Kami, Aku dan Mama
Hari ke 210
Hari ke duaratus sepuluh aku mengikuti pengembaraan Mama. Pengembaraan yang seharusnya tidak perlu aku ikuti. Tapi mama memaksaku untuk ikut. Wajib! Harus!. Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku mengikuti mama. Sebagai anak yang berbakti, akupun mengikuti segala kemauan mama setiap hari, pagi hingga malam, malam hingga pagi kembali. Bayangkan!!! Aku mengikuti semua kehendak mama tanpa pernah bisa mengutarakan apa yang menjadi keinginanku.
Hari ke duaratus sepuluh aku mengikuti pengembaraan Mama. Pengembaraan yang seharusnya tidak perlu aku ikuti. Tapi mama memaksaku untuk ikut. Wajib! Harus!. Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku mengikuti mama. Sebagai anak yang berbakti, akupun mengikuti segala kemauan mama setiap hari, pagi hingga malam, malam hingga pagi kembali. Bayangkan!!! Aku mengikuti semua kehendak mama tanpa pernah bisa mengutarakan apa yang menjadi keinginanku.
Tapi sudahlah, aku hanya ingin melihat mama bahagia. Itu saja. Sekali lagi, dengan rela aku mengikutinya. Seperti pagi ini. Mama memaksaku sarapan dengan jus tomat, “ ... aak.... ihh.... aku tidak tahan dengan baunya”, aku ingin memuntahkannya. Tapi mama meminumnya dengan satu kali tegukan. Glek. Aku mengikuti perbuatan mama, meminum jus tomat. Kata mama tomat mengandung anti oksidan yang baik untuk kesehatan. Kulitku akan bagus bila aku rajin meminumnya. Jadi budget untuk menghaluskan kulit tidak terlalu aku butuhkan. Oke... aku setuju.
Selesai sarapan, mama mengajakku menonton televisi. Mama memilih chanel televisi yang menyiarkan berita. Yes... kalau itu aku juga suka. Untuk pilihan acara, aku dan mama mempunyai kesamaan. Kami lebih memilih berita dibanding acara infotainment yang kata mama tidak menambah khasanah pengetahuan. Untuk apa membuang waktu dengan menonton kegiatan hidup orang yang kawin-cerai-berulang tahun-baru resmi pacaran-putus-selingkuhan-ke panti sosial-bersengketa-tertipu-beli mobil baru, untuk apa??? Toh orang biasa juga banyak melakukan hal serupa. Itu siklus hidup yang dapat dialami oleh semua manusia, alamiah, bukan hanya karena mereka artis. Itu alasan mama. Betul juga, tapi aku mengingatkan mama agar jangan menyebut mereka lagi dengan kata “artis”. Aku berbisik pada mama kalau mereka lebih suka disebut sebagai “pekerja seni”.
Hubungan sebab-akibat berlaku, mama tidak mau aku terpengaruh oleh “kegiatan” pekerja seni itu, jadi mama mengajarku untuk selektif memilih acara televisi. Akhirnya, aku banyak mengetahui info mengenai keadaan ekonomi indonesia; makro-mikro, situasi sosial politik baik di Indonesia maupun mancanegara. Lewat berita di televisi aku mengetahui kalau reshuffle kabinet yang dilakukan Perseiden SBY kemarin ditenggarai oleh kinerja menterinya yang katanya kurang bagus pun ada yang mengatakan karena adanya berbagai tekanan. Mama melarangku juga menonton sinetron, katanya sinetron Indonesia sekarang tidak mendidik. Mama lebih suka mengajakku menonton acara musik. Musik dapat menenangkan pikiran, membangkitkan semangat, kata mama.
Minggu yang lalu, sepulang kantor, mama mewajibkanku untuk mengikuti seminar “Mengatasi Keadaan Darurat: Petunjuk Pertolongan Pertama”. Sebenarnya aku kurang menyukai topik itu. Aku tidak terlalu interest dalam bidang tsb. Tapi demi mama, aku mengikutinya. Untung Cuma seminar setengah hari, tapi tetap “menyiksaku”. Untuk membunuh waktu, aku mencatat beberapa point penting bagaimana memberi pertolongan pertama pada orang yang terkena stroke.
