Saturday, August 16, 2008


3 rd Anniversary....

Malam belum terlalu larut, gerimis sisa hujan sore masih terdengar dan membasahi bumi di luar rumah. Aku menghela napas panjang, malam ini hati dan pikiranku seolah diperintah untuk tidak tenang........ dan kutau pasti ini bukan karena pekerjaan di kantor yang dikejar deadline. Ada sejumlah laporan yang harus segera diselesaikan akhir minggu ini, karena minggu depan semua laporan akan dipresentasikan di depan para direksi. Bukan... bukan laporan itu yang membuatku seperti ini, kerja tim didivisiku cukup bisa diandalkan, dan mempresentasikan laporan merupakan keahlian tersendiri bagiku.



Untuk kesekian kalinya aku menghela napas panjang, suatu usaha sia-sia untuk meredamkan rasa hatiku yang sedang berkecamuk. Seperti ombak yang salah arah, seperti mentari yang tak jadi bersinar. Akhirnya harus kuakui, sebab ketidaktenangan ini, hanya satu: pertengkaranku dengan si Tuan Raja itu. Ini sudah malam ketiga kami tidak bertegursapa. Ego kami berdua melebihi puncak gunung Himalaya, toh aku tetap membukakannya pintu setiap dia pulang kantor, walaupun setelah itu aku secepat kilat menuju kamar sebelah, yang kujadikan sebagai “ruang” pelarianku dari si Tuan Raja. Dia pun tidak berusaha untuk menegur atau memberi tanda “damai”. Dan aku, sampai detik ini belum mengharapkan “damai” itu. Ramadhan, lelaki yang sebentar lagi memasuki tahun ketiga menjadi suamiku, pasti tau dan mengerti bagaimana keras kepalanya aku. Ternyata benar kata orang, memulai dan menjalani sebuah pernikahan adalah sebuah perjudian besar. Bahagia dan tidak bahagia tersekat selaput maha tipis.



Sebagian besar orang berpendapat bahwa aku, Amanda, adalah wanita yang paling bahagia, lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang cukup berada. Ketika orang lain yang baru saja meraih gelar sarjana kelimpungan mencari pekerjaan, aku, dengan “licinnya” diterima di salah satu perusahaan atas rekomendasi papa. Memang ada juga yang menyibirku dengan KKN, istilah “basi” di negeri Indonesia ini. Tapi tidak sedikit yang percaya dan angkat topi dengan kemampuanku, apalagi memasuki bulan ketiga bekerja pada perusahaan tersebut, aku berhasil menggaet bebepa berusahaan untuk bergabung pada mega proyek perusahaan kami. Aku pandai bernegosiasi.... melobi....



Aku sendiripun menyangsikan istilah KKN yang ditujukan padaku, karena aku merasa mampu dan bisa. Dan sekali lagi, kutunjukkan “kemampuanku” itu dengan melanjutkan studiku. Beberapa teman kantorku menggeleng, bagaimana aku dapat membagi waktu kuliah dengan tugas-tugas kantor yang segudang. Dan gelengan kepala mereka terjawab ketika kutunjukkan sebuah undangan wisuda di depan mata orang-orang itu. Bangga.... puas.... dan lega bersatu padu. Kutunjukkan siapa diriku. Who i’m..... Setelah delapan belas bulan menggeluti jadwal kuliah yang notebene kujalani setiap malam senin hingga malam jumat.



Aku berambisi untuk menjadi yang terbaik.... semangat maju, yang jelas kuwarisi dari papa, yang hingga detik ini menjadi pria paling berpengaruh dalam karier dan hidupku. Termasuk ketika memilih calon suami, kumasukkan kelebihan papa sebagai salah satu kriteria calon suamiku. Ada beberapa lelaki yang hampir memenuhi kriteria itu, tetapi selalu saja mempunyai nilai minus di mataku.



“Manda, nanti para lelaki itu mengambil langkah seribu darimu, no body perfect .....” ucapan Arin, terngiang kembali ketika aku belum memastikan ya atau tidak atas pinangan seorang Ramadhan. Arin, sahabat sejatiku itu memilih menjadi ibu rumah tangga tulen setelah menjadi istri Agung, seorang analis kredit pada salah satu bank pemerintah. Aku tidak habis pikir mengapa Arin “setega” itu mematahkan cita-citanya sendiri. Sebelum berumah tangga, dia telah menjadi dosen tidak tetap pada salah satu Universitas Negeri di Makassar, dan ketika keinginannya untuk menjadi dosen tetap tinggal selangkah dia memutuskan berhenti. Yang kupikirkan saat itu adalah aku tidak akan bertindak sebodoh Arin bila jodoh telah berpihak padaku.



Akhirnya..... Ramadhan menjadi jawaban siapa pasangan hidupku. Kukenal dia karena dia adalah salah satu kolega bisnis papa. Diusianya yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dariku, dia telah menjadi seorang pengusaha muda yang berhasil. Rumus bagi sosok Ramadhan saat itu adalah nice+smart+bright dan bermasa depan equals is …. nyaris sempurna. Wanita mana yang sanggup menolaknya. Dia jatuh cinta padaku.... dan aku tidak mau munafik....aku telah jatuh cinta padanya kali pertama kami bertemu. Kami saling jatuh cinta. Tak berapa lama perhelatan pernikahan kami digelar secara akbar.... meriah.... seperti kisah dari negeri dongeng, pangeran tampan bertemu putri cantik, bahagia everafter....a great couple.



Aku kembali membolak-balikkan badan, percuma membujuk mataku untuk terpejam. Kudengar di kamar sebelah suara televisi dan ac yang baru saja dinyalakan. Dia sudah datang rupanya. Pagi tadi sebelum berangkat ke kantor aku sempat mengatakan agar ia membawa kunci serep rumah, “kunci yang satu kamu bawa saja”, kataku sedatar mungkin. Kata “kamu” kembali kugunakan sebagai tanda bahwa aku sedang tak senang padanya. Perkataanku pagi tadi dibalasnya dengan sebuah tatapan dalam pada mataku. Aku berusaha tidak membalasnya, aku belum mau berdamai, bila membalas tatapannya berarti sejak pagi tadi “perang teluk” diantara kami sudah berhenti. Tiga hari bagi seorang laki-laki tanpa sex adalah sebuah “beban” berat. Aku tidak mau dia mengalah hanya untuk melepaskan hasrat kelakiannya. Bila kuturuti berarti aku telah membiarkan diriku “teraniaya”. Apa arti seminar-seminar wanita yang rajin kuikuti selama ini. Aku kembali membuka UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Bab III Pasal 5 disitu tertulis:



“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara: (a) kekerasan fisik; (b) kekerasan psikis; (c) kekerasan seksual dan (d) penelataran rumah tangga”

Aku mencernanya, point a,b,c, dan d kucocokkan dengan kondisi yang kini kurasakan. Kekerasan fisik, tidak...bukan... Ramadah tak pernah berlaku kasar sedikitpun apalagi menyakitiku secara fisik. Kekerasan seksual, a big NO .... Ramadhan adalah seorang suami romantis.... aku tersenyum... Penelantaran rumah tangga, bukan pula, Ramadhan bertanggungjawab, segalanya terpenuhi, apalagi ??? Point a,c dan d gugur demi hukum.... Kekerasan psikis.... aku mengulanganya kembali…..kekerasan psikis.... ya... sepertinya...that is right... point b....



