak aku mengetahui kalau posisinya di perusahaan kami tidak lah jauh-jauh beda denganku. Artinya sepuluh tahun berpisah dia belum menjadi siapa-siapa. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu berbicara sesantai dirinya. Kulupakan janjiku sepuluh tahun lalu, bahwa aku akan memakinya pun di mana kami kelak bertemu setelah sepuluh tahun dia meninggalkanku.
Lingga
Acara dinner menyudahi jadwal pelatihan hari pertama. I can’t explain why ??? tapi aku menginginkan jadwal pelatihan selama seminggu ini bisa diperpanjang. Aku masih ingin mendengarkan cerita hidup lelaki yang hadir kembali itu. Waktu sepuluh tahun telah menghadirkan sosok lelaki yang sepenuhnya pada dirinya. Rambut panjang dengan cambang yang tidak beraturan tidak lagi menghias wajahnya. Wajahnya dibiarkan bersih serasi dengan potongan rambut cepaknya. Tapi.... mata itu tak berubah... mata yang dulu banyak menyinariku dengan tatapan cinta.
Lelaki itu mengajakku duduk menjauh dari peserta pelatihan yang lain. Acara bebas. Yang kuinginkan adalah mendengarkan kisahnya. Aku tak ubahnya seorang gadis kecil yang dengan setia mendengarkan dongeng tentang putri raja. Ku lupakan lukaku, ku lupakan dendamku. Aku hanya ingin bersamanya lebih lama lagi. Tanpa pernah terminta kenangan hari-hari yang lampau namun indah kembali bermunculan satu-satu. Aku memejamkan mata ketika putaran masa lalu itu kembali pada .... apa namanya ..... pada....entahlah ..... kata apa yang tepat untuk peritiwa itu ..... ya... mungikin ini.... pada pertama kalinya kami saling “terikat”. Dosa ternikmat yang lagi dan lagi kami ulangi di paruh napas umur belia kami. Dosa yang melanggengkan hubungan kami sampai akhirnya lelaki ini meninggalkanku untuk bersama wanita lain....
Materi pelatihan di hari-hari selanjutnya tidak lagi menarik bagiku. Trik-trik bagaimana memikat konsumen, bagaimana menjadi server yang baik, bagaimana menjadikan pelanggan seumur hidup berlalu tanpa terekam di otakku. Ajakan Mba Linda untuk shopping disela-sela istirahat ku tolak halus. Aku lebih memilih duduk disamping lelaki itu ketika pelatihan berlangsung, kami memilih meja yang sama baik ketika breakfast, launch dan dinner. Tak kusia-siakan waktu cofee break bersamanya. Apalagi waktu istirahat malam, tanda peserta pelatihan bebas menentukan acara masing-masing. Tapi kami tidak kemana-mana. Lelaki itu memilih bungalow hotel untuk menutarkan kisah hidupnya selang sepuluh tahun. Dan aku tak ubahnya gadis kecil yang menunggu lanjutan kisahnya.
“Lingga.... seandainya kamu mengizinkan, aku ingin menjelaskan mengapa aku meninggalkan.....”
“Tidak perlu, waktu kelabu itu telah berlalu, mungkin saat itu kebahagiaan tidak berpihak padaku....”
“Nasib manusia tidak bisa ditebak....” katanya datar. “Istriku meninggal ketika melahirkan putra kedua kami tiga tahun lalu, dia wanita yang patut mendapat surga.....” ku lihat guratan kelam di wajahnya.
“Maaf.... aku tidak bermaksud.....” sela ku
“Aku kini hanya memiliki Alyssa ... putriku dan adiknya, aku memberi nama itu agar tetap mengingatmu, nama yang kita rencanakan buat anak kita terpaksa kuberikan pada putriku, karena aku telah kehilangan kesempatan untuk memilikimu”
Aku membatin, hatiku miris mendengarnya. Nama itu juga kuberikan kepada putri kedua Dini, dengan tujuan yang sama adalah bahwa agar aku tetap mengingatnya.
“Tiga tahun, aku, Allyssa dan adiknya melawan hidup. Figur ibu kuberikan sekaligus pada mereka”
“Mengapa kamu tidak menikah lagi.....???”
“Karena ku yakin akan menemukanmu kembali” .... Aku bergidik sekaligus tersanjung mendengarnya. Kurasakan mataku menjadi hangat. Terbayang beratnya tugas yang diemban lelaki ini menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua anaknya. Peran ganda yang tidak semua orang mampu melakukannya. Sebuah keyakinan baru tiba-tiba muncul bahwa aku bisa memberi cinta seorang ibu bagi Allyssa dan adiknya.
“Lingga.... waktu berpihak padaku, aku akan memintamu untuk menemaniku menghabiskan sisa umur....”
Tanpa sadar aku tersenyum, “Seberapa besar keyakinanmu, bila aku menyetujuinya ?”
“Sebesar keyakinanku kalau cintamu padaku takkan pernah hilang, kamu tidak akan pernah mencinta lelaki manapun seperti kau mencintaiku”
“Besar sekali keyakinanmu”
“Karena kita memiliki cinta yang tidak tergantikan”
Lingga
Apakah arti semua ini ? apakah ini jalan untuk menemukan cintaku kembali. Kini di depanku sesosok lelaki yang kukenal hampir setengah umur hidupku menawarkan harapan yang seharusnya diucapkan sepuluh tahun yang lalu. Luka berdarah yang diberikan padaku entah menguap dimana, yang ada adalah keinginan kuat untuk melanjutkan hidup bersamanya.
Apakah aku salah untuk menyambut uluran cintanya (lagi ???). Ada dua jiwa mungil yang membutuhkanku. Aku telah mencintai anak-anak itu walau belum sekalipun melihat mereka. I love them before i meet .... Rangga ??? how about Rangga ???. Bagaimana dengan dentang pernikahan kami yang sebentar lagi ??? Bagaimana dan bagaimana..... tapi tiba-tiba aku merasa tidak berhak mendampinginya. Aku masih dan lebih mencintai lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta itu. Sejak dulu rasa yang ada terhadap Rangga tak bisa kusebut dengan cinta..... hanya sebuah ketergantungan yang dia ciptakan untukku....