“Tidak sadarkan diri. Pernafasan berat. Kelemahan yang secara nyata pada wajah atau lumpuh sebelah badan. Tidak mampu berbicara. Selimuti korban dengan selimut tipis. Jika muntah, putarlah kepala korban ke samping. Jangan berikan obat perangsang atau makanan dan minuman apapun. Segera bawa ke dokter atau panggil ambulans....”
Aku meletakkan penaku. “Om Wim, adik mama dua tahun yang lalu meninggal karena terserang stroke, dan saat itu tidak ada satupun dari keluarga yang dapat mengambil tindakan darurat yang menolong. Semuanya panik, yang berakhir pada melayangnya nyawa adik mama itu. Jadi kita tidak boleh membuat kesalahan kedua kalinya”, mama memberi penjelasan padaku sebelum aku sempat bertanya apa gunanya aku dipaksa ikut pada seminar itu.
Semalam, masih sepulang kantor, mama mengatakan padaku kalau besok sore aku harus ke dokter. Jus tomat dan dokter... bagiku setali tiga uang. Tidak kusukai. Si dokter yang suka berbaju putih itu pasti akan menuliskan sejumlah resep dan harus kuminum setiba dirumah. Dan lagi-lagi aku mengikuti perintah mama untuk meminum obat berbentuk kapsul itu. Tiga kali sehari. Hu...Menyebalkan!!! Sama menyebalkannya dengan dokter itu. Bajunya, always… selalu putih... tidak adakah baju yang berwarna lain di lemarinya ???. Mungkin dokter itu bukan anak yang berbakti pada mamanya. Harusnya ia mencontoh aku. Pakaianku pun ditentukan oleh Mama, seperti pakaianku waktu akan ke dokter. Mama menyuruhku memakai sweater, baju hangat. Udara dingin. Jadi aku harus membekap tubuhku. Tiba di tempat prakteknya, aku berniat mengerjai dokter itu, aku diam seribu bahasa ketika dia mau memeriksaku. Mama mengambil alih, menyuruhku berbicara. Aku masih malas untuk berbicara padanya, aku hanya bergeser sedikit. Dan aku seperti ingin menonjok mukanya, kalau tidak dilarang mama. Dia menyuntikku. “Auu!!!” aku terpekik. Tapi dia malah bertanya, “Tidak sakit kan ???...” ihhh.... si jelek berbaju putih itu tersenyum. Sepulang dari dokter, aku dan mama kelelahan dan kami tidur hingga keesokan paginya.
Hari ke 217
Aku kembali mengikuti rutinitas mama, sang pekerja keras. Pagi ini mama harus mengikuti meeting di sebuah hotel. Setelah itu mama harus menemani rombongan Mr. Frank, tamu asal Australia yang berkunjung di kantor mama untuk melihat kelayakan perusahaan mama sebagai kantor penghubung mereka. Kali ini aku sangat malas untuk ikut. Aku ingin pergi dan berkumpul dengan teman-temanku sendiri. Setidaknya kami dapat melakukan aktivitas bersama, shopping misalnya. Tapi mama sudah me-warning kalau dana belanja sesuatu yang tidak penting harus ditekan.
“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan” mama berkata seperti seorang dosen. Kuta tau mama pernah mempunyai kekasih seorang dosen, yang akhirnya berakhir karena dosen itu harus menikahi gadis pilihan orang tuanya. ST. Nurbaya sekali... tapi sudahlah... toh masa hubungan mereka juga sudah berakhir.
“Kamu harus rajin menabung, biaya yang akan kamu perlukan tidak sedikit, teman-temanmu juga belum pada datang....” mama melanjutkan.
“Iyalah mama, aku juga mengerti, tapi hari ini aku ingin beraktivitas sendiri, aku ingin menonton konsernya Peterpan. Aku ingin melihat dari dekat si Ariel Peterpan itu. Mama, please.... “ aku merengek.