“ Manda.... bulan depan ulang tahun ke tiga pernikahan kita....” kata suamiku tiga malam yang lalu sesaat kami selasai makan malam.
“ Iya, aku juga mengingatnya” balasku.
“ Rumah kita sudah saatnya mempunyai penghuni mungil....”
Aku menuju kearahnya, memeluknya..... “ I’m not ready... tahun depan... please... setahun lagi”
“Kamu terlalu terobesisi dengan karirmu, toh sekolahmu sudah kelar apalagi” katanya datar. Kepalaku dielusnya.
“Aku tidak terobsesi, tapi saatnya belum tepat bagiku, ingat komitmen kita sebelum menikah, posisi itu kuimpikan jauh sebelum kita bertemu” aku melepaskan diri dari peluknya.
“Tapi tidak berdosa bila impianmu itu kau ganti....”
“Daeng, aku tidak mau bertengkar...”
“Siapa yang mengajakmu bertengkar?” nada suaranya mulai agak meninggi.
“Kalau Daeng mulai mengungkit masalah itu sama saja artinya dengan ajakan bertengkar Daengkan kan tau rupa jawabanku”, ku balas dengan ketus.
“After that, setelah itu apalagi yang ingin kau wujudkan.... carilah alasanmu malam ini, untuk menunda kehamilanmu di tahun keempat pernikahan kita tahun depan !” katanya berlalu.
“Daeng....” panggilanku tidak terjawab. Kulihat dia beranjak ke teras depan. Aku mendesah panjang, aku malas memulai pertengkaran malam ini, bila menjawab ucapannya tadi. Malam itu kupilih “menginap” di kamar sebelah hingga malam ini. Benar... point b yang terjadi padaku kini. Apakah bukan penyiksaan secara psikis bila mataku tidak bisa terpejam hanya karena memikirkan keinginannya untuk segera mempunyai anak. Aku tertekan.... secara psiskis kuterganggu.
Dua bulan lagi, aku akan dipromosikan sebagai head di divisiku, menggantikan Pa Kuncoro yang menjadi kepala di cabang lain. Tantangannya adalah tupoksi di divisiku mengharuskan aku untuk lebih bekerja ekstra, pikiran tenaga dan waktu jelas lebih banyak harus kucurahkan bila nantinya aku diposisi itu. Menggaet buyer dari mancanegara bukan pekerjaan mudah. Apalagi aku harus memenuhi target. Aku mesti banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Aku sudah memperhitungkan, bila aku hamil, perhatianku akan pecah, antara jabatanku dan bayi yang kukandung. Aku harus memilih. Bila posisi itu kulepas berarti kulepas cita-cita yang kuinginkan. Kusayangkan.... bersusah payah aku meniti karirku dari bawah dan ketika apa yang kuinginkan sudah di depan mataku, semudah itu kulepas ? tak mungkin... tak akan.... Aku mengingat janjiku untuk tidak mengambil keputusan sebodoh Arin. Meskipun sebenarnya aku bisa menjadi wanita yang tidak bekerja, suamiku masih mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun bukan itu yang menjadi alasan. Kepuasaan. Bagiku, bukan saatnya lagi memposisikan diri sebagai the second gender. Suami-istri, laki-laki-perempuan setara. Aku merasa menjadi salah satu pendukung Qasim Amin. Bapak feminis Arab yang melahirkan buku kontroversial, Tahriru al-Mar’ah (Kairo, 1899) dan al-Mar’ah al-Jadidah (Kairo, 1900). Wanita berhak dalam pengembangan dirinya, itu intinya. Mengapa harus “membingkai” diri hanya karena telah berumah tangga. Mematikan potensi diri namanya. Dan aku telah menjatuhkan pilihanku…… jabatan itu. Berarti keinginan suamiku untuk memiliki anak kutunda sampai tahun depan, tidak lama, hanya 12 bulan berjalan, bukankah saat ini waktu berjalan secepat kilat ? waktunya pasti akan datang, hingga aku dapat menyesuaikan diri. Toh aku tidak asal memilih, tak mungkin aku memilih keduanya, aku bukan tipe spekulan…. Bila kujalani bersamaan, bayi dalam kandunganku akan “turut” merasakan beban kerja mamanya. Dan itu akan menyiksanya…. mengganggu proses berkembangnya sebagai manusia. Dan aku tak mau itu terjadi. Anakku harus mendapat perhatian penuh, bukan parsial. Jadi ini belum saatnya. Itulah argumenku…. logis dan masuk akal…. untuk menjawab pertanyaan orang tuaku, mertuaku, saudaraku, keluargaku, teman-temanku dan yang pasti Ramadhan, suamiku. Jawabanku harus sama terhadap mereka. Aku harus konsisten.



Hujan turun lagi, aku menguap. Akhirnya aku mengantuk, kudengar penghuni di kamar sebelah masih beraktivitas, ku tau yang suamiku lalukan. Dia mengaduk gelas kopinya. “Selamat malam tetangga kamar….. “ aku berguman dalam hati, tersenyum.
Aku terlambat bangun, jam 8 kurang 15 menit. Masih tersisa hujan semalam. Namun aku tak perlu bergegas, lounching produk baru dimulai jam 10 nanti. Jarak rumahku ke kantor paling lambat 40 menit, bila macet bisa sampai 50 menit. Macet di Makassar masih jauh lebih “ramah” dibanding Jakarta. I have any time…. Yang jelas suamiku pasti sudah berangkat. Pagi ini dia harus memimpin rapat di kantornya. Tiba-tiba aku merindukannya. Sarapan apa dia ??? kupanggil Salma, pembantuku.



“Salma.…Puang Ramadhan sarapan apa sebelum ke kantor ?”
“Nasi goreng Puang”
“Tidak pedis ji ?” aku baru teringat kalau suamiku harus menghindari makanan yang pedis-pedis, lambungnya bisa terganggu.
“Tidak puang, tadi puang laki-laki minta di gorengkan telur” jawab Salma dengan akses daerah asalnya yang masih kental.
“Ya sudah, tolong buatkan roti isi, tomatnya dua iris” kataku mengingatkan.
“Iye puang…..”
Telepon berdering, “Hallo….” sapaku, “Assalamu alaikum Nak Manda, belum ki ke kantor Nak ?” suara Petta Ria, mertua perempuanku terdengar halus. Suara lembut mertua perempuanku itu sangat menggambarkan ciri khasnya, halus dan lembut.