Rangga
Lingga... aku akan mempertahankanmu. Pernikahan kita tinggal separuh napas. Mahligai cinta sebentar lagi kita miliki. Aku tak peduli kau mencintaiku atau tidak, aku akan menunggu hingga kau bersedia belajar untuk mencintaiku. Lingga.... jangan melakukan hal bodoh, dia tidak pantas untukmu. Aku mengenalnya jauh lebih baik dibanding denganmu. Lingga... dunia lelaki adalah dunia yang keras. Kau tidak mengetahui apa-apa pun tentang dirinya....
Lingga
Mata sembabku tak dapat kusembunyikan. Semuanya telah terjadi, dentang pernikahan telah kubatalkan. Ku permalukan orang tuaku, ku kecewakan papa yang selama ini selalu ada untukku. Aib merah telah kutorehkan. Seperti kata Dini dunia telah kiamat sebelum waktunya bagi keluargaku. Di rumah tak seorangpun menegurku. Aroma pernikahan terganti dengan suasana tegang dan kacau yang kuhadirkan. Aroma kematian lebih tepat sepertinya. Mas Abi, abangku satu-satunya mengancam akan mencari dan membunuh laki-laki pembuat onar itu. Kali ini dia tidak lagi menjadi abang yang siap melindungiku. Papa membuktikan kata-katanya dengan mengusirku dari rumah. Mama untuk kesekian kalinya harus dipobong karena pingsan. Rangga ??? kabar yang kudengar dia langsung menghilang sesaat pembatalan kuumumkan. Aku pun tak peduli kemana dia berada kini. Dini ???? mendadak dia menjadi orang asing bagiku.
Aku mengepak barang semampu yang kubawa, dua travelling bag penuh sesak oleh barang bawaan kugantung dikedua pundakku, tangan yang satu kugunakan untuk menyeret koper yang juga berisi penuh sesak. Akan kutinggalkan rumah ini dengan segala yang kuperbuat atasnya, atas mereka, orang-orang yang kucinta. Tapi aku pun tak peduli lagi, di sana lelaki yang hadir kembali itu telah menunggu bersama Allyssa dan adiknya, anak kami. Aku harus membiasakannya demikian. Aku hanya menyisakan sebuah tanya untuk mereka, tidak patutkan aku hidup bahagia dengan orang yang kucintai dan mencintaiku.... Lelakiku.... ini diriku love will lead me back.....
Aku baru akan membuka pintu mobilku, ketika Ima pembantu rumah mama berlari kearahku, “Mba Lingga, papa besar meminta kunci mobil ....”, “keluarlah dari rumah ini dengan dirimu sendiri....” ku dengar teriakan amarah papa. Aku memejamkan mata, sebulir air mengalir keluar. Kuserahkan kunci kontak itu pada Ima selanjutnya aku tau kemana aku harus melangkah....
Lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta...
Kini aku dapat melompat setinggi bintang..... Linggaku is coming back. Ditinggalkannya lelaki yang telah mengabdi untuk cintanya. Lelaki yang telah mengkhianatiku karena menghadirkan plot baru dalam skenario yang kurancang untuk menemukanmu dengan mencintaimu. Lelaki yang akhirnya memutuskan semua perjanjian antara sesama lelaki yang telah kami sepakati. Lingga apakah kau lupa ketika dua bulan lalu lelaki itu tiba-tiba tergolek di rumah sakit, itu bukan karena kecelakaan. Itu sebagian kecil dari akibat pengkhianatan yang dilakukan terhadapku. Melamarmu untuknya tidaklah termasuk dalam plot skenarioku. Dan aku hanya “mampu” memberinya beberapa hari untuk beristirahat total di rumah sakit tanpa perlu menyentuh fisiknya. Lingga...Lingga aku kini lelaki yang berkuasa.... dengan semua yang kumiliki aku dapat melakukan segalanya termasuk memilikimu kembali.
Linggaku is coming back....ditinggalkannya keluarga yang tiada pernah henti memberinya cinta dan segalanya dan semua karenaku ... untukku.... Aku tinggal menyempurnakan mimpiku. Segalanya telah kumiliki. Sepuluh tahun lalu kutinggalkan Lingga yang tidak menjanjikan apa-apa untuk kumiliki. Dan nasib manusia tidak bisa ditebak. I’m the lucky man. Keuntungan berpihak padaku. Putri pengusaha besar itu jatuh cinta padaku secara berlebihan. Kumanfaatkan cintanya untuk merebut sedikit demi sedikit harta orang tuanya. Dan gerakanku semakin cepat dengan menikahinya.
Rangga
Sebentar lagi dunia yang sebenarnya akan kugenggam. Akan ku mulai melukis hidup bersamanya dengan cintaku. Mentari pagi akan selalu menyinari hidupku setelah ini dan selamanya, meskipun hari hujan dan mendung menggelayut. Aku akan menjadi lelaki abadi baginya mempertaruhkan segalanya untuknya. Sebelum memilikinya pun aku telah memberikan yang terbaik yang kumiliki, bagaimana mungkin tidak kulanjutkan ketika dia benar-benar telah menjadi milikiku. Akan lahir generasi baru yang akan mewarisi hidup kami. Akan ada sosok mungil yang memanggil kami mam and dad, akan ada kehidupan “kecil” di rumah mungil kami. Tuhan.... putarlah waktumu lebih cepat, ku tak sabar memulai hari bahagiaku....