“Hus.... di sana orang bejibun, panas dan bau. Orang-orang akan saling mendorong, saling sikut. Kamu bisa pingsan di sana”
“Mama sekali ini saja....”
“Tidak!, mama akan menggantinya dengan Konser Titi DJ di Plenary Hall JCC minggu depan”.
Aku terdiam. Yang ditawarkan mama barusan sepertinya lebih menjanjikan. Aku tak mau protes lagi, salah-salah mama bisa menarik kembali kebaikan hatinya. Terbayang Titi DJ salah satu penyanyi favoritku menyanyikan lagu “Bahasa Kalbu”. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya minggu depan.
“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan” mama berkata seperti seorang dosen. Kuta tau mama pernah mempunyai kekasih seorang dosen, yang akhirnya berakhir karena dosen itu harus menikahi gadis pilihan orang tuanya. ST. Nurbaya sekali... tapi sudahlah... toh masa hubungan mereka juga sudah berakhir.
“Kamu harus rajin menabung, biaya yang akan kamu perlukan tidak sedikit, teman-temanmu juga belum pada datang....” mama melanjutkan.
“Iyalah mama, aku juga mengerti, tapi hari ini aku ingin beraktivitas sendiri, aku ingin menonton konsernya Peterpan. Aku ingin melihat dari dekat si Ariel Peterpan itu. Mama, please.... “ aku merengek.
“Hus.... di sana orang bejibun, panas dan bau. Orang-orang akan saling mendorong, saling sikut. Kamu bisa pingsan di sana”
“Mama sekali ini saja....”
“Tidak!, mama akan menggantinya dengan Konser Titi DJ di Plenary Hall JCC minggu depan”.
Aku terdiam. Yang ditawarkan mama barusan sepertinya lebih menjanjikan. Aku tak mau protes lagi, salah-salah mama bisa menarik kembali kebaikan hatinya. Terbayang Titi DJ salah satu penyanyi favoritku menyanyikan lagu “Bahasa Kalbu”. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya minggu depan.
Mama menepati janjinya. Sebuah tiket Konser Titi DJ yang bertajuk Sang Dewi diperlihatkan padaku. VIP-E2, mama menunjukkan tempat kami menonton. Di tempat konser mama bertemu dengan beberapa orang temannya. Kulihat banyak di antara penonton itu adalah para “pekerja seni”. Beberapa diantaranya menyapa mama. Mereka juga menyapaku... “aduh sudah besar ya...” kata salah satu teman mama sambil mengelus kepalaku. Konser berlangsung. Konsep konser yang ditata apik berkombinasi cantik dengan iringan musik dan tata lampu. Tohpati berhasil menjadi Music Director yang memuaskan malam itu. Setidaknya begitu menurut penilaianku. Aku sangat menikmatinya. Juga mama. Kulihat mama sangat meresapi lagu Sang Dewi.
Hari ke 224
Hari ini aku dan mama memulai hari dengan jogging disekitar kompleks rumah kami. Kami tinggal di sebuah perumahan yang asri, teduh dan bersih. Setiap rumah tidak mempunyai pagar, hanya dibatasi oleh pepohonan dan bunga yang ditata dengan sangat cantik. Walaupun tak berpagar tapi rumah kami tetap aman, karena satpam yang berjaga di pintu barat dan timur di kompleks kami akan “menyaring” setiap tamu yang masuk.