“Baru mau berangkat Petta” balasku.
“Pulang kantor sebentar singgahki di rumah Nak, ada yang mau saya tanyakan”
“Iye… apa itu Petta ? mungkin saya pulang agak malam Petta … “
“Di rumah saja kita bicarakan Nak, ndak apa-apa ji kita datang malam, nanti Daengmu suruh jemput, hati-hati ki ke kantor Nak. Assalamu Alaikum” Mertuaku mengakhiri pembicaraan, sebelum aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut. Apalagi ini ???
Hujan turun lagi, aku terpaksa memarkir mobil di depan pagar rumah mertuaku, karena di garasi kulihat mobil suamiku sudah terparkir lebih dulu. Sudah di sini pula dia rupanya. Dan aku baru mengingat smsnya siang tadi yang tidak kubalas, kalau dia akan ke sana lebih dulu. Pukul 8 malam tepat. Aku hanya terlambat dua puluh menit dari waktu yang kujanjikan. “Assalamu alalaikum….” aku menyapa dan segera masuk. “Alaikum salam…” mertuaku menyambut, aku mencium tangannya kebiasaan yang ditularkan mama padaku. “Itu salah satu bentuk bakti kepada orang tua”, pesan mama yang tersimpan rapi dalam hatiku.
Petta Arsya, mertua laki-lakiku, Daeng Bahar lagoku, suami dari Intan, adik perempuan suamiku dan suamiku sedang makan bersama. Aroma bumbu ikan bakar bolu yang kuyakin buatan mertuaku membuatku berselera untuk makan. “Makan ki Ka Manda….” Intan memberiku sebuah piring sambil tetap melahap ikan bakar yang terhidang didepannya. “Mari bergabung…..” balasku sambil mengambil tempat disamping suamiku. “Makan ki Daeng…. jangki malu-malu…..” aku mengelus punggung suamiku yang sedari tadi menatapku. Di rumah mertua, lagi makan pula, aku harus “berdamai” pada suamiku. Dan memang sudah menjadi kesepakatan kami kalau masalah rumah tangga tak perlu “se-Indonesia raya” mengetahuinya.
Acara makan malam semalam menjadi dewa menyelamat “perang” kali ini meskipun tanpa kata sepakat: suamiku menyetujui pilihanku atau aku mengalah untuknya. Tergantung ! namun hal ini relatif lebih aman. Kami membicarakan hal-hal lain. Tapi tunggu…. Aku baru tersadar dan teringat, kedatanganku semalam di rumah mertuaku adalah karena mertua perempuanku itu mengatakan kalau akan menanyakan sesuatu padaku, tapi sampai aku dan suamiku berpamitan, mertuaku tak mengatakan apapun. Beliau lupa barangkali. Aku hanya berdoa agar apa yang sebenarnya ingin ditanyakan itu tidak berhubungan dengan wilayah “domestik” rumah tanggaku. Aku kurang suka bila diinterverensi.



Pagi ini, aku berangkat ke kantor bersama suamiku, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, kami baru berbaikan …. dan sekalian menghemat BBM. Diperjalanan suamiku banyak menggodaku, seperti kebiasaannya. Sesekali kulihat dia membalas sms yang masuk. Raut wajahnya kulihat sempat berkerut membaca sebuah pesan pendek yang masuk. Dibalasnya. Hp suamiku berbunyi dua kali, tanda pesan baru diterima sebanyak dua kali. Aku masih mengamati suamiku, pesan pendek yang baru masuk dibalas kembali. “Siapa ?” kataku akhirnya. “Orang kantor” jawabnya pendek. “Kita isi bensin dulu” katanya seraya membelokkan mobil pada SPBU di didaerah kota, sekitar lima menit dari kantorku. Hpnya di tinggal ketika ia keluar dari mobil untuk memastikan jumlah liter bensin yang masuk. Hari gini…. bensin mahal, sepertinya kita mesti ekstra teliti. Entah mengapa tiba-tiba terbersit di hatiku untuk mengecek sms yang masuk tadi. Apa salahnya ? toh aku dapat membacanya dengan cepat. Tapi niatku menjadi urung, manakala aku teringat kalau aku tidak mau bila suamiku membaca atau mengutak-atik hpku tanpa seizinku. Aku pun tak boleh demikian terhadapnya. Dan itu sudah kami lakukan sejak masih pacaran dulu. Dompet, hp dan e-mail adalah barang privacy, tak tergugat….. tanpa seizin pemiliknya, meskipun kepunyaan pasangan masing-masing. Untuk urusan yang seperti itu kami adalah pasangan yang sangat demokratis. So long so far, kami merasa baik-baik saja.
Aku tiba di kantorku. Sebelum turun aku mengelus lembut punggung suamiku. Kupraktekkan artikel bagaimana membuat “salam perpisahan” yang berkesan bagi pasangan yang kubaca pada sebuah majalah wanita.



“Buatlah tindakan-tindakan kecil namun berarti bagi pasangan anda ketika akan berpisah atau mengantarnya berangkat kerja. Anda dapat memberinya kecupan, mengelus punggung, memeluknya atau tindakan-tindakan lain yang dapat anda ciptakan sendiri. Gerakan penuh kasih sayang ini akan membuat suami atau pasangan anda tidak betah berlama-lama untuk segera berjumpa dengan anda…”

Begitu saran singkat dari artikel itu. Apa salahnya dipraktekkan. Aku membenarkan artikel itu. Suamiku membalas dengan tambahan mengelus dan mengecup pipiku. Dia memang termasuk suami romantis, dan tidak perlu terkena poin c dalam pasal 5 itu…. ha….ha…. aku berguman dan tersenyum melambaikan tangan kepadanya. Suamiku membalas dan masih sempat kulihat dia melakukan satu aktivitas: ber-sms.



Jam 12 siang. Aku sengaja mengambil waktu makan siang lebih awal, suamiku akan menjemput sebentar lagi. Dia ingin makan konro kesukaannya. Lima menit aku membereskan dandanan menunggu kabar darinya. Hpku berdering, my lovely husband, terpampang di layar hpku. “Iya Daeng, di manaki sekarang?”,
“Manda, kita tidak bisa makan siang bersama, rapatku hanya di break untuk makan siang, setelah itu langsung dilanjutkan , tamu dari pusat harus pulang sore ini, laporan harus segera dimasukkan ” katanya.
“Harusnya si Budiman itu mewakiliku dari kemarin”, ucapnya lagi setengah menggerutu.
Aku agak kecewa tapi kerjaan suamiku harus kuutamakan. “Jadi Daeng makan di mana?”
“Makan di kantor, bersama mereka, tamu dari Jakarta”
“Ya, sudah…. saya makan di kantin kantor saja”
“Oke…. “
“Eh Daeng, jangan makan yang berminyak” aku mengingatkan.
“Iye puang….” balasnya.
Jam 12 lebih sepuluh menit, aku urung untuk makan siang lebih awal. Jam satu siang saja, sekalian makan bersama teman-teman yang lain, lebih rame. Aku memutuskan untuk kembali membrowsing internet, masih ada data yang harus kucari, barusan aku membaca di koran kalau satu perusahaan property besar di Jakarta milik salah satu warga keturunan terkenal berencana membangun property yang sama di Makassar. Berarti yang pertama di kota angin mamiri ini. Prospek yang cerah bagi perusahaanku. Aku harus mencari informasi sebanyak-banyaknya agar perusahaanku bisa terjaring menjadi mitranya. Saat ini perusahaan kami juga sudah melebarkan sayapnya pada bisnis property.



Mesin pencari google kugunakan untuk membantuku. Property. Kuketik kata itu. Searching… mencari, dan dalam hitungan detik kuperoleh bermacam informasi yang berhubungan dengan property. Aku men-save beberapa informasi yang kuanggap penting. Cukup, aku masih dapat melanjutkan setelah makan siang. Ku lihat Dinar, melambaikan tangannya kearahku. “ten minute again….”, katanya. Kulihat dia masih sibuk menyusun laporan pertanggungjawaban keuangan untuk bulan ini. “Oke, aku menunggu” balasku.