Lingga
Bagaimana aku mengatakan padanya setelah semuanya tinggal sedepak di depan mata, bagaimana aku memulai kata kalau ragu tiba-tiba hadir untuk hidup bersamanya. Dimana aku mencari kekuatan untuk mulai mengatakan apa yang berkecamuk di dadaku. Aku telah menanyai hatiku dan memohon jawaban yang jujur, dan telah kudapatkan jawabannya... aku tak ingin bersamanya, tak mungkin aku bisa hidup dengan seseorang dimana hatiku tidak bersamanya. Ku tau dunia disekelilingku akan “hancur lebur” karena ulahku ini. Tuhan... tahanlah waktumu berputar agar kutemukan cara untuk “tidak memulai” hari bahagiaku....
“Are you serious honey....? common be the beautiful bride for him... and i i will give you something special ........”
“Dini.... please... aku tidak bermain. Aku ingin mengakhirinya. Aku tidak mencintainya”..... aku tidak mampu lagi melanjutkan kalimat, tetasan air mata telah membuat Dini membelalakkan mata. Dan itu melegakanku, artinya dia telah paham bahwa apa yang barusan kukatakan adalah yang sebenarnya.
“What is going on with you ?, Lingga kau belum gila kan ?”... Dini masih manatapku dan mencoba memegang kepalaku untuk memastikan kalau jarum diotakku masih berskala normal.
“Aku tidak ingin bersamanya... aku tidak akan menikah dengannya...”
“But why ??? apa yang telah terjadi ?, It’s not fair Lingga”
“Akan lebih tidak adil lagi bila aku tetap menikah dengannya”
“Selama tiga tahun kau baru menyadari kalau kau tidak mencintainya ? setelah semua dilakukan untukmu ?” Dini menatapku tak percaya sambil mengibaskan secarik undangan pernikahanku yang berada di ditangannya.
“Jangan gila kamu, pernikahanmu tinggal tiga minggu lagi”
“Dini.... bantu aku.... selama tiga tahun bersamanya aku baru menyadari kalau rasaku terhadapnya bukanlah sebuah cinta, hanya sebuah ketergantungan yang dia ciptakan untukku. Aku mengingatnya bila aku membutuhkan sesuatu, bukan dirinya. Aku memintanya hadir setiap saat dan waktu bukan karena aku ingin bersamanya.....
“Lingga, cukup!!! dengar ! aku kesini untuk memastikan daftar undangan telah tiba ditujuannya masing-masing, bukan untuk mendengar ide gilamu, oke. Don’t make the world will be coming end ....”
Braak.... sebuah bantingan pintu berbunyi keras bersamaan dengan keluarnya Dini dari kamarku, sepupu sekaligus sahabatku, dimana segala rahasia hidupku tersimpan olehnya.
Aku menghapus butiran air mata yang tiba-tiba mengalir, “ada apa ini ?, apa kurangnya seorang Rangga ?”. Orang-orang disekitarku tiada henti-hentinya mensyukuri karena yang memiliki Rangga adalah diriku, betapa patutnya menurut mereka aku yang memiliki kebahagiaan itu. Tanpa sadar aku mengoyak selembar undangan pernikahanku yang tadi dikibaskan Dini padaku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin, dan semakin jelas kutemukan jawaban pasti, aku tidak ingin bersamanya. Aku tidak gila atau setidaknya belum seperti yang dikatakan Dini. Justru kewarasan yang stabil dalam otak dan pikiranku yang mengatakan kalau akau harus mengakhiri rencana hidup bersamanya. Masih tiga minggu lagi..... masih ada 21 hari untuk mengakhirinya......
Lingga
The world coming end out of the schedule..... dunia kiamat sebelum waktunya, setidaknya itulah yang terjadi di rumahku sekarang. Entah keberanian dari mana, kuutarakan yang mengganjal di hatiku pada mama setelah makan siang. Mama menamparku untuk yang pertama sepanjang hidupku, perih tamparan mama terganti oleh rasa lega karena telah kuutarakan maksud hatiku. Seribu pertanyaan dari puluhan mata orang-orang sekitarku memaksaku untuk memberi jawaban. Sejuta komentar menyakitkan keluar dari mulut-mulut mereka, memaksa telingaku untuk mendengar dan mencernanya. Papa “mendeklarasikan” diriku sebagai pembuat malu keluarga dengan tambahan akan melupakan kalau aku pernah menjadi anaknya bila aku membatalkan pernikahanku. Dan memang itu pantas mereka lakukan atas diriku, tapi apakah aku salah untuk tidak memulai kesalahan besar dalam hidupku?. Hatiku menangis darah, tidak seorang pun di pihakku. I’m the only one accuser ............
Dini
Crazy Lingga. What are you thingking about ? Pernikahanmu sudah lama dinantikan oleh orang tua dan keluarga besar. Apa artinya selama ini dia selalu meminta advice dariku tentang relationship antara suami istri dan anak dalam sebuah rumah tangga. Aku mengelus kepala Alyssa putri keduaku yang tertidur lelap dipelukanku. Crazy Lingga.... kamu hanya belum merasakan nikmatnya ketika ada satu nyawa yang terlelap nyaman dalam pelukmu. Aku mendesah, kepalaku dibuat panik oleh Crazy Lingga. Aku akan tetap menyebutnya seperti itu sampai kewarasannya kembali. Seandainya bisa aku hanya ingin menyambak rambutnya seperti yang biasa kulakukan ketika kami masih anak-anak, ketika aroma perkelahian telah mendominasi permainan kami. Now... sekarang aku ingin menjambaknya lagi meskipun ku tau dia tidak mungkin mendiamkan, tapi kami bukanlah anak-anak belasan tahun silam yang menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Sejumlah peristiwa terkilas balik dalam pikiranku, seperti slide yang diputar ulang, jelas dan nyata, peristiwa-peristiwa tentang seorang Lingga yang ku kenal selama ini. Tidak.... gerakan dan teriakanku nyaris membangunkan Alyssa. Crazy Lingga, kamu tidak gila, aku ada dipihakmu......