Bumi “Persada Hijau” itu nama tempat tinggal kami. Sebuah perumahan yang nyaman. Bagaimana tidak nyaman bila harga yang harus penghuninya bayar dipatok mulai 1 M ke atas. Dan mamaku mampu membeli satu unit, dengan tipe yang harganya masih di atas harga yang dipatok itu. Mamaku punya banyak uang ???.... he...he... tidak juga. Eh...jangan salah, rumah itu adalah hadiah kakekku, papanya mama. Yang kutau kakekku bukan orang-orang pada umumnya. Orang menyebut kakekku dengan pengusaha sukses, mobilnya lebih dari empat, ku kira. Yang beliau kendarai sekarang adalah keluaran terbaru dari pabrik mobilnya Nissan. Warna merah, warna kesukaanku, kuharap suatu waktu kakek mewarisi mobil itu untukku, bukan untuk mama. But the way, kakekku bukan kakek tua yang sombong dan angkuh. Kakek sangat menyayangi mamaku. Juga aku.....mungkin.
Bumi “Persada Hijau” itu nama tempat tinggal kami. Sebuah perumahan yang nyaman. Bagaimana tidak nyaman bila harga yang harus penghuninya bayar dipatok mulai 1 M ke atas. Dan mamaku mampu membeli satu unit, dengan tipe yang harganya masih di atas harga yang dipatok itu. Mamaku punya banyak uang ???.... he...he... tidak juga. Eh...jangan salah, rumah itu adalah hadiah kakekku, papanya mama. Yang kutau kakekku bukan orang-orang pada umumnya. Orang menyebut kakekku dengan pengusaha sukses, mobilnya lebih dari empat, ku kira. Yang beliau kendarai sekarang adalah keluaran terbaru dari pabrik mobilnya Nissan. Warna merah, warna kesukaanku, kuharap suatu waktu kakek mewarisi mobil itu untukku, bukan untuk mama. But the way, kakekku bukan kakek tua yang sombong dan angkuh. Kakek sangat menyayangi mamaku. Juga aku.....mungkin.
Kata mama, hari ini kami harus menghadiri seminar di Balai Kartini, Sulawesi Expo. Mama menjelaskan kalau Pulau Sulawesi itu kaya dengan hasil bumi. Perusahaan mama tertarik untuk menjadi investor di salah satu Propinsi di Sulawesi, mungkin di Sulawesi Tenggara, di Pulau Buton. Salah satu penghasil aspal di Indonesia. Oleh perusahaannya mama ditugaskan untuk mencari informasi yang lebih mendetail tentang pulau itu. Terutama tentang potensi aspalnya.
Aku agak rewel hari ini. Gubernur Gorontalo, yang kata mama dulu pernah menjadi menteri, masih mempresentasikan komoditi jagung-nya yang menjadi andalan mereka. Tapi aku haus, aku ingin menyantap es cream cokelat bertabur kacang mete. Mama memintaku tenang, tapi aku membandel. Ku tau mama ingin sekali menghardikku, tapi mama pasti malu mengeluarkan suara keras ditengah para peserta seminar. Aku memanfaatkan kesempatan itu. Aku terus merengek dan meminta. Mama mengalah dan keluar dari ruang seminar. Mama duduk di kursi yang empuk. Diteleponnya Kasmir, sopirnya yang menunggu di luar gedung. Kudengar mama menyuruh Kasmir membeli es cream cokelat bertabur kacang mete. “Kasmir, ingat es cream yang cokelat yang ada kacang metenya..... beli dua kotak”. “Sabar... Kasmir baru pergi membelikan es cream-mu” mama menjewer kupingku. Tapi dengan penuh kasih sayang.
Dua hari kemudian, sepulang dari menghadiri sebuah pertemuan, kudapati mama sibuk menekan beberapa nomor di hpnya. Nada sambung terdengar, sebuah suara berat menyusul. Aku kurang bisa menangkap apa yang mereka obrolkan, mama berbicara dengan bahasa spanyol. Aku belum belum begitu tahu bahasa spanyol, karena mama belum mengajariku. Kalau bahasa inggris, ya... aku sudah biasa bercakap-cakap dengan mama dengan menggunakan bahasa yang banyak yes or no-nya itu. Mungkin mama sengaja, mama tidak mau aku menguping pembicaraan mereka. Aku juga tidak ambil pusing. Itu urusan mama dengan orang bersuara berat itu. “Brengsek.....” akhirnya mama “pulang” dari Spanyol, mama mengucapkan kata itu dengan ekspresi marah yang tidak bisa disembunyikan. Aku yang sedari tadi diam menenangkan mama. “Mama..... ada apa ???” tanyaku seolah akulah yang menjadi mama. Mama tidak menjawab, tapi wajah kecut mama membuatku menjadi turut tidak nyaman. Aku tidak bertanya lagi.