Sepuluh menit menunggu Dinar, sayang kubuang waktu begitu saja. Aku masuk ke yahoo.com, mengecek e-mailku, mungkin ada e-mail baru yang masuk. Sejak dua hari yang lalu aku belum sempat membuka e-mail. Welcome Amanda !, You have 9 unread messages. Inbox (5), Bulk (4). Aku segera membuka kotak inbox. Dua e-mail berupa penawaran program anti virus baru. Aku tidak berminat membacanya, segera kudelete. Satu e-mail dari wedding organizer, ku buka. Berupa undangan menghadiri pameran foto pengantin terbaru di Jakarta minggu depan. Aku tidak antusias lagi. Masa berburu informasi pernikahan sudah berlalu. Ketika aku sibuk mempersiapkan pernikahanku, aku mendaftar di web site wedding organizer, dan web site ini tidak pernah alpa memberi informasi kepada membersnya tentang semua kabar dan kegiatan terbaru. Toh aku sudah menikah, tidak perlu lagi, jadi e-mail ini kudelete. Menyimpan e-mail yang tidak terlalu penting bukan kebiasaanku. Aku baru akan membuka dua e-mail terakhir ketika Dinar sudah berada di depanku. Disamping itu “alarm” dari perutku juga sudah berbunyi.


Dinar, teman yang cukup dekat denganku, kami seumuran, tapi masih lajang. Orang tuanya masih menginginkan dia mendapat suami yang masih berdarah biru. Agar anak-anak Dinar kelak tetap bisa mempertahankan gelar kebangsawanannya. Aku menghormatinya, pun aku mensyukuri kedua orang tuaku masih memberikan kebebasan padaku untuk memilih pendamping, walaupun pada akhirnya suamiku juga masih sama denganku. Tapi dari dalam lubuk hati yang dalam kuterima Ramadhan menjadi suamiku bukan karena kriteria itu. Masih banyak value yang dimiliki Ramadhan untuk menjadi suamiku. Pun demikian halnya pada Dinar, yang kutau bukan pula karena alasan itu, hingga saat ini dia masih menikmati hidup melajangnya, “bebas merdeka, I can fly like a butterfly, wherever I go and whatever I want….” katanya. “Itu bukan prasyarat untuk masuk surga”, kata Dinar suatu waktu. Itu pilihan hidupnya, dan patut dihargai.



Usai makan siang, dimejaku tergeletak surat dari perusahaan Jepang yang harus dibalas yang merupakan disposisi dari Pa’ Kuncoro. Kata “segera” dari petunjuk disposisi surat itu membuatku tidak berlama-lama untuk segera membuat surat balasan. Sebenarnya aku bisa menunjuk Ami, stafku untuk membalas surat itu. Tapi aku berpikir bahwa itu surat dari perusahaan asing. Perlu ketelitian untuk membalasnya. Otakku mulai merangkai kata. Aku memusatkan perhatian pada layar komputer di depanku dan mulai menulis Dear Mr. Yanagi Matzuko, bla…..bla….. bla….. Thanks you for attention…. Sincerely yours, kuketik nama Amran Muhidah, SE. MA, Direktur utama perusahaan kami. Selesai. Kubaca sekali lagi surat tersebut, ku yakinkan substansinya sudah memuat kesediaan perusahaan kami menyediakan stok komoditi yang mereka inginkan dan kesediaan kami menyediakan lahan sekian hektar untuk mereka gunakan. Kupastikan tidak ada kesalahan pengetikan atau kesalahan grammer pada tata bahasanya. Si direktur itu orang yang sangat teliti. Di samping itu aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah kandidat yang tepat untuk dipromosikan, ku mulai dari hal-hal yang kecil yang kadang luput dari perhatian. Lampu hpku berkedap-kedip, sebuah sms masuk. “Rapatku masih berlanjut hingga malam, aku tidak bisa menjemput” sms dari suamiku. Aku menghela napas panjang, berarti aku harus pulang dengan taksi. Kubalas dengan kata “oke”.



Selesai membalas surat, aku baru teringat pada dua e-mail yang belum sempat kubaca. Yahoo. com kembali kubuka. Subject: Hallo apa kabar, Sender: Mayafdh, ku klik dua kali.


Hallo Manda, selamat siang…
“Apa kabar. Lama aku tidak mendapat kabar tentangmu. Yang kudengar hidupmu kian bersinar. Terang, seperti matahari pagi. Karir dan keluarga telah kau miliki. Selamat !!! Alangkah baiknya Tuhan padamu, segala inginmu diwujudkan-Nya dalam kenyataan. Semoga harimu senantiasa diliputi senyum dan kedamaian. See you…. “

Keningku berkerut, who’s the one??? batinku. Kalau menanyakan kabar, jelas orang yang sudah lama tidak bertemu. Aku mulai mendata nama-nama orang berjudul MAYA yang pernah kukenal dan lama tidak saling bertukar kabar. Yang tersisa dalam ingatanku ada empat Maya, mungkin salah satu dari mereka. Kubuka lagi e-mail yang tersisa. Dengan subject dan pengirim serta isi e-mail yang sama, dikirimkan kemarin, selang satu hari dari e-mail yang pertama. Agak penasaran, aku mengklik “reply” ku balas. Re: Hallo apa kabar juga.
“Kabar baik, terima kasih atas ingatanmu padaku. Semoga hidupmu lebih bersinar pula. Tapi maaf aku lupa, ini Maya Hamid (teman SMP dulu) ? Maya Kembar (teman satu kelompok tari di SMP)? Maya Ibrahim (anak kelas 3 Biologi waktu SMA)? atau Maya Hermawan (anak ekonomi) ? btw senang mendapat kabar darimu. See you to…” .

Ku klik Sent. Terkirim. Aku tidak memasukkan Mba Maya, staf di divisiku, toh meja kerjanya tepat berada di depan meja kerjaku. Dia tidak mungkin merindukanku, setiap hari kami bertemu. Dan aku berharap si Mayafdh itu adalah salah satu dari mereka, Maya-Maya itu.
Setelah itu aku kembali membuat laporan penjualan tiga bulan terakhir, harus kubuat sempurna laporan kali ini karena aku akan langsung mempresentasikannya. Kucek kembali kebenaran angka-angka penjualan yang kuinput dalam tabel sebelum kubuat dalam bentuk grafik dengan berbagai skala.


Pukul 6.30 malam, taksi yang kutumpangi tiba di rumah. Aku sengaja pulang lebih awal. Setiap hari bila menjelang sore, hujan pasti turun, dan aku tidak mau terjebak hujan. Pintu pagar terkunci rapat. Lampu teras belum dinyalakan. Dari luar sekilas kulihat rumahku tampak tak berpenghuni, sunyi. “ Rumah kita sudah saatnya mempunyai penghuni mungil....” kata-kata suamiku berbisik pelan ditelingaku. Aku membuang jauh sebuah rasa yang tiba-tiba hadir, ku tekan bel, kulihat Salma bergegas keluar.
“Kenapa lampu teras belum dinyalakan ?” tanyaku agak kesal.
“Eh.. baru ka selesai sholat puang…?”
“ Makanya lampunya di nyalakan sebelum maghrib”, aku mengingatkan kealpaan si Salma yang sudah sering dia lakukan.
Selesai shalat maghrib, aku merebahkan diri di tempat tidur. Dan terbangun oleh dering hpku. Pukul 9.30 malam.
“Manda….hallo….”
“Ya haloo.. Daeng dimana ?”
“Manda, aku pulang telat, peserta rapat masih menarik ulur keputusan, makan saja duluan, oke” suara suamiku kudengar.
“Ya, tapi Daeng di mana sekarang ?” ulangku lagi. Terdengar suara kendaraan yang melaju.
“Masih-masih di kantor, oke bye…” balasnya.
Aku mengatur nyawaku yang baru kembali, aku baru menyadari sepenuhnya kalau aku sempat tertidur. Aku bangun dan bergegas ke kamar mandi, kulewati cermin besar yang memantulkan bayanganku. Yang kulihat adalah aku masih berpakaian kantor lengkap sebagaimana waktu akan berangkat kantor tadi pagi. Aku bergidik, rasa bosan entah muncul darimana, besok aku memulai hari dengan kegiatan yang sama, rumah – kantor – kerjaan – kantor. Tiba-tiba aku mengingat umur, September nanti usiaku genap 30 tahun, sedang suamiku telah genap 32 tahun di Maret yang lalu….