Lingga
“May i....” ku lihat kepala Dini disela pintu kamarku. Tanpa menunggu jawabanku Dini masuk dan mengunci kamar. Aku hanya mampu melihat apa yang selanjutnya akan dibuat dan dikatakan wanita satu ini. Pikiranku penuh, sesak. Mataku sembab.
“Lingga ? kamu ...?” dengan perlahan Dini mengepalkan tangan kanannya, membuka satu persatu jarinya hingga kepalan tanggannya terbuka, dan mengarahkan jempolnya ke bawah diikuti tatapan matanya padaku.
“Ya... ya... “ Dini akhirnya mengingatnya, suatu gerakan yang kami ciptakan kalau sesuatu akan atau tidak kami lakukakan. Dini mengarahkan jempolnya ke bawah bukan sebaliknya. Berarti dia mengerti kalau itu adalah keputusan final yang tak tergugat. Tangisku pecah dalam pelukan Dini, akhirnya ada satu nyawa yang mendukungku.
Lingga
Lelaki itu hadir kembali tanpa ku minta, lelaki yang di hari kemarin mengajarkan makna cinta sekaligus mematikanku dalam nyawa dan raga yang masih hidup. Lelaki itu hadir kembali di detik terakhir aroma pernikahanku. Pertemuan tak sengaja namun kuimpikan sepanjang hidupku.
Pelatihan antara cabang perusahaan mengharuskanku mewakili Pa Jayadi, kepala divisiku yang mendadak mengajukan cuti. Kutangkap peluang itu dengan senang hati, adalah kesempatan yang sayang dilewatkan untuk bertemu dengan orang-orang perusahaan yang berasal dari daerah lain. Mba Linda dari cabang Medan telah meng-sms-ku memastikan bahwa akulah yang akan menghadiri pelatihan itu. Keseringan mewakili perusahaan membuatku dan Mba Linda bisa melalanglang buana dan yang pasti menyalurkan “jadwal rutin” kami, apalagi kalau bukan kata yang berbunyi SHOPPING..... uang perjalanan dinas akan mengalir tanpa sisa bila telah bersama Mba Linda. “Kami patut mendapatkan barang-barang yang kami inginkan....” itu semboyan Mba Linda yang kubenarkan untuk menghapuskan rasa bersalah. Toh di lain pihak i’m a single, aku bebas memanfaatkan dana yang kumiliki sesukaku. Beda dengan Marin, teman satu divisiku yang harus menutupi semua kebutuhan keluarganya walaupun masih berstatus sama denganku. Satu yang ku syukuri, sejak kecil hingga mempunyai penghasilan sendiri, aku masih bisa mengandalkan papa sebagai “penyelamatku”, papa adalah IMF bagiku namun tidak pernah mengharapkan pengembalian apalagi bunga. I have two income every moon. I’m a great happy single in the world.
Dini si ibu muda itu selalu menggodaku, salah satu alasanku menunda pernikahan adalah bahwa aku takut kehilangan sumber penghasilan keduaku yang notabene bisa lebih besar dari gajiku di perusahaan Si Mister Perfect itu. But the way.... aku mencintai pekerjaanku. Bersusah payah aku menyelesaikan dua gelar sarjana, bekerja adalah eksistensi yang menunjukkan jerih payahku itu tidak sia-sia. Ku buat papa bangga dengan karirku. Tahun ini memasuki tahun ke lima aku bekerja, dan seingatku di bulan ke lima keberadaanku di divisi pemasaran range penjualan bergerak naik, memang bukan atas prestasi kerjaku sendiri. We have a team work, dan aku bangga bisa termasuk dalam team work Pak Jayadi yang selalu mensupportku untuk bekerja dan bekerja lebih baik.
Ah.... sampai di mana tadi ? aku memaksa otak kiriku untuk memback up kembali rentetan peristiwa yang kualami, lelaki itu hadir kembali tanpa ku minta....
Aku nyaris berteriak ketika membaca sebuah nama pada list yang diberikan pegawai front office pada hotel tempatku menginap. Tak mungkin aku melupakan siapa pemilik nama itu. Namanya berada di urutan kesebelas sebagai salah satu peserta pelatihan, namaku berada lima nama dibawahnya, aku tidak sempat lagi melihat nama-nama peserta lain, rasa aneh tiba-tiba menjalar diseluruh tubuhku. Kurasakan kaki dan tanganku bergetar, tak mungkin..... tak mungkin.... nama itu pasti masih dipergunakannya sampai sekarang. Kata depan sebuah nama mempunyai seribu kemungkinan untuk sama, tapi dua kata terakhir nama itu hanya dia yang memilikinya.
Lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta
Finally, i find you again...... ku temukan kembali duniaku. Usahaku tidak tersia-siakan. Pertemuan ini adalah bukan sebuah kebetulan semata, aku yang merancangnya, aku yang meminta Pa Jayadi untuk mengutus Linggaku mewakili perusahaan. Apa gunanya jabatan yang kupegang di perusahaan induk bila tak bisa kugunakan untuk menemukannya. Untuk Linggaku aku akan melakukan segalanya. Akan kubayar luka yang kutorehkan dalam hidupnya sepuluh tahun silam, ketika tanpa alasan yang dapat dia terima aku meninggalkannya, dan memilih menikah dengan wanita lain. Aku telah mematahkan kuncup bunganya yang baru merekah, aku telah menghilangkan wangi bunganya yang baru menyebar.
Linggaku kini didepanku, aku takkan melepaskannya lagi, akan kurengut kembali dunia yang seharusnya kumiliki. Lingga.... Lingga.... aku mengetahui setiap cerita hidupmu sepeninggalku, termasuk rencana pernikahanmu bulan depan dengan lelaki itu. Siapa namanya ?.... ya Randa... bukan...bukan tapi Rangga. Lelaki yang tiga tahun telah “mengabdikan diri” untuk merebut cintamu. Linggaku.... Dengan kekuatan cinta aku meyakini sepenuh hati kalau kau masih dan akan tetap mencintaiku.... pun atas luka yang telah kutorehkan untukmu....