Pukul 11.30 malam. Aku mengantuk. Tapi kulihat mama mendandani dirinya di depan meja rias. Parfum keluar Dior terbaru-Dior Addict- berwarna pink yang baru dibelinya kemarin disemprotkan di seluruh badannya. Mmmmm wangi, mengantukku hilang.
“Mama mau kemana ?”
“Mau mencari udara segar, capek mama seharian di kantor”
“Ya... tapi mama....” aku mulai memelas.
“Jangan banyak tingkah, mama perlu menyantaikan diri” mama berkata ketus. Kudengar mama memanggil Kasmir, menyuruhnya menyiapkan mobil. Berarti mama mau menyetir sendiri mobilnya.
“Mama, besok saja mama keluar...” kataku
“Besok, masalah lain yang mama harus hadapi....,” mama menyapukan Dior Addict Gloss pada bibirnya. Dan menyapukan Mascara pada bulu matanya, lalu dijepit. Bulu mata mama menjadi lebih lentik. Mama lalu mengganti bajunya dengan baju terusan berwarna cokelat keluaran Mango. Jaket hitam keluaran Esprit di raihnya juga. Mama berdiri dan mengambil salah satu koleksi tasnya. Tas warna kuning berpadu hijau buatan Celine dipilihnya. Mama kemudian memasang jam tangan Coccinelle yang berwarna senada dengan bajunya, terakhir memakai sepatu model flats, Petty Fit tertukis di alas sepatu itu.
Mama siap berangkat. Aku mengamati penampilan mama. Aku teringat kata-kata mama: “Bedakan antara kebutuhan dan keinginan”. “Kamu harus rajin menabung, biaya yang akan kamu perlukan tidak sedikit...” Mama tidak adil, aku protes namun tak bersuara. Apakah semua barang-barang milik mama itu adalah sebuah kebutuhan ??? bukan keinginan mama yang diwujudkannya sebagai kebutuhan ??? Mama menyuruhku rajin menabung, sementara semua barang yang dimilikinya rata-rata berharga tinggi. “Tidak usah mengomel begitu.... mama mendapat dana cukup dari kakekmu”, mama menebak protesku.
“Aku tak mau ikut” kataku sambil cemberut.
“Rani, aku menjemputmu setengah jam lagi, awas aku tidak mau menunggumu berdandan oke”, mama menelepon Rani, sahabatnya.
“Mama, aku tidak mau ikut” kuulangi lagi protesku. Lalu mama hanya berkata “ayo” tapi dengan tegas. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi.
Malam itu mama membawa mobilnya pada sebuah cafe. Memasuki ruang cafe aku mulai terbatuk-batuk. Banyak asap rokok. Mama dan Rani menyapa dan disapa oleh beberapa orang yang mereka kenal. Dandanannya rata-rata hampir sama. Kami mengambil tempat disudut, kulihat Rani memesan beberapa makanan dan minuman.
Mama mulai mengobrol bersama Rani. Mama tidak menghiraukan aku. Beberapa pasang mata melihatku. Dan... ya ampun, mama merokok.... “Mama !!!!” aku berkata keras. Tapi tidak diacuhkan oleh mama. Suara musik yang keras membuat mama tidak mendengarkan suaraku. Pesanan mereka datang. Aku berteriak histeris..... mama memesan minuman berkadar alkohol tinggi. Percuma mengingatkan mama. Mama tidak akan mendengarnya. “Teganya mama.....” aku berguman sedih.
Malam itu mama pulang dengan keadaan mabuk. Parmi si tukang masak mama memboyong mama ke kamarnya di lantai dua. Aku mengikut pasrah. Mama tertidur pulas dalam mabuknya.