Hari selasa, berarti baru hari kedua di minggu ini, mestinya semangat kerjaku sedang tinggi-tingginya seperti biasa, tapi saat ini kurasakan moodku sedang tidak bagus. Aku mencek biorhythm graphs-ku hari ini lewat salah satu fasilitas di hpku. Graphs for today… aku menekan tombol. Sebuah grafik tergambar. Energi dengan symbol warna merah masih bergerak naik, IQ disimbolkan warna ungu juga masih cenderung naik meskipun bergerak lambat, dan Mood dengan symbol warna biru berada pada titik 0 dan tidak bergerak naik. Fasilitas satu ini walaupun lebih sering bias dengan keadaan yang sebenarnya, tapi untuk kali ini aku agak sedikit percaya dengan hasilnya. Benar aku sedang moody. Aku bosan…. jenuh…. dan merasa serba tidak nyaman. Aku meraih tas kantorku dan mencari pemutar flash yang baru kubeli. Head set walkman berukuran korek api itu kumasukkan ditelingaku. Untung semalam aku sempat mentrasfer sejumlah lagu dari salah satu koleksi MP-3ku. Fixing a broken heart-nya Indecent obsession mengalun:



“ There is nothing to say the day she leave…. just feel a suitcase full of regrets… I hear a taxi in the rain…. looking for some place to easy the pain……”

Meski lagu lama tapi masih enak didengar, dan cukup membantuku saat ini, mencoba lebih santai, aku memejamkan mata. Agak terhibur, untung ada orang yang menemukan “musik….” batinku.
“…. Like an answers pray … I turn around and find you there…… you really know where are the start … fixing a broken heart…….” aku turut bersenandung kecil.

Jam makan siang tiba. Sejak pagi tadi kudengar kalau Bim2 cowok kacamata di bagian administrasi hari ini berulang tahun. Sebuah tradisi di kantorku kalau hari ulang tahun patut dirayakan bersama di mana tempatnya disesuaikan dengan permintaan suara terbanyak, dan itu berarti yang berulang tahun harus siap sedia dengan sejumlah dana segar untuk mentraktir. Kudengar suara Dinar berteriak horeee….!!! seperti anak kecil yang mendapat cokelat. Dia memang paling antusias kalau ada yang berulang tahun. Kebiasaan jailnya akan muncul. Dan Bim2.….hari ini harus siap-siap menerima “kerjaan” Dinar.


“Nusantara penuh, antri…..”, Dinar memberi tahu, kalau rombongan kami yang berjumlah tiga mobil berisi penuh sesak penumpang tidak jadi makan di Nusantara, tempat makan favorit kami. Dan iring-iringan memutar haluan ke Restoran Ikang yang juga terkenal dengan seafood-nya.
Sambil menunggu pesanan makanan, beberapa teman mulai sibuk meminta lagu untuk berkaroke. Dinar mengambil alih acara, dia mengajak orang-orang berdoa, “ Sebelum makan kita berdoa dulu buat si Bim2, semoga dia cepat diberi jodoh. Tapi jangan denganku karena aku akan terlalu berlebihan untuknya….” Dinar memulai aksinya. Kudengar teman-teman mulai tertawa.



Aku beranjak dari tempat dudukku. Panggilan kebelakang, mau pipis. Menuju ke kamar kecil yang ada di sudut kanan, aku mesti melewat ruang VIP yang diperuntukkan untuk dua orang. Sejenak langkahku terhenti, samar kudengar orang tertawa, dan sepertinya aku mengenali suara orang yang sedang tertawa itu. Aku mencoba mengenali sosok orang yang di dalam ruang itu dari kaca yang agak gelap, meskipun cuma punggungnya, tapi aku juga mengenalinya. Itu Ramadhan, suamiku. Aku istrinya. Tak mungkin aku salah.



Aku merogoh kantung bajuku untuk meneleponnya, aduh… hpku dalam tas kantorku, ada di tempat dudukku. Aku segera menemui pelayan yang bediri di depan pintu ruang VIP itu, cowok dengan gaya yang agak kemayu, bences… ku tau tugasnya untuk memastikan agar pengunjung VIP mereka tidak terganggu ketika sedang bersantap. Aku membisikkan sesuatu padanya, dan dia mengangguk. Tanpa menunggu lama aku langsung membuka pintu. Ku lihat dua orang didalamnya tersentak begitu pintu tiba-tiba di buka, secara agak kasar pula. Tapi aku lebih tersentak lagi tak kalah sosok yang diruangan itu memang Ramadhan, suamiku bersama seorang ….. wanita.


Sebenarnya pemandangan ini biasa karena suamiku memang mempunyai banyak relasi bisnis, dan rata-rata ku kenal. Tapi kali ini pemandangan menjadi tidak biasa karena sebagian dari tangan wanita itu berada di bahu suamiku, mendekap. Kepalanya tepat di dada suamiku. My God…..!!! What kind of business? What kind of launch …??? Menu makan siang apa ini… ??? Suamiku ternyata melakukan hal yang sama, sambil satu tangannya membelai lembut kepala wanita itu. Refleks karena kaget, mereka serentak berdiri. Aku seperti tersengat listrik bertegangan tinggi, kakiku gemetar, “Daeng…. !!!!“ aku berteriak keras dan mendekat ke arah suamiku. Aku menarik keras bajunya. Satu kancingnya terlepas.
“Kita bikin apa ….?” suaraku masih meninggi sambil menatap tajam wanita itu yang berdiri mematung.
“Manda, tenang…. dia….” Suamiku mencoba menenangkanku.
“Daeng… kita bikin malu” Aku mengibaskan tangannya dengan kasar.
Sepertinya aku ingin membunuhnya saat itu juga, dan wanita itu ??? aku membutuhkan sambal pedis yang baru diulek, aku ingin menyapukan di muka wanita itu. Aku tak mampu menguasai diri. Aku berteriak-teriak keras…. memaki….dalam sekejep segenap perhatian pengunjung tertuju pada ruang VIP di mana kami berada. Ribut, ramai….. Dinar dan teman-teman kantorku yang lain berdatangan. Mereka baru menyadari kalau akulah biang keladi keributan itu. Dinar menarikku dari kerumunan orang, aku masih berteriak, kulihat wanita itu berjalan diikuti pandangan mata orang-orang, dia turun lewat tangga belakang. “Perempuan sial….” aku kembali berteriak. Pengunjung semakin ramai, memang karena pas jam makan siang. Apalagi beberapa meja yang sudah di-reserved- telah di isi oleh orang-orang yang memesannya.
Dinar “mengamankanku” di tempat yang relatif sepi. Diikuti suamiku. “Ayo kita pulang Manda”, katanya. Mukanya memerah. Aku menghempas tangannya, sedikit aku mulai tersadar kalau itu tempat umum. Aku berjalan cepat diikuti Dinar ke tempat parkir. Teman-temanku yang lain termasuk Bim2 sudah berada di mobil masing-masing. Mereka tidak jadi makan, look at them….betapa tolerannya. Acara ulang tahun Bim2 menjadi kacau balau karena ulahku.
Rombongan kami, terutama diriku, ditonton seperti sirkus oleh pengunjung yang lain, mereka tidak perlu penjelasan “what happened ?”… Karena sudah sangat jelas mereka akan bercerita seperti ini: Suami wanita yang bersyal biru itu (dan pasti sambil menunjuk ke arahku) kedapatan sedang bermesraan ….dst…..dst…..dst… dan memang bagi sebagian orang adalah sebuah “penghargaan” bisa menjadi saksi hidup sebuah perselingkuhan…. bisa menjadi nara sumber rumpian. Layaknya menteri komunikasi dan informasi yang harus menyebar berita ke orang-orang. Selamat dan sukses…. Congratulation… !!! Aku menjadi “headline” siang ini. Dan yang pasti aku telah menjadi SANGAT MALU….. AMAT!!!!!!