“Lingga.... apa kabar ?” sebuah sapan ringan menyapaku, ringan tapi bagiku perlu berton-ton kubik kekuatan untuk menoleh pada arah suara itu.
“Hai... baik, kamu ?.....” aku akhirnya berhasil menyapanya.
Jabatan tanganku dibawanya untuk berpindah tempat pada sofa empuk di lobi hotel. Tanganku belum dilepaskannya. Hangat gelombangan elektoromagnetik kurasakan mengalir dari tangannya.
“Tak kusangka kita bertemu disini, kamu ikut juga dalam pelatihan ?” sebuah pertanyaan basi nan tolol kuajukan. Namun aku mencoba bersikap profesional layaknya seseorang yang baru bertemu dengan teman lama. Tapi lebih dari itu aku ingin menunjukkan kepada lelaki ini bahwa sekarang aku adalah wanita sempurna dalam segalanya. Karir dan cinta yang kumiliki. Apalagi ??? So what ???
“Aku tidak tau kalau kita bekerja pada perusahaan yang sama ? oh iya kamu dari cabang mana?” kutemukan juga pertanyaan yang cukup masuk di akal.
“Aku baru bergabung dengan perusahaan ini, aku di cabang baru di Ambon ”
“Ya... ya...” aku mengangguk-anggukkan kepala tanda bahwa aku tau kalau perusahaan kami telah melakukan ekspansi di wilayah timur.
“Jadi kamu yang menjadi kepala cabang di sana ?” aku bertanya sekaligus untuk menjatuhkannya karena yang menjadi kepala cabang di sana adalah Mas Widya dari cabang Bengkulu. Paling tidak aku mengetahui kalau posisinya di perusahaan kami tidak lah jauh-jauh beda denganku. Artinya sepuluh tahun berpisah dia belum menjadi siapa-siapa. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu berbicara sesantai dirinya. Kulupakan janjiku sepuluh tahun lalu, bahwa aku akan memakinya pun di mana kami kelak bertemu setelah sepuluh tahun dia meninggalkanku.
Lingga
Acara dinner menyudahi jadwal pelatihan hari pertama. I can’t explain why ??? tapi aku menginginkan jadwal pelatihan selama seminggu ini bisa diperpanjang. Aku masih ingin mendengarkan cerita hidup lelaki yang hadir kembali itu. Waktu sepuluh tahun telah menghadirkan sosok lelaki yang sepenuhnya pada dirinya. Rambut panjang dengan cambang yang tidak beraturan tidak lagi menghias wajahnya. Wajahnya dibiarkan bersih serasi dengan potongan rambut cepaknya. Tapi.... mata itu tak berubah... mata yang dulu banyak menyinariku dengan tatapan cinta.
Lelaki itu mengajakku duduk menjauh dari peserta pelatihan yang lain. Acara bebas. Yang kuinginkan adalah mendengarkan kisahnya. Aku tak ubahnya seorang gadis kecil yang dengan setia mendengarkan dongeng tentang putri raja. Ku lupakan lukaku, ku lupakan dendamku. Aku hanya ingin bersamanya lebih lama lagi. Tanpa pernah terminta kenangan hari-hari yang lampau namun indah kembali bermunculan satu-satu. Aku memejamkan mata ketika putaran masa lalu itu kembali pada .... apa namanya ..... pada....entahlah ..... kata apa yang tepat untuk peritiwa itu ..... ya... mungikin ini.... pada pertama kalinya kami saling “terikat”. Dosa ternikmat yang lagi dan lagi kami ulangi di paruh napas umur belia kami. Dosa yang melanggengkan hubungan kami sampai akhirnya lelaki ini meninggalkanku untuk bersama wanita lain....
Materi pelatihan di hari-hari selanjutnya tidak lagi menarik bagiku. Trik-trik bagaimana memikat konsumen, bagaimana menjadi server yang baik, bagaimana menjadikan pelanggan seumur hidup berlalu tanpa terekam di otakku. Ajakan Mba Linda untuk shopping disela-sela istirahat ku tolak halus. Aku lebih memilih duduk disamping lelaki itu ketika pelatihan berlangsung, kami memilih meja yang sama baik ketika breakfast, launch dan dinner. Tak kusia-siakan waktu cofee break bersamanya. Apalagi waktu istirahat malam, tanda peserta pelatihan bebas menentukan acara masing-masing. Tapi kami tidak kemana-mana. Lelaki itu memilih bungalow hotel untuk menutarkan kisah hidupnya selang sepuluh tahun. Dan aku tak ubahnya gadis kecil yang menunggu lanjutan kisahnya.
“Lingga.... seandainya kamu mengizinkan, aku ingin menjelaskan mengapa aku meninggalkan.....”
“Tidak perlu, waktu kelabu itu telah berlalu, mungkin saat itu kebahagiaan tidak berpihak padaku....”
“Nasib manusia tidak bisa ditebak....” katanya datar. “Istriku meninggal ketika melahirkan putra kedua kami tiga tahun lalu, dia wanita yang patut mendapat surga.....” ku lihat guratan kelam di wajahnya.
“Maaf.... aku tidak bermaksud.....” sela ku
“Aku kini hanya memiliki Alyssa ... putriku dan adiknya, aku memberi nama itu agar tetap mengingatmu, nama yang kita rencanakan buat anak kita terpaksa kuberikan pada putriku, karena aku telah kehilangan kesempatan untuk memilikimu”
Aku membatin, hatiku miris mendengarnya. Nama itu juga kuberikan kepada putri kedua Dini, dengan tujuan yang sama adalah bahwa agar aku tetap mengingatnya.