Hari ke 231
Sudah seminggu ini mama seolah tidak menghiraukanku. Makananku tidak diperhatikannya lagi. Semua makanan yang harus dan pantang sesuai pentunjuk dokter si berbaju putih itu dilanggarnya. Tadi malam jam 10 malam, mama malah mandi dibawah air yang sangat dingin. Juga memandikanku. Padahal di luar hujan turun dengan lebatnya, aku semakin kedinginan.
Kebiasaan mama merokok kambuh lagi. Seperti rel kereta api. Putus sambung-putus sambung. Aku sudah terbatuk-batuk karenanya. Tadi pagi, mama sarapan dengan setengah potong roti kering sisa semalam. Dan aku juga ikut memakannya. Cuma itu yang mama berikan untukku sepanjang pagi hingga siang. Di kantor mama memaksaku meminum kopi pahit. Ih..... mulutku jadi cokelat. Jus tomat-dokter-kopi pahit, semakin menambah perbendaharaan barang-barang yang menyebalkanku. Sorenya aku berpikir mama akan membelikan kentang goreng kesukaanku. Ternyata tidak. Mama masih menganggapku kenyang dengan sepotong roti kering itu.
Hingga jam 10 malam, mama masih belum memberiku makanan lagi. Parti pun tidak bergerak bila tidak ada perintah mama, begitu juga dengan Kasmir. Aku lapar.... tapi apa ???? mama justru meraih sebatang rokoknya lagi.
“Haaa......!!!!!!!.” aku berteriak keras. Alkohol, dibiarkan lapar, asap rokok, mandi malam, kurang tidur....semua itu membuatku kepayahan.... Aku sudah tidak tahan. Aku mengutuk orang yang bersuara berat, di mana mama berbahasa spanyol dengannya. Pasti....pasti dia penyebab semua ini. “Siapa gerangan dia????” Aku berontak.... marah.... aku mau keluar !!!!! kutendang perut mama berkali-kali dengan sekuat tenaga. Aku membolak-balikkan badan sambil meninju-ninju perut mama. Mama memekik kesakitan dan memegang perutnya yang semakin membuncit. Tendangan dan tinjuku dari dalam perut mama membuat perut mama berkontraksi. Mama sekuat tenaga menahan sakit dan memanggil Parti. Parti terkejut bukan kepalang, dikiranya mama mau melahirkan. Aduh !!!!! mama berteriak sangat keras, menahan sakitnya yang kutimbulkan dari dalam perutnya. Mama terjerembab di lantai, tapi aku masih baik-baik saja, toh cairan ketuban melindungiku dari goncangan.
Tiba-tiba aku merasa kasihan pada mama, seharusnya aku tidak berbuat seperti itu pada mama. Aku terenyuh.... aku berhenti menendang dan meninju dari dalam perut mama. Mama kini berbaring tenang di tempat tidurnya. Aku memaki diriku sendiri. Sudah tujuh bulan lebih tujuh hari aku berada dalam rahim mama seharusnya aku lebih bersabar menunggu waktu sembilan bulan sepuluh hari, waktuku untuk melihat dunia. Tinggal 49 hari lagi...
Kurasakan mama membelaiku dengan kasih sayang.... lalu aku meminum susu hangat yang dibuatkan Parti untuk mama, lewat tali pusar yang berhubungan dengan “rumah”ku di perut mama tentunya. Aku menjadi lebih segar, apalagi mama melahap sepiring nasi berlauk ikan dan telur ditambah semangkuk sayur hangat. Nyam...nyam....sedap....mamamia....aku langsung mengisap sari-sarinya yang dikirimkan mama padaku. Aku menjadi lebih bersemangat....bersemangat untuk bertahan 49 hari lagi diperut mama. Setelah itu aku dan mama akan menemui lelaki bersuara berat itu di mana mama berbahasa spanyol dengannya. Dan kami: aku dan mama akan meminta pertanggungjawabannya layaknya seorang laki-laki sejati........
No comments:
Post a Comment