Dalam perjalanan pulang Dinar menenangkanku, yang lain hanya terdiam…..membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku menangis. Kuminta Dinar mengantarku pulang, rasanya aku tidak perlu lagi pamit pada Pa’ Kuncoro untuk izin setengah hari, mulut-mulut teman kantorku dengan sendirinya akan berbicara mengenai kejadian tadi. Bukan salah mereka. Film baru, new release dipertontonkan di depan mereka tanpa perlu membeli tiket. Free…. Aku hanya ingin pulang dan menyelesaikannya dengan suamiku. Kulihat mobil suamiku telah terparkir di garasi rumah kami. Dentang perang dunia ketiga berbunyi nyaring….. tak terhindarkan !!!!!


Salma kuperintahkan naik ke lantai dua, di kamarnya. Kulihat wajahnya pucat pasi. Perang dunia ketiga terjadi..…. seperti dalam Film Troy, banyak serdadu yang berguguran. Kalau dalam film yang banyak terlihat adalah ceceran darah pejuang perang, maka dirumahku yang terlihat adalah pecahan-pecahan kaca vas bunga dan asbak yang tersebar di lantai. Pernik-pernik dan pigura foto yang selama ini tertata rapi diatas sebuah meja kecil juga sudah bersatu pada di lantai, pecah…. menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, tapi bukan guru.



Isi kamarku setali tiga uang, tak jauh beda, kacau balau …. berantakan… Ramadhan, suamiku itu terhempas di sofa menatap langit-langit. Tangan kanannya berdarah akibat lemparan asbak dariku yang ditangkisnya. Aku di kamar menangis, hatiku luka berdarah, tapi aku tak mau berteriak-teriak lagi. Suaraku telah parau. Aku duduk dilantai menenangkan diri. Ku teringat mama di rumahnya. Kondisi genting, “penjahat” di depan mata, seperti dalam film, seharusnya aku segera mencari bala bantuan. Namun 911 belum ada di Makassar, dan pasukan SWAT hanya ada di Amerika. Fasilitas SOS (save our soul) mestinya kugunakan. Aku bisa menelepon mama atau Ka Nanda untuk menjemputku. Tapi kuurungkan niatku. Ini masalah rumah tanggaku. That is my problem. 911, SWAT, SOS kuabaikan….. Aku tak mau orang luar turun tangan, pun oleh Mama dan kakakku sendiri.


Aku menangis lagi. Ternyata aku tidak jauh beda dengan kisah-kisah para istri pada umumnya: “teraniaya” oleh suami. Selingkuh bisa dikatakan lawan kata dari kata setia, dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai penghianatan terhadap pasangan resmi. Aku belum sempat membaca arti katanya dalam kamus bahasa Indonesia. Yang ku tau, tak pernah atau setidaknya belum terbersit sekalipun kecurigaan kalau suamiku akan melakukan tindakan seperti yang dimaksud pada arti kata selingkuh itu.



Satu yang pasti kini adalah catatan putih perkawinanku telah tercoreng pena merah oleh suamiku. Dengan paksa, ku minta suamiku bersumpah dengan kitab suci di atas kepalanya kalau ia akan berkata jujur. Dan kejujurannya itu menyakitkanku, menghempaskan aku dalam kehinaan. Seperti ditusuk dari belakang. Aku dikhianati. Tiga tahun hidup bersama dengannya tapi dia telah menggunakan empat bulan dalam paruh waktu itu untuk menjalin perselingkuhan ….. (lagi-lagi kata ini yang harus kugunakan) dengan wanita itu. Hubungan yang berawal dari urusan bisnis. Wanita yang bernama Maya itu seperti pengakuan suamiku di atas sumpahnya, mengejar suamiku. Pun dia tau kalau laki-laki yang dipujanya itu telah beristri. Ingatanku kembali….. namanya Maya, kemarin aku mendapat dua e-mail dari seseorang bernama Maya. Mayafdh. Tidak salah lagi, pasti wanita itu orangnya.



Faktanya sekarang adalah suamiku menjalin hubungan dengan wanita lain. Secara logika tentu ada satu nilai lebih dari wanita itu yang tidak kumiliki. Anak. The right answer. Itu yang diinginkan suamiku. Sakit…. Dalam kejujurannya suamiku mengatakan kalau wanita itu mendukungnya untuk segera punya anak. Jelas saja, toh dia menginginkan suamiku, jelas dia rela memenuhi harapan suamiku untuk mempunyai anak. Sakit… berarti suamiku tidak mencintaiku sepenuhnya, yang dia inginkan hanya anak sebagai penerus generasinya, bukan dari siapa dia dapat memperoleh anak. Aku tidak diperhitungkannya lagi. Suamiku lupa bahwa aku bukan tidak bisa memberinya anak. Tapi belum saatnya bagiku. Tapi apapun alasannya, suamiku telah melakukannya. Aku nelangsa…. perih.



Dalam sumpah suamiku tadi, aku belum sempat atau tepatnya tidak sanggup mengorek kejujurannya tentang apa yang telah mereka lakukan. Aku tidak sanggup membayangkan wanita lain terlelap dalam pelukan suamiku setelah….. setelah…. “Wanita jalang…..” aku memakinya. Terbayang raut mukanya. Aku memperkirakan umurnya tidak jauh beda denganku. Masih dalam kejujuran suamiku, wanita brengsek itu adalah seorang janda bercerai dari suaminya karena perkawinan mereka adalah hasil perjodohan. Astaga…. sudah sejauh itukah suamiku melibatkan diri dalam kisah hidup wanita itu. Berarti suamiku telah pula menceritakan romantika perkawinan kami. Mengapa suamiku bersedia percaya begitu saja. Sementara mereka berhubungan baru empat bulan. Mungkin saja sampai saat ini dia masih berstatus istri orang…. dan kalau seperti itu berarti suamiku juga telah termasuk kategori merusak rumah tangga orang, sama dengan wanita itu telah merusak rumah tanggaku. Perempuan murahan…. tidak taukah dia efek yang ditimbulkan atas hidupku ????