“Tiga tahun, aku, Allyssa dan adiknya melawan hidup. Figur ibu kuberikan sekaligus pada mereka”
“Mengapa kamu tidak menikah lagi.....???”
“Karena ku yakin akan menemukanmu kembali” .... Aku bergidik sekaligus tersanjung mendengarnya. Kurasakan mataku menjadi hangat. Terbayang beratnya tugas yang diemban lelaki ini menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua anaknya. Peran ganda yang tidak semua orang mampu melakukannya. Sebuah keyakinan baru tiba-tiba muncul bahwa aku bisa memberi cinta seorang ibu bagi Allyssa dan adiknya.
“Lingga.... waktu berpihak padaku, aku akan memintamu untuk menemaniku menghabiskan sisa umur....”
Tanpa sadar aku tersenyum, “Seberapa besar keyakinanmu, bila aku menyetujuinya ?”
“Sebesar keyakinanku kalau cintamu padaku takkan pernah hilang, kamu tidak akan pernah mencinta lelaki manapun seperti kau mencintaiku”
“Besar sekali keyakinanmu”
“Karena kita memiliki cinta yang tidak tergantikan”
Lingga
Apakah arti semua ini ? apakah ini jalan untuk menemukan cintaku kembali. Kini di depanku sesosok lelaki yang kukenal hampir setengah umur hidupku menawarkan harapan yang seharusnya diucapkan sepuluh tahun yang lalu. Luka berdarah yang diberikan padaku entah menguap dimana, yang ada adalah keinginan kuat untuk melanjutkan hidup bersamanya.
Apakah aku salah untuk menyambut uluran cintanya (lagi ???). Ada dua jiwa mungil yang membutuhkanku. Aku telah mencintai anak-anak itu walau belum sekalipun melihat mereka. I love them before i meet .... Rangga ??? how about Rangga ???. Bagaimana dengan dentang pernikahan kami yang sebentar lagi ??? Bagaimana dan bagaimana..... tapi tiba-tiba aku merasa tidak berhak mendampinginya. Aku masih dan lebih mencintai lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta itu. Sejak dulu rasa yang ada terhadap Rangga tak bisa kusebut dengan cinta..... hanya sebuah ketergantungan yang dia ciptakan untukku....
Rangga
Lingga... aku akan mempertahankanmu. Pernikahan kita tinggal separuh napas. Mahligai cinta sebentar lagi kita miliki. Aku tak peduli kau mencintaiku atau tidak, aku akan menunggu hingga kau bersedia belajar untuk mencintaiku. Lingga.... jangan melakukan hal bodoh, dia tidak pantas untukmu. Aku mengenalnya jauh lebih baik dibanding denganmu. Lingga... dunia lelaki adalah dunia yang keras. Kau tidak mengetahui apa-apa pun tentang dirinya....
Lingga
Mata sembabku tak dapat kusembunyikan. Semuanya telah terjadi, dentang pernikahan telah kubatalkan. Ku permalukan orang tuaku, ku kecewakan papa yang selama ini selalu ada untukku. Aib merah telah kutorehkan. Seperti kata Dini dunia telah kiamat sebelum waktunya bagi keluargaku. Di rumah tak seorangpun menegurku. Aroma pernikahan terganti dengan suasana tegang dan kacau yang kuhadirkan. Aroma kematian lebih tepat sepertinya. Mas Abi, abangku satu-satunya mengancam akan mencari dan membunuh laki-laki pembuat onar itu. Kali ini dia tidak lagi menjadi abang yang siap melindungiku. Papa membuktikan kata-katanya dengan mengusirku dari rumah. Mama untuk kesekian kalinya harus dipobong karena pingsan. Rangga ??? kabar yang kudengar dia langsung menghilang sesaat pembatalan kuumumkan. Aku pun tak peduli kemana dia berada kini. Dini ???? mendadak dia menjadi orang asing bagiku.
Aku mengepak barang semampu yang kubawa, dua travelling bag penuh sesak oleh barang bawaan kugantung dikedua pundakku, tangan yang satu kugunakan untuk menyeret koper yang juga berisi penuh sesak. Akan kutinggalkan rumah ini dengan segala yang kuperbuat atasnya, atas mereka, orang-orang yang kucinta. Tapi aku pun tak peduli lagi, di sana lelaki yang hadir kembali itu telah menunggu bersama Allyssa dan adiknya, anak kami. Aku harus membiasakannya demikian. Aku hanya menyisakan sebuah tanya untuk mereka, tidak patutkan aku hidup bahagia dengan orang yang kucintai dan mencintaiku.... Lelakiku.... ini diriku love will lead me back.....
Aku baru akan membuka pintu mobilku, ketika Ima pembantu rumah mama berlari kearahku, “Mba Lingga, papa besar meminta kunci mobil ....”, “keluarlah dari rumah ini dengan dirimu sendiri....” ku dengar teriakan amarah papa. Aku memejamkan mata, sebulir air mengalir keluar. Kuserahkan kunci kontak itu pada Ima selanjutnya aku tau kemana aku harus melangkah....
Lelaki yang hadir kembali tanpa kuminta...
Kini aku dapat melompat setinggi bintang..... Linggaku is coming back. Ditinggalkannya lelaki yang telah mengabdi untuk cintanya. Lelaki yang telah mengkhianatiku karena menghadirkan plot baru dalam skenario yang kurancang untuk menemukanmu dengan mencintaimu. Lelaki yang akhirnya memutuskan semua perjanjian antara sesama lelaki yang telah kami sepakati. Lingga apakah kau lupa ketika dua bulan lalu lelaki itu tiba-tiba tergolek di rumah sakit, itu bukan karena kecelakaan. Itu sebagian kecil dari akibat pengkhianatan yang dilakukan terhadapku. Melamarmu untuknya tidaklah termasuk dalam plot skenarioku. Dan aku hanya “mampu” memberinya beberapa hari untuk beristirahat total di rumah sakit tanpa perlu menyentuh fisiknya. Lingga...Lingga aku kini lelaki yang berkuasa.... dengan semua yang kumiliki aku dapat melakukan segalanya termasuk memilikimu kembali.
Linggaku is coming back....ditinggalkannya keluarga yang tiada pernah henti memberinya cinta dan segalanya dan semua karenaku ... untukku.... Aku tinggal menyempurnakan mimpiku. Segalanya telah kumiliki. Sepuluh tahun lalu kutinggalkan Lingga yang tidak menjanjikan apa-apa untuk kumiliki. Dan nasib manusia tidak bisa ditebak. I’m the lucky man. Keuntungan berpihak padaku. Putri pengusaha besar itu jatuh cinta padaku secara berlebihan. Kumanfaatkan cintanya untuk merebut sedikit demi sedikit harta orang tuanya. Dan gerakanku semakin cepat dengan menikahinya.
Linggaku.... Selama bersamamu tidak ada harapan besar yang kumiliki, ayahmu dengan pikiran kolot dan kunonya masih menuntut seorang menantu lelaki yang memulai segalanya dari bawah. Aku tak mampu menjawab tantangannya untuk memulai dari bawah. Aku ingin yang lebih cepat. Linggaku, aku bosan hidup dalam peta kemiskinan. Disegala sisi bagiku hanyalah lack of choice, lack of voice, lack of confidance, lack of opportunity dan sejumlah ketidaan dan ketidakberdayaan yang menghadangku di segala penjuru mata angin. Ayahku tak memiliki apa-apa untuk menjamin masa depanku, dalam hidupnya b-e-l-i-a-u hanya mempunyai satu semangat, semangat untuk menikah dan menikah lagi. Ditinggalkannya aku dan dua orang adikku yang masing kecil-kecil. Ibuku mati di pangkuanku ketika bertarung nyawa dengan penyakitnya, bukan karena penyakit yang tidak terobati tapi karena obat yang tak terbeli. Adik-adikku tumbuh di jalan, bau dan kumal, Linggaku..... dan semau itu membuatku gila ..... kutempuh berbagai cara untuk mengenyahkan “setan miskin” dalam hidupku namun aku harus tetap memilikimu. Kulalui hidup ganas yang liar dan keras, hingga waktu mempertemukan kita.
Linggaku.... Bagiku life is gambling.... dan akulah pemenangnya. Ayah mertuaku adalah pemilik perusahaan induk tempatmu bekerja, aku membaca lamaran kerja yang kau ajukan lima tahun silam. Atas memo dariku, kepala cabang perusahaan di kotamu wajib menerimamu. Aku bermain dibalik layar perusahaan ayah mertuaku dan aku tak bodoh, tak pernah sekalipun aku mendeklarasikan namaku di setiap sudut kegiatan perusahaan besar itu, ku tunggu waktu yang tepat. The right time will be coming. Seharusnya satu piala oscar jatuh ketanganku. I’m an actor, wanita yang kunikahi itu adalah satu-satunya pewaris perusahaan itu, dan satu kesalahannya adalah mencintaiku secara berlebihan, hingga apapun yang terjadi segalanya akan jatuh ketangannya. Dan..... lalu ke tangan siapa Lingga...???? Aku tinggal menyempurnakan mimpiku dan selanjutnya melompat setinggi bintang....
Dua hari sebelum pernikahan......
Rangga
Lingga memilih lelaki itu, lelaki yang olehku lebih tepat kusebut dengan “setan”. Tapi tidak.... aku belum kalah, aku tak mau menjadi pecundang, aku harus merebut Lingga dengan cara seorang lelaki. Tak akan kubiarkan lelaki itu merenggut hidupku untuk kedua kalinya.
Aku terbayang peristiwa beberapa tahun lampu... kusumpah serapahi kebiasaan kelamku bermain di meja judi. Kebiasaan yang menjadikanku menjadi sahabat sejati sekaligus lawan yang tangguh bagi lelaki itu. Belitan utang yang dililitkan padaku sedikit demi sedikit dijadikankannya sebagai jaminan agar aku mendekati Lingga namun dengan syarat jangan mencintainya. Namun hati kecilku tak bisa kutolak, membisikkan sebuah cinta. Sebuah cinta untuk Lingga. Ku khianati perjanjian antara sesama lelaki yang kami sepakati. Aku rela melepas saham yang kumiliki dibeberapa perusahaan yang terkait dengannya. Aku terpaksa melepas semua aset-aset penting perusahaan yang kumiliki. Aku melepas peluang untuk mengembangkan karirku di luar negeri, atas perintahnya karena dia memiliki kuasa untuk melakukannya. Dan aku lebih memilih kehilangan segalanya asal tidak dirimu. Kumulai karir dan hidupku dari bawah. Menjadi lelaki yang bersih. Seperti syarat mutlak dari papamu.
Pikiranku penuh sesak oleh sosok Lingga, oleh celoteh suara anak yang akan meramaikan mahligai rumah tangga kami. Oleh tatapan nanar keluargaku, oleh pembatalan pernikahan yang kau lakukan, oleh rasa iba yang lahir dari orang-orang yang bersimpati padaku dan oleh amarah lelakiku yang tersentuh...... aku hanya ingin melihatnya mati didepanku, ditanganku.... Tetapi penglihatanku mendadak samar dan buram...... yang sempat kudengar hanyalah pekikan orang-orang di jalan bersamaan dentuman keras, sebuah mobil truck dumping pengangkut kayu telah meluluh lantakkan sebuah mobil berwarna perak yang melaju kencang di atas rata-rata. Mobil yang tiba-tibanya remnya mendadak tidak berfungsi. Mobil yang seharusnya aku tumpangi bersama pengantinku..... selanjutnya aku hanya diam ...... ku pergi dengan semangat untuk merebut Linggaku kembali......
Aliyah
Apalagi yang tidak kulakukan dan kuberikan untuknya. Seandainya manusia bisa memiliki dua nyawa, maka nyawakulah yang yang menjadi nyawa keduanya. Sepuluh tahun aku berusaha menjadi istri dan ibu yang sempurna baginya dan bagi Allyssa dan Rangga, buah hati kami. Rangga...Rangga... aku tiba-tiba teringat dengan pemilik nama itu yang kemudian kujadikan sebagai nama putra keduaku. Di mana gerangan dia berada ? bagaimana rupanya sekarang ? bagaimana hidupnya kini ? sudahkah ia menikah pula ? Rangga.... sekelumit kisah masa laluku hadir tanpa ku minta. Rangga... satu sosok lelaki dimana dulu aku melabuhkan cintaku. My first love....love at the first sight, ketika kami bersekolah di tempat yang sama. Rangga dan Aliyah as the same as Romie and Juliet versi masa kami. Segalanya indah…. Hingga cintaku berbalik arah…. ketika aku menemukan cinta lain yang kurasakan melebihi segalanya yang pernah kurasakan bersama Rangga. Kutinggalkan Rangga dengan menyisakan luka baginya. Kupilih lelaki itu sebagai pendamping hidupku, yang ku kira untuk selamanya.
Dan kini …. Apa yang kudapat selama hidup bersamanya ? sekian lama mendampinginya tidak cukup bagiku untuk menghilangkan cinta abadi dari hatinya. Tidak cukup bagiku untuk mendapatkan cinta seutuhnya. Cinta abadinya itu terlalu kokoh bertahta dalam jiwanya. Seperti apa pula rupa dan bentuk perempuan itu hingga suamiku tiada henti mendambanya, dan keinginannya itu diutarakan dengan jelas padaku. Adakah sesuatu yang lebih menyakitkan ketika seorang suami mempunyai cinta di luar rumah tangganya sendiri. Baginya diriku hanyalah sebuah jembatan “emas” untuk meraih mimpinya. Satu kesalahanku adalah mencintanya secara berlebihan, hingga apapun yang dilakukan selalu tersedia berjuta maaf untuknya. Semua management perusahaan papaku kini berada dibawah kendalinya. He is a good manager and negasiator. Semua masalah bisnis yang terkait politik di perusaahaan papaku terselesaikan oleh pikirannya yang harus kuakui: cemerlang ….. Namun yang lebih penting adalah aku tidak mau Allyssa dan Rangga kehilangan ayah mereka. Satu nilai emas dari suamiku, dia adalah seorang ayah yang sempurna bagi Alyssa dan Rangga, tapi dia tidak bisa ….bukan …… bukan tidak bisa…. Dia tidak berniat menjadi suami yang baik bagiku.
Sebulan yang lalu…. Ayah dari anak-anakku itu menyatakan dengan lugas padaku bila cinta abadinya telah kembali. My love is coming back…. katanya penuh kemenangan. Dan dia tidak perlu meminta pendapat dariku karena kata ya atau tidak dariku tidak akan mempengaruhi niatnya untuk kembali pada cintanya itu. Aku tidak menangis ….. hatiku telah lama siap menanti datangnya waktu ini. Waktu di mana suamiku menemukan kembali cinta abadinya, namun jiwa dan ragaku telah berjanji untuk tetap mendampinginya apapun yang terjadi….. he still my husband, now and forever……
Dua bulan setelah rencana pernikahan
Lingga
Tuhan... kapankah waktu itu datang ??? putarlah waktu lebih cepat agar aku dan lelakiku segera bisa bersama. Telah kupertaruhkan segalanya. Rangga ??? kecelakaan yang merengut nyawanya hampir seratus persen dituduhkan akibat ulahku. Aku berduka cinta mendalam. Kudatangi makamnya ketika orang-orang telah berlalu. Seribu doa dan permohonan maaf kupanjatkan untuk damainya di alam sana. “Kecelakaan bisa terjadi kapan dan dimana saja, pada siapa saja... toh catatan kepolisian mendapati dia sedang mabuk ketika mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi...” kata-kata lelakiku menentramkan jiwaku, menghalau rasa berdosa yang hadir...
Breaking News di layar tivi memaksaku untuk menyimak beritanya. “Pemirsa pihak kepolisian akhirnya berhasil mengungkap menyebab kematian Rangga Satriakusuma, kecelakaan mobil yang dialaminya diduga kuat bermotif persaingan bisnis. Bukti-bukti telah ditemukan bahwa kematiannya merupakan pembunuhan terencana yang dilakukan oleh..... ...... aku berteriak histeris ketika pembaca berita itu menyebut sebuah nama yang terdiri dari tiga kata bersamaan dengan munculnya wajah lelakiku di layar kaca. Otak dari pembunuhan ini adalah.... sekali lagi pembaca beritu itu menyebut nama lelakiku, disamping di duga sebagai pelakunya juga terkait dengan berbagai masalah pengedaran narkoba....... berikut ini komentar dari tersangka yang senantiasa didampingi oleh Aliyah istrinya yang merupakan putri tunggal Bapak Adam Kartasasmita pemimpin dan pemilik sejumlah perusahaan terbesar di Kota.....Aku tidak mampu lagi mencerna kalimat-kalimat berita itu. Penglihatanku mendadak samar dan buram....... gelap........selintas kulihat Rangga memberiku sebuah mahligai kaca..... dan ketika berhasil kugapai, mahligai kaca itu menjadi hancur berkeping-keping...... mahligai kaca yang tak berbentuk........
4 comments:
haduhhhhh.... berdebar sa punya jantung.. salam kenal ya
good words... Teruslah menulis, keep writing&never give up...:)
Masih suka jatuh cinta-kah??? ha...ha...
Siip dech, ... selamat berkarya dan terus berkarya.
Alif
http://www.bakpiajogja.blogspot.com
Post a Comment