Peristiwa siang tadi di restoran itu sekaligus memblack listku dari daftar orang-orang yang berbahagia dalam perkawinannya. Segudang ide cemerlangku, kecerdasanku, kemahiranku dalam bernegosiasi, ketelitianku dan kepantasanku untuk dipromosikan sebagai manifestasi dari hidupku yang bahagia dan nyaris sempurna hilang ditelan bumi tak membekas. Aku dihempaskan ke ruang hampa yang hanya patut dihuni oleh orang-orang tak bernilai. Yang kurasakan orang-orang menertawakanku. Aku yang selama ini dijuluki sebagai Miss. Perfect atas sikap keprofesionalanku ter- drop out - terdepak. Aku dititik nol dalam urusan rumah tangga. Reputasi seketika tercoreng.



Aku memejamkan mata, kusandarkan badanku di pinggir tempat tidur. Masih ada efek yang ditimbullkan oleh pengkhianatan suamiku. Cepat atau lambat, like or dislike… orang tuaku, mertuaku, saudaraku, saudara iparku dan segenap keluarga besar akan mengetahuinya. Aku tak sanggup membayangkan apa yang selanjutnya terjadi. Apa pendapat mereka. Akankah seratus persen suamiku dipersalahkan atau juga salah dilimpahkan padaku karena kekerasan kepalaku yang bertahan untuk menunda anak sehingga suamiku bertindak tolol??? Entahlah… yang jelas kini perkawinanku berada di sebuah gerbang. Gerbang kehancuran.



Di lain pihak aku sangat mengagungkan kesetiaan. Pengkhianatan bagiku tidak termaafkan. Unforgiven. Ramadhan tau itu. Tapi mungkin dia lupa kalau di awal perkawinan, aku sudah mulai belajar untuk setia, termasuk ketika aku harus meminta izin untuk menerima ucapan selamat dari Iman, orang yang pernah menjadi bagian hidupku sebelum dia. Dan aku menurutinya kala itu. Kutunjukkan pada Iman bahwa aku bisa mendapat yang terbaik untuk hidupku.



Rasa sakit kembali menyergap perasaanku…. aku ingin pergi ke tempat yang belum terjamah manusia, hingga tak perlu bertemu dengan orang-orang. Mars….. di planet itu, tapi aku belum mengetahui perkembangan terakhirnya apakah penduduk bumi sudah diperbolehkan berimigrasi di sana atau belum. Yang ku tau ada planet terbaru yang ditemukan setelah Pluto. Jadi Pluto bukan lagi “anak bungsu”, meskipun masih kontraversi apakah termasuk planet atau hanya sebuah komet biasa. Terserah masuk kategori mana, aku ingin ke sana. Aku ingin menyendiri…. tak terganggu. Harus kulakukan!!! Ku raih koper yang biasa kugunakan ketika melakukan tugas luar, kumasukkan pakaian yang kuperlukan. Tak banyak. Sepertinya aku tidak jauh beda dengan lagu Fixing of broken heart-nya Indecent Obsession, pergi dengan tas yang berisi penyesalan… tapi bagiku bukan hanya itu, tasku juga berisikan rasa malu dan kecewa….



Akhirnya dengan sedikit usaha…..aku menemukan juga “planet terbaru” itu, adiknya planet Pluto. Untuk sementara aku aman disini. Aku menelepon mama dengan pemberitahuaan singkat, pun ternyata beliau telah mengetahui apa yang menimpaku. Aku mengatakan pada mama kalau aku dapat menyelesaikan masalahku sendiri. Aku menjawab telepon mertuaku dengan mengatakan kalau kami baik-baik saja. Aku bukan menantu cengeng yang akan datang ke pelukan mertua dengan meratap. Tidak. Aku tidak dilahirkan untuk meratap dan tak berdaya seperti itu.



Babak kedua kehancuranku dimulai. Siang tadi suamiku menjumpaiku di rumah mama, setelah seminggu peristiwa itu. Dia menangis berlutut padaku. Ini kali kedua ku lihat suamiku mengeluarkan airmata. Pertama, ketika akad perkawinan kami, dia menitikkan airmata… airmata bahagia…. Yang kedua adalah saat ini, dia menangis, meratap memohon maafku. Aku teringat dengan penjaga ruang VIP yang kemayu itu, kulihat suamiku tidak jauh beda.
Dalam tangisnya, suamiku kembali berkata jujur. Dan kejujurannya sekali lagi menyakitkanku, memaksaku untuk berhenti bernapas. Kekasihnya, perempuan murahan itu hamil….. mengandung anak mereka. Anak suamiku. Wanita itu dan keluarga besarnya meminta suamiku bertanggungjawab. Hubungan selingkuh itu membuahkan “siri” pada keluarga kami. Dunia bagai terbelah dua dan aku terjerembab masuk kedalamnya….. kiamat telah terjadi dalam rumah tanggaku.



Aku menangis…. berontak…. pertahananku ambruk, goyah…. aku pingsan dalam pelukan mama. Ternyata aku belum cukup kuat untuk menjadi wanita mandiri tanpa campur tangan orang lain. Aku masih dan sangat memerlukan mama. Kuteringat kebiasaan mama dimasa kecilku, setiap malam mama membaluri tubuhku dengan bedak dingin, dan memastikan aku tertidur nyaman, kuteringat ketika sudah tidak ada pembelaan atas kenakalan yang kulakukan aku masih dapat berlari dan berlindung padanya. Kuteringat ketika demam tinggi menyerangku. Kurasakan jemari mama tiada pernah berpindah dari tubuhku, memastikan aku dapat tertidur lelap dalam sakitku, meskipun ku tau saat itu mama tidak sekalipun memejamkan matanya. Kurasakan mataku menghangat, saat ini kudatangi lagi pelukan hangat itu, kutumpahkan tangisku disana….



Aku siuman, mama disampingku. Mertua dan iparku datang kemudian, memelukku. Untuk pertama kalinya kudengar mertuaku berbicara dengan nada suara yang keras. Mertuaku pun menangis. Intan, adik suamiku sibuk menelepon menggunakan hp suamiku, dia berbicara dengan seseorang, mungkin wanita itu, kudengar sesekali dia memaki, menghardik, mencerca. Kucari papaku, kulihat beliau sedang membicarakan sesuatu dengan mertua laki-lakikku. Entah apa yang mereka bicarakan, yang dapat kutangkap adalah guratan aura wajah papa yang mengeras. Papa marah, putrinya teraniaya. Ka Nanda berbicara dengan Puang Bulan, adik papaku sambil memangku Mutia, anak keduanya. Kulihat aura marah juga terpancar dari wajahnya, suaminya menenangkannya. Tapi aku tidak melihat suamiku, dan mungkin itu lebih baik.



Aku terpekur…. pikiranku menerawang, dalam hitungan detik cerita hidupku berubah arah 360 derajat. Ke mana aku akan membawa biduk rumah tanggaku. Kemungkinan terburuk telah pula terbersit dalam pikiranku, cerai… aku bergidik ketika mengatakannya, pun hanya dalam hati.
Gerimis masih tersisa di akhir musim penghujan kali ini. Aku berusaha untuk berpikir tenang…. satu keputusan harus kuambil, keputusan jangka panjang. Seperti dalam ilmu perencanaan, dalam mengambil sebuah keputusan bukan hanya untuk jangka pendek, tapi juga untuk jangka panjang, jadi aku harus berhati-hati. Dan hari ini aku telah memutuskannya, keputusanku final, bulat dan tak tergugat. Aku memilih berpisah darinya….dari Ramadhan, suamiku. Mataku kembali menghangat. Hari ini adalah hari ulang tahun ketiga perkawinan kami…..
“ Setiap orang pasti akan dicoba ketika dia memutuskan untuk berumah tangga, tapi cobaannya berbeda-beda” kata Ka Nanda dengan hati-hati.
“Sabar, Dek…. pasti ada hikmahnya, kamu masih sangat muda…..” lanjutnya.
“Wanita itu telah mengandung anak mereka”
“Tapi wanita itu telah pergi, dia memilih meninggalkan Makassar” Ka Nanda mengelus rambutku.
“Maafkan suamimu …..”
“Aku tak mau melihat Ramadhan lagi, siapa yang mau dimadu ??? aku lebih memilih hidup sendiri daripada hidup bersamanya!!! nada bicaraku mulai meninggi.
“Tenang Dek…. tenang….”
“Rasa percayaku sudah tidak akan ada untuknya” kataku melemah.
Aku berada di taman, sore ini cuacanya cukup menenangkan. Aku duduk pada sebuah kursi panjang, sinar matahari sudah tidak menyengat lagi. Beberapa bahan bacaan yang sedari tadi kubaca kuletakkan disampingku. Sebuah studi tentang dampak kenaikan BBM barusan kupelajari. Kasian orang-orang miskin itu….. Kupejamkan mata dan menghela napas panjang. Aku ingin membuang jauh lukaku….. terbang jauh…..


Samar-samar aku mendengar sekelompok orang berbicara. Mungkin tiga atau empat orang. Mereka berbicara dengan perlahan, tapi masih jelas kudengar setiap kata yang mereka ucapkan. Aku masih memejamkan mata, pasti hanya sekelompok ibu-ibu yang pulang dari arisan dan meluangkan waktunya untuk bergossip, ngerumpi… satu “keahlian” yang rata-rata dimiliki oleh wanita. Aku tidak berniat mendengar apa yang mereka obrolkan, aku menutup kedua kupingku, tak mau terlibat dengan topik bahasan mereka.



“Dia dulu seangkatan denganku waktu SMP. Hampir satu sekolah mengenalnya, murid teladan ” ucap sebuah suara.
“Dia pandai sekali menari, aku sekelompok tari dengannya ketika SMA, baru sekali-dua kali latihan, dia sudah dengan mudah mengikuti gerak tarian, dia anak emas Pa’ Yanwar, guru tari kami…..” suara kedua bertutur.
“ Dia pandai dalam pelajaran biologi, ilmu genetika manusia dihapalnya di luar kepala….” timpal suara ketiga.
“ Begitu juga waktu kuliah dulu, aku beda fakultas dengannya, tapi sepertinya tidak ada orang di fakultasku yang tidak mengenalnya, dia sempat menjadi kandidat ketua senat…” ujar suara keempat.
“Asal tau saja, dia selalu menjadi icon mode di kampus… yang dimilikinya selalu yang terbaru….” lanjutnya lagi.
“Sepertinya keberuntungan hidup selalu ada padanya……” suara kedua terdengar kembali.
Siapa yang sedang mereka obrolkan ??? Apakah teman mereka yang telah menjadi artis atau teman mereka yang mendadak menjadi jutawan karena menang undian??? Entahlah yang jelas sepertinya mereka sedang iri dengan keberuntungan sesorang. “KDL=kacian deh loe …..” aku mengucapkan kata-kata itu dalam hati untuk mereka. Tak mungkin aku mengucapkannya langsung, bisa-bisa aku dikeroyok oleh mereka. Aku tak mau mencari masalah baru. Jadi kuteruskan saja menguping pembicaraan mereka dengan tetap memejamkan mata.
“ Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, sejak suamiku dipindahkan ke Medan, aku kehilangan kontak dengannya, tapi aku tidak heran bila dia mendapatkan semua itu, otaknya memang cerdas, wajahnya termasuk dalam kategori enak dilihat, keluarganya berada….” satu suara yang sedari tadi diam sedikit membela.
“….. tapi aku pernah sakit hati dibuatnya, Wawan pacarku waktu kuliah dulu sempat naksir padanya…. namun akhirnya aku salut padanya, karena dia datang padaku dan mengatakan kalau dia tidak punya perasaan apapun terhadap Wawan…” suara yang keempat berkomentar lagi.
“….. dan dia diterima bekerja di perusahaan besar itu hanya dengan sekali melamar, sedang aku ??? tiga kali aku memasukkan surat lamaran, tiga kali dites dan tiga kali pula aku dinyatakan tidak lulus…menyedihkan….” suara keempat melanjutkan.
“Aku pernah sekali mengirim e-mail padanya, dia membalas e-mailku, tapi dia lupa padaku, dia pikir aku salah satu dari kalian, dalam e-mail balasannya dia menyebut nama kalian satu-satu, tapi tidak menulis namaku Maya Fadilah, temannya semasa ospek dulu. Tapi sudahlah….. kita tidak bisa menebak nasib manusia, Tuhan selalu memainkan skenario-Nya dengan alur yang sama sekali tidak bisa kita duga. Aku bersimpati atas apa yang terjadi padanya. Dia di luar kendali ketika mengarahkan pisau kearah suaminya yang menyebabkan suaminya meninggal seketika….. tepat di hari ulang tahun perkawinan mereka yang ke tiga. Tapi aku tidak menyalahkannya…. karena adakah wanita yang rela bila ternyata suaminya berselingkuh dengan wanita lain hingga hamil ??? Saat datang ke sini ternyata dia telah mengandung satu bulan. Anaknya, orang tuanya serta saudaranya secara rutin mengunjunginya setiap dua minggu sekali. “Lihat bocah laki-laki itu”, itu anaknya. Setelah melahirkan, anaknya diambil dan diasuh oleh orang tuanya. Dalam kondisinya sekarang tak mungkin ia dapat membesarkan anaknya……” suara yang tadi membela berbicara panjang lebar.
“ Betul katamu…. Tuhan selalu memainkan scenario-Nya dengan alur yang sama sekali tidak bisa kita duga. Seperti kita ini, kita berlima mempunyai nama depan yang sama MAYA, dan kita dipertemukan pada tempat yang sama karena suami kita masing-masing bertugas sebagai dokter di sini… di rumah sakit rehabilitasi jiwa ini….ha…ha….ha…” derai tawa kudengar dari bibir-bibir mereka. Para istri dokter rupanya…



Tapi tunggu dulu….. aku mulai tertarik dengan obrolan mereka. Dari tadi mereka bercerita dengan menggunakan kata “dia” berarti kata ganti orang ketiga tunggal. Ada orang lain di luar mereka yang menjadi topik pembicaraan…. tapi kenapa mereka menyebut “planet terbaruku” sebagai tempat rehabilitasi jiwa….??? Aku juga melihat bocah laki-laki berusia tiga tahunan yang mereka maksud, sedang bermain bola di ujung taman, tidak jauh dari tempatku duduk. Wajah bocah itu sepintas mengingatkanku pada seseorang yang sepertinya kukekanali…. namun entah siapa…



Angin senja tiba-tiba bertiup agak kencang, aku tersentak dan refleks membuka mataku, sebuah kesadaran hadir dalam hati dan pikiranku……. d-i-a..….dia, orang ketiga yang mereka maksud dan menjadi topik pembicaraan adalah……. AKU……….


































No comments: